Senin, 11 Desember 2017

AKHLAK ADALAH CERMINAN HATI.



(KALAU INGIN TAHU BAGAIMANA KEADAAN HATI SESEORANG MAKA LIHATLAH PADA AKHLAKNYA).


“Hidup Tanpa Akhlak dan Budi Pekerti yang baik,Maka ibadah kita akan sia-sia belaka,”

Akhlak Adalah Cerminan Hati,

Maka jika Baik Akhlak nya maka Akan Baik Pula Hatinya…

Tapi bila Buruk Akhlak Nya Niscaya Buruk pulalah Hatinya …

Akhlak Dapat Diibaratkan sebagai Atap..Setinggi Apapun Ilmu Seseorang Jika Ia Tidak Memiliki Akhlak Niscaya Tetap Ia Belum Termasuk Orang Yang Dimuliakan Allah.

Didalam Al Qur’an Allah Berfirman…

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ اْلآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا

“Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah.”
Syekh As Sa’dy Pernah Berkata,,Sesungguhnya Barang Siapa Yang Mencontohi Kehidupan Rasulullah Saw Sungguh dia telah menempuh jalan yang akan menyampaikan kepada Kemuliaan yang ada di sisi Allah.Itulah “Jalan Yang Lurus”…
Sebagaimana Sabda Nabi Saw…
INNAMA BU’ITSTU LI UTAMMIMA MAKAARIMAL AKHLAQ “sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan Akhlak (budi pekerti)”.

Sesungguhnya antara Akhlak dengan ‘Aqidah terdapat hubungan yang sangat kuat sekali. Karena Akhlak yang baik sebagai bukti dari Keimanan,dan akhlak yang buruk sebagai bukti atas lemahnya iman,semakin sempurna akhlak Seseorang berarti semakin kuat imannya.

Salah Satu Akhlak RASULULLAH SAW Yang Kini Telah Menghilang Pada Diri Umat Manusia (Islam) Adalah KASIH SAYANG,Sifat kasih sayang kepada sesama.

Pada Zaman Sekarang Ini,Sangat Langka Orang yang berhias dengan sifat tersebut,Padahal Sifat Rasulullah ini telah diceritakan oleh Allah di dalam Al-Qur’an…
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُول مِنْ أَنْفُسكُمْ عَزِيز عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيص عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوف رَحِيم

“Sesungguhnya Telah Datang kepadamu Seorang Rasul dari Kaummu Sendiri,berat terasa olehnya penderitaanmu,sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan)bagimu,amat belas kasihan lagi Penyayang bagi Orang Orang Mukmin”.
Dalam Sebuah Riwayat,Rasulullah Saw Bersabda,,

“Bukan termasuk dari kami orang yang tidak menyayangi yang kecil dan menghormati yang besar.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi dari shahabat Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash).

Intinya Jika Seseorang Hidup Tanpa Memiliki Akhlak Maka Mustahil Lisan dan Hatinya akan Bijak.
Dan Apabila Seseorang Menjalani Hidup didunia Ini Tanpa Berkasih Sayang Sesama, Sungguh Pengakuannya Sebagai Umat Baginda Muhammad Saw Hanyalah DUSTA SEMATA MATA.

Ketahuilah,Tidak Akan Tercipta Kedamaian,Kemakmuran,dan Ketentraman dalam Sebuah Negeri Apabila PENGHUNINYA SALING HINA DAN CACI,saling MUSUH MEMUSUHI,DAN SALING BENCI MEMBENCI.
“KEDAMAIAN, KETENTRAMAN,DAN KEMAKMURAN ITU AKAN TERCIPTA JIKA UMAT HIDUP DENGAN SALING MENGHORMATI DAN SALING MENYAYANGI…..”
HIDUP DALAM BINGKAI KASIH SAYANG, INSYAALLAH NEGERI KITA AKAN MENDAPATKAN KEBERKAHAN
DAN TUMBUH KETAQWAAN PADA UMAT MAKA BERBUAH LAH KEMENANGAN.

WALLAHU’ALAM…

Selasa, 24 Oktober 2017

Penjelasan singkat seruan Wahhabi "KEMBALI KEPADA AL-QUR'AN DAN SUNNAH"



Dibalik Slogan "kembali kepada Alqur'an dan assunnah" menjauhkan umat dari Ulama.

Anda mungkin sering mendengar kata-kata seperti "Imam madzhab itu hanya manusia biasa yang banyak khilafnya", kemudian anda di nasehati untuk kembali ke Al-Qur’an dan Hadist, sekilas nasehat tersebut sangat baik, tentu saja baik karena kita dianjurkan untuk menjadikan al-qur’an dan sunnah sebagai pedoman hidup.

Tapi kalau direnung lebih dalam kita juga wajib bertanya, apakah semua orang diberi kebebasan untuk menafsirkan al-Qur’an? Kalau anda ada persoalan kemudian buka al-Qur’an dan Hadist kemudian memahami sendiri? Lalu dimana anda mau letakkan pendapat para ulama yang telah menyusun tafsir dan penjelasan lengkap selama 1400 tahun?

Ciri khas aliran ini yang muncul 100 tahun lalu di tanah arab tidak lain menjauhkan ummat dengan Ulama dengan berbagai cara, mulai dengan menghancurkan kuburan ulama dengan dalil syirik, melarang menghormati ulama dengan alasan dalam ajaran Islam dilarang mengkultuskan manusia, termasuk slogan di atas, “Kembali ke al-Qur’an dan Hadist” dengan slogan itu ummat tidak lagi perlu bertanya ke ulama, setiap manusia diberi kedudukan yang sama di hadapan Allah termasuk dalam menafsirkan al-Qur’an.

Slogan ini kemudian melahirkan orang-orang yang “sok tahu” tentang al-qur’an, kemudian dengan mudah menvonis orang dengan ayat-ayat yang dipahami dengan keterbatasan ilmunya. Mungkin sudah sering kita melihat jenis ulama gadungan, baru rajin shalat 3 bulan dan membaca al-Qur’an terjemahan, kemudian dengan mudah mengeluarkan “fatwa”, yang ini sesat, ini bid’ah, ini tidak sesuai dengan al-Qur’an dan Hadist dst.

Lahirnya orang-orang yang dangkal memahami agama ini memang dirancang oleh kelompok tertentu, saya tidak berani menuduh mereka Yahudi atau orientalis, anda bisa menyebut mereka dengan sebutan yang anda sukai, dengan tujuan agar ummat ini mudah di ombang ambing seperti buih di lautan. Terputusnya ummat dengan Ulama Pewaris Nabi akan mudah bagi mereka kemudian menyodorkan ulama versi mereka, andai pun memahami al-Qur’an hanya sebatas tekstual, yang tertulis semata.

Selama 100 tahun ummat Islam telah berhasil di perdaya, coba anda lihat hasilnya, ayat-ayat tentang jihad dimaknai apa adanya, maka lahirnya al-Qaida, kemudian ISIS dan lain-lain, diantara sesama muslim jadi saling mencurigai, ini hasil unggul produk “Kembali ke al-Qur’an dan Hadist” yang di dengungkan 100 tahun lalu, slogan yang tidak pernah ada sebelumnya.

Tulisan ini tolong dipahami dengan kepala dingin, saya tidak sedang mengkritik al-Qur’an dan Sunnah dan tidak pula melarang orang berpedoman kepada keduanya, yang saya kritik adalah cara orang memahami keduanya, memahami tanpa dengan bimbingan. Menafsirkan al-Qur’an dengan akal pikiran akan membuat manusia tersesat, Nabi memberikan nasehat :
“Barang siapa yang menafsirkan al-Qur’an menurut pendapatnya sendiri, hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya dari api neraka” (HR. Muslim)

Dari awal Nabi sudah khawatir akan muncul suatu generasi yang dengan sekehendak hatinya menafsirkan ayat al-Qur’an. Siapa yang paling paham dengan firman Allah? Tentu saja Nabi dan siapa orang paling paham dengan Nabi? Tentu sahabat, dan siapa yang paling paham dengan sahabat? Tentu saja orang yang pernah hidup dengan sahabat Nabi, hubungan berantai itu yang menyebabkan Islam lestari hingga hari ini.

Paham yang di usung 100 tahun lalu tersebut kemudian menafikan mazhab, dengan alasan karena mazhab ummat ini terpecah, kemudian dengan alasan ini pula slogan “Kembali ke al-Qur’an dan Sunnah” terasa sangat masuk akal, akhirnya seluruh orang dengan gaya masing-masing mengartikan al-Qur’an menurut akal & pikirannya sendiri, hasilnya: TERSESAT!.

Pemikiran paham yang muncul 100 tahun lalu tersebut memang rancu, satu sisi anda di suruh mengikuti al-Qur’an dan Sunnah, mengikuti ulama salaf, tapi sisi lain anda dilarang mengikuti mazhab, bukankah Imam Mazhab tersebut termasuk ulama salaf?

Imam Mazhab menurut saya ibarat ahli masak, Koki terkenal yang mempunyai resep masak, kemudian resep itu diwariskan dan dipakai sekian lama dan terbukti memang sangat enak. Ibarat masak kambing, ada berbagai jenis seperti: kari, rendang, sop dan sate, ke empat jenis ini mempunyai keungulan dan kelemahan masing-masing, silahkan anda mengikuti menurut kebutuhan masing-masing. Bagi sebagian orang kari kambing adalah makanan yang sangat cocok untuk mereka, bahan-bahan pendukung seperti kelapa dan rempah-rempah kebetulan banyak di daerahnya, sebagian yang tinggal didaerah tanpa buah kelapa, sate atau sop adalah pilihan paling bagus. Semua jenis masakan berdasarkan resep warisan koki terkenal tersebut sangat baik, karena telah diteliti oleh mereka.

Kemudian muncul satu golongan (100 tahun lalu) yang menolak bahkan membuang resep-resep bagus ahli masak yang telah terbukti selama 1000 tahun ampuh dan hebat, mereka membuang semua resep, bagi mereka gara-gara resep masakan kita jadi tidak kompak, semua orang harus kembali ke alamiah, tidak perlu bumbu-bumbu, itu semua bid’ah. Akhirnya orang disuruh makan daging mentah, hasilnya: hambar dan sakit perut!



Cara terbaik agar kita selalu mendapat bimbingan dari Allah Swt adalah berguru kepada orang yang mempunyai hubungan baik dan dekat dengan Allah, orang-orang yang memahami firman Allah dengan hati yang disinari oleh cahaya-Nya. Menutup tulisan ini saya kutip firman Allah dalam surat an-Nahl 43 :
“…Bertanyalah kepada Ahli Zikir (Ulama) jika kamu tidak mengetahui” [An Nahl 43]

Semoga Allah Swt melimpahkan taufik & hidayah NYA kepada kita semua.
. . Amiinn Allahuma aamiin


* Baca artikel lainnya dengan klik "home"

Senin, 09 Oktober 2017

BERJALAN KEPADA ALLAH SWT HARUS DENGAN BIMBINGAN MURSYID

KEWAJIBAN MENCARI MURSYID



Bersabda Rasulullah Saw:
كن مع الله فان لم تكن مع الله فكن مع من مع الله فانه يوصلك الى الله. ” ( HR. Abu daud )

“Jadilah(Ruhani)kalian Bersama Allah,Jika (ruhani)Kalian Belum Bisa Bersama Allah,Maka Jadilah Kalian Bersama Dengan Orang Yang (ruhaninya)telah Bersama ALLAH, Sesungguhnya Mereka Akan mengantarkan(Ruhani)kalian Kepada Allah.” ‎

Dan lagi Firman Allah..

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا
“Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah,Maka Dialah yang mendapat mursyid(guru pembimbing Ruhani)dan Barang siapa yang disesatkan Nya,Maka kamu tidak akan mendapatkan seorang Pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya”.

Dari pemahaman hadist dan Ayat Diatas ,Sesungguhnya Wajib Bagi Kita (Umat Islam) yang ingin Mendapatkan Keselamatan Dunia dan Akhirat Untuk mencari Mursyid atau Guru pembimbing Ruhani yang mampu Membimbing,Menuntun dan menghantarkan kita wusul/makrifat/mengenal Allah Dengan Sebenar-benarnya.

Walaupun Pada Zaman sekarang ini Sangat sulit dijumpai guru pembimbing mursyid kamil sejati,Namun Jangan Berputus asa Karena Allah tetap akan menyiapkan(MURSYID)sampai hari kiamat,walaupun kwalitasnya dibawah Guru mursyid terdahulu. Tergantung kita saja mau atau tidak mau mencarinya, kalau kita benar-benar merasa membutuhkan dokter untuk mengobati hati kita maka Allah akan menunjuki jalan kepadanya,namun terkadang rasa egoisme kitalah yang sering menutupi jalan kita sendiri,merasa sudah ‘Alim syariatnya,pintar,padahal hati kita masih gelap Gulita.

Didalam Kitab Kitab Tashawuf Seperti Iqa dzulhimam, Fushus Al Hikam, Masykatul Al Anwar, Sirrul Mashun Bih ‘Ala ghairi Ahlih dan Kitab Kitab Tashawuf lainnya Banyak Dituliskan Akan Ciri-ciri Mursyid Yang Dapat Membimbing Ruhani Kita Menuju Kehadhirat Allah SWT.Pada Kesempatan Kali Ini,Kami Hanya akan Menyebutkan Beberapa Ciri Ciri SYEKH ATAU MURSYID Yang Kamil Mukammil yang kami Ambil dari beberapa Kitab Tashawuf… InsyaAllah Jika Allah Mengizinkan Pada lain Kesempatan Akan Kita Uraikan Bersama Penjelasan dari Ciri Ciri tersebut…

PERTAMA “Luas ilmu dan amalnya” Artinya Ia menguasai Ilmu Syariat dan Thariqat,Dan Mengamalkan Kedua Ilmu Tersebut.

KEDUA “Sudah Selesai mendidik nafsu dirinya”Artinya Ia Sudah Mampu Mengislamkan Nafsunya.

KETIGA “Dikuatkan dengan cahaya bashirah”Ketajaman Mata Hatinya Yang Sudah Menembus Alam Ghaib.

KEEMPAT “HIDUP BERKASIH SAYANG”

KELIMA “BERAKHLAK MULIA”

KEENAM”ZUHUD TERHADAP DUNIA”

Jika Kita Telah Menemukan Orang Yang Berciri ciri Seperti Yang disebutkan diatas…Maka Bersyukurlah Kpda Allah Karena Kita Telah Dipertemukan Dengan GURU MURSYID YANG KAMIL.

Dalam Sebuah Riwayat Yang Dikutip Dari Kitap “Kasyfu Al Hijab Wal Asrar”

Syaikh ‘Izzuddin bin ‘Abdusalam semula mengikuti pendapat ahli fiqih dan mengingkari kaum Sufi, kecuali setelah beliau mengikuti perjalanan tashawwuf Syaikh Abu Hasan asy Syadzili dan menghadiri majelis beliau.Berkata Imam Al Suyuthi dalam risalah beliau Tanbih al Ghaby fi Tabriati Ibnu ‘Arabi :”Syaikh ‘Izzuddin pada awalnya hanya mengikuti pandangah fiqh dan segera mengingkari ajaran Sufi Kemudian ketika Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili pulang dari Haji,beliau mendatangi Syaikh ‘Izzuddin kemudian menyampaikan salam dari Nabi Saw untuknya,Sejak saat itu, Syaikh ‘Izzuddin menjadi lunak lalu mengikuti majelis Asy-Syadzili. Sejak saat itu pula, beliau selalu memuji muji kaum sufi setelah memahami metode mereka dengan sebenar-benarnya.


Padahal,Betapa banyak pernyataan-pernyataan Syaikh ‘Izzuddin pada awalnya menunjukkan pengingkaran beliau kepada al Qutb. Namun siapa sangka Al-Haq Mempertemukan Asy Syaikh dengan Imam Thariqat yang membawa amanah dari Sayyidina Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam, yang kemudian dengan sebab itu sadarlah pengertian Asy Syaikh tentang sebuah HAKIKAT.
INSYA ALLAH,JIKA KITA ISTIQAMAH DALAM MENGIKUTI DAN TERUS BERAMAL SESUAI YANG DIAJARKAN MURSYID KITA,INSYAALLAH PINTU HIDAYAH AKAN ALLAH BUKAKAN UNTUK KITA SEPERTI DIBUKANYA PINTU HIDAYAH KPEDA SYEKH ‘IZZUDDIN DAHULU….

Amin Yarabbal’alamin…
Wallahu’alam….

* baca juga artikel lainnya dengan klik "home"

Rabu, 27 September 2017

NASEHAT RASULULLAH SAW KEPADA KAUM PEREMPUAN

10 Nasihat Nabi Muhammad SAW Kepada Fatimah Dan Untuk Seluruh Wanita.


Diriwayatkan Dari Abu Hurairah Ra.
"Bahwasanya Pada Satu Hari Rasulullah SAW. Datang Ke Rumah Putrinya Fatimah Az Zahra R.A, Beliau Melihat Fatimah Sedang Menumbuk Gandum Diatas Gilingan Dengan Menangis".


Maka Rasulullah SAW, Bertanya Kepadanya:

"Apa Sebabnya Menangis Wahai Fatimah? Semoga Allah Tidak Menangiskan Matamu! ".


Fatimah Menjawab:

"Wahai Ayahku, Yang Menyebabkan Aku Menangis Adalah Batu Gilingan Ini Dan Kesibukan Kerja Rumah".


Maka Duduklah Rasulullah Memghampiri Fatimah. Lalu Fatimah Berkata:

"Ayahanda, Dengan Kemulianmu Dan Dengan Segala Kerendehan Hati Berkenan Kiranya Ayahanda Memerintahkan Kepada Ali Bin Abu Thalib Untuk Membantu Membelikan Seorang Pembantu Buatku, Sehingga Dapat Membantu Diriku Menggiling Gandum Serta Memyelesaikan Pekerjaan Di Rumah".


Setelah Rasulullah SAW. Mendengar Penuturan Fatimah, Beliau Terus Bangkit Menuju Gilingan Dan Memgambil Sedikit Gandum Dengan Tangannya, Lalu Meletakkan Tangan Diatas Gilingan, Seraya Membaca:

"بسم الله الرحمن الرحيم.

Seketika Itu Gilingan Berputar Sendiri Atas Izin Allah, Lalu Beliau Mengambil Gandum Yang Sudah Tergiling Dengan Tangannya, Sedangkan Gilingan Masih Terus Berputar. Beliau Mengambil Gamdum Sambil Membaca Tasbih Hingga Selesai Menggiling Gandum.


Kemudian Rasulullah SAW, Berkata Kepada Gilingan Gandum Itu:

"Berhentilah Dengan Izin Allah!. Gilingan Itu Pun Berhenti Seketika.


Dan Dengan  Izin Allah, Gilingan Tersebut Berbicara Dengan Ucapan Yang Fasih Dalam Bahasa Arab:

Ya Rasulullah, Demi Zat Yang Mengurus Engkau Menjadi Nabi Dan Rasul Pembawa Kebeneran. Andaikata Engkau Menyuruhku Menggiling Gandum Di Tanah Timur Dan Barat, Tentu Aku Menggiling Seluruhnya. Dan Sungguhnya Aku Mendengar Keterangan Didalam Kitab Allah:

يَا أَيّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودهَا النَّاس وَالْحِجَارَة عَلَيْهَا مَلَائِكَةغِلَاظشِدَاد لَا يَعْصُونَ اللَّه .مَا أَمَرَهُم وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ .


Artinya: Hai Orang-Orang Yang Beriman , Peliharalah Diri Dan Keluargamu Dari Api Neraka Yang Bahan Bakarnya Adalah Manusia Dan Batu, Penjaganya Malaikat- Malaikat Yang Kasar, Yang Keras, Yang Tidak Mendurhakai Allah Terhadap Apa Yang Di Perintahkan-Nya Kepada Mereka Dan Selalu Mengerjakan Apa Yang Diperintahnya (At-Tahrim : 6).


Jadi Aku Merasa Takut Kalau Aku Ini Termasuk Batu Yang Masuk Neraka!.


Maka Rasulullah SAW Bersabda:

Bergembiralah Kamu, Karena Kamu Termasuk Batu Gandum Fatimah Di Syurga". Ketika Itu Batu Itu Merasa Gembira Dan Berhenti.


Kemudian Nabi Muhammad SAW, Bersabda Kepada Putrinya Yaitu Fatimah:

Wahai Fatimah, Andaikata Allah Menghendaki, Maka Gilingan Itu Pasti Menggiling Sendiri. Tetapi Allah Menetapkan Amal Kebaikan-Mu, Melebur Kejelekanmu, Dan Meninggikan Derajatmu".

Lalu Beliau Melanjuti Menasehati Fatimah:



1. Wahai Fatimah, Wanita Yang Membuat Tepung Untuk Suami Dan Anak-Anaknya, Allah Pasti Menetapkan Kebaikan Baginya Dari  Setiap Biji Gandum, Melebur Kejelekan Dan Meningkatkan Derajat Wanita Itu.


2. Wahai Fatimah, Wanita Yang Berkeringat Ketika Menumbuk Tepung Untuk Suaminya, Niscaya Allah Menjadikan Antara Dirinya Dan Neraka Tujuh Tabir Lobang.


3. Wahai Fatimah,  Seorang Yang Meminyak Rambut Anak-Anaknya Lalu Menyisirnya, Dan Mencuci Pakaiannya, Allah Akan Menetapkan Pahala Baginya Seperti Pahala Memberikan Makanan Kepada Seribu Orang Yang Kelaparan Dan Memberi Pakian Seribu Orang Yang Telanjang.


4. Wahai Fatimah,  Wanita Yang Menahan Kebutuhan Tetangganya, Allah Menahannya Dari Meminum Telaga Kautsar Pada Hari Kiamat.


5. Wahai Fatimah, Yang Lebih Utama Dari Seluruh Keutamaan Di Atas Adalah Keridhaan Suami Terhadap Istri. Andaikan Suamimu Tidak Ridha Kepadamu, Maka Aku Tidak Akan Mendoakanmu. Ketahuilah Wahai Fatimah, Murka Suami Adalah Murka Allah Juga.


6. Wahai Fatimah, Apabila Wanita Itu Mengandung Anaknya Di Perutnya, Maka Para Malaikat Memohonkan Ampun Baginya.


Dan Allah Menetapkan Baginya Setiap Hari Seribu Kebaikan, Dan Melebur Seribu Kejelekannya.


Dan Ketika Wanita Itu Merasa Sakit Akan Melahirkan Maka Allah Menetapkan Pahala Baginya Seperti Pahala Para Pejuang Di Jalan Allah.


Jika Ia Melahirkan Kandungannya Maka Keluarlah Dosa-Dosanya Seperti Ketika Baru Dilahirkan Oleh Ibunya Dan Tidak Keluar Dari Dunia Dengan Membawa Sesuatu Dosa Apapun, Di Kuburnya Akan Mendapatkan Taman Dari Taman Surga.


Allah Memberikan Padanya Pahala Seribu Ibadah Haji Dan Umrah,  Dan Seribu Malaikat Memohon-Kan Ampunan Kepadanya Sampai Hari Kiamat.


7. Wahai Fatimah, Wanita Yang Melayani Suaminya Sehari Semalam Dengan Rasa Senang Dan Ikhlas Serta Niat Yang Benar.

Allah Mengampuni Dosa-Dosanya Dan Memakaikan Pakaian Padanya Di Hari Kiamat Berupa Pakaian Yang Hijau-Hijau.


Dan Menetapkan Baginya Setiap Rambut Pada Tubuhnya Seribu Kebaikan, Dan Allah Memeberikan Kepadanya Pahala Seratus Kali Ibadah Haji Dan Umrah.


8. Wahai Fatimah, Wanita Yang Tersenyum Di Hadapan Suaminya, Allah Memandangnya Dengan Pandangan Kasih Sayang.


9. Wahai Fatimah, Wanita Yang Membentangkan Alas Tidur Untuk Suami Dengan Senang Hati, Malaikat Yang Memanggilnya Dari Langit Menyeru Wanita Itu Untuk Menyaksikan Pahala Amalnya, Dan Allah Mengampuni Dosa-Dosanya Yang Telah Lalu Dan Yang Akan Datang.


10. Wahai Fatimah, Wanita Yang Meminyaki Kepala Suaminya Dan Jenggotnya Serta Mencukur Kumisnya Dan Memotong Kukunya, Allah Memberikan Minuman Kepadanya Dari Arak Yang Dikemas Indah Yang Di Datangkan Dari Sungai-Sungai Surga.


Allah Mempermudah Sakaratul Mautnya, Dan Kuburnya Dihiasi Dengan Taman Dari Taman Surga, Dan Allah Menetapkan Baginya Bebas Dari Neraka Serta Dapat Melintasi Ash-Shirat.


Referensi: Syarih ‘Uqudu Al-Lijin. Halaman 64-68.

Selasa, 29 Agustus 2017

TIDAK ADA KEMERDEKAAN DAN PRESIDEN SOEKARNO DI  INDONESIA TANPA FATWA TEUNGKU SHEIK ABU HASAN KRUENG KALEE DAN ABUYA MUDA WALY

#TOLAK LUPA

Abuya Muhammad Waly Al Khalidy,
Pada tanggal 14 Oktober 1957 diundang oleh presiden pertama RI Soekarno ke Istana Cipanas, Abuya Syeikh Muda Waly Al-Khalidy di undang bersama dengan Abu Muhammad Hasan Krueng Kalee, serta beberapa ulama lain dari seluruh Indonesia sekitar 500 orang untuk membicarakan status Negara RI dan presidennya dalam tinjauan agama Islam, apakah sah atau tidak.

Berangkatlah ulama-ulama Aceh ini melalui bandara Polonia Medan. Dalam perjalanan itu Tgk Syihabuddin Syah atau Tgk Keumala juga ikut mengantarkan Abuya sampai ke bandara.

Setiba Abuya di Jakarta, beliau bertemu tokoh-tokoh ulama dari daerah lain di antaranya Sumatera, Jawa, dan daerah-daerah lain seluruh Indonesia. Setelah para ulama-ulama ini berkumpul di istana Negara, Presiden mengucapkan selamat datang dan menyampaikan maksud dan tujuan undangannya.

Presiden berkata: "Saya meminta kepada para ulama yang hadir untuk merumuskan nama keberadaan dan kedudukan saya sebagai Presiden RI."

Setiap Ulama dari berbagai perwakilan menyampaikan sikap dan pandangan mereka. Ulama Masyumi dan Muhammadiyah secara tegas menolak keabsahan Soekarno sebagai presiden yang sah dalam tinjauan Islam karena tidak diangkat oleh Ahlul Halli Wal 'Aqdi (Suatu lembaga yang bertugas memilih, mengangkat, dan mengawasi khalifah/ pemimpin dalam politik Islam).

Hingga sampai pada giliran seorang ulama kharismatik dari jawa yang bergelar Sulthanul Ulama, beliau juga mengatakan tidak sah dengan berbagai alasan dan hujjah.

Ketika semua orang hampir pada kesimpulan itu, pimpinan sidang menanyakan kepada ulama dari Aceh tentang pandangan mereka. Abu Krueng Kalee mempersilahkan Abuya Syeikh Muda Waly angkat bicara. Abuya menyatakan Soekarno sah menjadi presiden "Dharurat", alasannya karena ia mempunyai "Syaukah" (kekuasaan yang kuat).

Kekuasaannya itu adalah sebagai panglima tertinggi membawahi polisi dan Tentara Nasional Indonesia. Intinya, Abuya dan Abu Krueng Kalee menilai pemerintah RI dan presiden Soekarno sah untuk disebut sebagai pemerintah (Ulil Amri) menurut Islam, walaupun secara Dharuri Bi Asy-Syaukah.

Ulil Amri Bisy-Syaukah adalah pemerintah yang memiliki kekuasaan untuk sementara waktu (Pemerintah Masa Transisi) hingga terbentuknya Pemerintahan yang sah dan benar. Pemerintahan ini oleh sebagian ulama dianggap sah selama tidak kafir pemimpinnya, dan tidak mengingkari keberadaan hukum-hukum syari'at, baik secara I'tiqad (Kepercayaan), 'Inad (Pembangkangan), atau istihzak (menghina hukum Islam) walaupun mereka tidak menerapkan sebagiannya, mereka harus menyadari bahwa hal tersebut adalah dosa, dan tidak menghalalkan perbuatan mereka yang tidak menerapkan hukum Allah Swt.

Setelah Abuya dan Abu Krueng Kalee menilai pemerintah RI dan presiden Soekarno sah untuk disebut sebagai Ulil Amri walaupun secara Dharuri Bisy-Syaukah, hal itu disanggah kembali oleh Sulthanul Ulama. Lalu Abuya membaca dalil dari matan Tuhfah yang mengakui keabsahan 'Ulil Amri Dharuri Bisy-Syaukah".

Alasan ini disanggah kembali oleh Sulthanul Ulama. Akhirnya Abuya dari duduk langsung bangun, dan berkata dengan meminjam kalimat yang pernah diucapkan oleh Khalifah Umar Bin Khattab:

"Tafaqqahu qabla an tasuudu...!" "Tafaqqahu qabla an tasuudu...!" "Tafaqqahu qabla an tasuudu...!" (pelajarilah fiqh sebelum kamu diangkat menjadi pemimpin). Kata-kata itu diulang hingga tiga kali. Lalu Abuya meminta persetujuan Abu Krueng Kalee atas ucapannya itu: "Kon Nyo Menan Abu?" (bukankah demikian Abu?)

Abu Krueng Kalee menjawab: Nyoe betoi ( iya, benar ).

Pertemuan itu akhirnya menyimpulkan kesepakatan Ulama sesuai dengan apa yang diutarakan oleh Ulama Aceh. Pertama, kemerdekaan RI adalah sah. Kedua, Presiden RI Soekarno adalah presiden sah dalam posisi Ulil Amri Dharuri Bisy-Syaukah.

Dalil-dalil Abuya Syeikh Muda Waly tentang Pemerintahan RI dan tinjauan Agama hukum berontak kepada pemerintah yang sah:

1. Bughyatul Mustarsyidin sha. 271 bab al-qadhaa

2. Bughyatul Mustarsyidin sha. 249 bab arriddah

3. Tuhfatul Muhtaj juz 9 sha. 87 kitab arriddah

4. Tuhfatul Muhtaj juz 9 sha. 78 kitab al-Bughah

5. Tuhfatul Muhtaj juz 9 sha. 88 kitab arriddah

6. Shawi 'Alal Jalalain Juz 1 sha. 378 tafsir surah al-Ma-idah ayat 54

7. Jam'ul Jawami' juz 2 sha. 439

8. Tuhfatul Muhtaj juz 9 sha. 66

9. Mishbahul munir sha. 124

10. Tuhfatul Muhtaj Juz 9 sha. 71

Sumber:

Mutiara Fahmi Razali Dkk, Tengku Haji Muhammad Hasan Krueng Kalee (Banda Aceh: Yayasan Darul Ihsan Tgk.H.Hasan Krueng Kalee, 2010), hal.126,127.

#Mustafa Woyla, Humas Dayah Darul Ihsan Abu Hasan Krueng KALEE.

PENYEBAB HATI TETAP GELISAH MESKI RAJIN BERIBADAH

*khamul*



Mohon baca sampai tuntas..

Berikut ini sebuah cerita dari Abu Yazid Al-Busthami, yang insya Allah, dapat kita ambil pelajaran daripadanya;

Di samping seorang sufi, Abu Yazid Al Busthami juga adalah pengajar tasawuf. Di antara jamaahnya, ada seorang santri yang juga memiliki murid yang banyak.
Santri itu juga menjadi kyai bagi jamaahnya sendiri. Karena telah memiliki murid, santri ini selalu memakai pakaian yang menunjukkan kesalihannya, seperti baju putih, serban, dan wewangian tertentu.

Suatu saat, muridnya itu mengadu kepada Abu Yazid, “Tuan Guru, saya sudah beribadat tiga puluh tahun lamanya. Saya shalat setiap malam dan puasa setiap hari, tapi anehnya, saya belum mengalami pengalaman ruhani yang Tuan Guru ceritakan. Saya tak pernah saksikan apa pun yang Tuan gambarkan.”

Abu Yazid menjawab, “Sekiranya kau beribadat selama tiga ratus tahun pun, kau takkan mencapai satu butir pun debu mukasyafah dalam hidupmu.”

Murid itu heran, “Mengapa, ya Tuan Guru?”

“Karena kau tertutup oleh dirimu,” jawab Abu Yazid.

“Bisakah kau obati aku agar hijab itu tersingkap?” pinta sang murid.

“Bisa,” ucap Abu Yazid, “tapi kau takkan melakukannya.”

“Tentu saja akan aku lakukan,” sanggah murid itu.

“Baiklah kalau begitu,” kata Abu Yazid, “sekarang tanggalkan pakaianmu. Sebagai gantinya, pakailah baju yang lusuh, sobek, dan compang-camping.
Gantungkan di lehermu kantung berisi kacang. Pergilah kau ke pasar, kumpulkan sebanyak mungkin anak-anak kecil di sana. Katakan pada mereka, “Hai anak-anak, barangsiapa di antara kalian yang mau menampar aku satu kali, aku beri satu kantung kacang.” Lalu datangilah tempat di mana jamaah kamu sering mengagumimu. Katakan juga pada mereka, “Siapa yang mau menampar mukaku, aku beri satu kantung kacang!”

“Subhanallah, masya Allah, lailahailallah,” kata murid itu terkejut.

Abu Yazid berkata, “Jika kalimat-kalimat suci itu diucapkan oleh orang kafir, ia berubah menjadi mukmin. Tapi kalau kalimat itu diucapkan oleh seorang sepertimu, kau berubah dari mukmin menjadi kafir.”

Murid itu keheranan, “Mengapa bisa begitu?”

Abu Yazid menjawab, “Karena kelihatannya kau sedang memuji Allah, padahal sebenarnya kau sedang memuji dirimu. Ketika kau katakan: Tuhan mahasuci, seakan-akan kau mensucikan Tuhan padahal kau menonjolkan kesucian dirimu.”

“Kalau begitu,” murid itu kembali meminta, “berilah saya nasihat lain.”

Abu Yazid menjawab, “Bukankah aku sudah bilang, kau takkan mampu melakukannya!”

Cerita ini mengandung pelajaran yang amat berharga. Abu Yazid mengajarkan bahwa orang yang sering beribadat mudah terkena penyakit ujub dan takabur. “Hati-hatilah kalian dengan ujub,” pesan Iblis.

Dahulu, Iblis beribadat ribuan tahun kepada Allah. Tetapi karena takaburnya terhadap Adam, Tuhan menjatuhkan Iblis ke derajat yang serendah-rendahnya.

Takabur dapat terjadi karena amal atau kedudukan kita. Kita sering merasa menjadi orang yang penting dan mulia. Abu Yazid menyuruh kita menjadi orang hina agar ego dan keinginan kita untuk.menonjol dan
dihormati segera hancur, yang tersisa adalah perasaan tawadhu dan kerendah-hatian. Hanya dengan itu kita bisa mencapai hadirat Allah swt.

Orang-orang yang suka mengaji juga dapat jatuh kepada ujub. Mereka merasa telah memiliki ilmu yang banyak.
Suatu hari, seseorang datang kepada Nabi Shalallahu 'alaihi wasallam, “Ya Rasulallah, aku rasa aku telah banyak mengetahui syariat Islam. Apakah ada hal lain yang dapat kupegang teguh?” Nabi menjawab, : ”Katakanlah: Tuhanku Allah, kemudian ber-istiqamah-lah kamu.”

Ujub seringkali terjadi di kalangan orang yang banyak beribadat. Orang sering merasa ibadat yang ia lakukan sudah lebih dari cukup sehingga ia menuntut Tuhan agar membayar pahala amal yang ia lakukan. Ia menganggap ibadat sebagai investasi. Orang yang gemar beribadat cenderung jatuh pada perasaan tinggi diri. Ibadat dijadikan cara untuk meningkatkan statusnya di tengah masyarakat. Orang itu akan amat tersinggung bila tidak diberikan tempat yang memadai statusnya. Sebagai seorang ahli ibadat dan ahli dzikir, ia ingin disambut dalam setiap majelis dan diberi tempat duduk yang paling utama.

Tulisan ini saya tutup dengan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnad-nya;

Suatu hari, di depan Rasulullah saw.  Sayidina Abu Bakar menceritakan seorang sahabat yang amat rajin ibadatnya. Ketekunannya menakjubkan semua orang. Tapi Rasulullah tak memberikan komentar apa-apa. Para sahabat keheranan. Mereka bertanya-tanya, mengapa Nabi tak menyuruh sahabat yang lain agar mengikuti sahabat ahli ibadat itu.
Tiba-tiba orang yang dibicarakan itu lewat di hadapan majelis Nabi. Ia kemudian duduk di tempat itu tanpa mengucapkan salam. Sayidina Abu Bakar berkata kepada Nabi, “Itulah orang yang tadi kita bicarakan, ya Rasulallah.”
Nabi hanya berkata, “Aku lihat ada bekas sentuhan setan di wajahnya.”

Nabi lalu mendekati orang itu dan bertanya, “Bukankah kalau kamu datang di satu majelis kamu merasa bahwa kamulah orang yang paling salih di majelis itu?” Sahabat yang ditanya menjawab, “Allahumma, na’am. Ya
Allah, memang begitulah aku.” Orang itu lalu pergi meninggalkan majelis Nabi.

Setelah itu Rasulullah saw bertanya kepada para sahabat, “Siapa di antara kalian yang mau membunuh orang itu?” “Aku,” jawab Abu Bakar.

Abu Bakar lalu pergi tapi tak berapa lama ia kembali lagi, “Ya Rasulallah, bagaimana mungkin aku membunuhnya? Ia sedang ruku’.”

Nabi tetap bertanya, “Siapa yang mau membunuh orang itu?” Umar bin Khaththab menjawab, “Aku.” Tapi seperti juga Abu Bakar, ia kembali tanpa membunuh orang itu, “Bagaimana mungkin aku bunuh orang yang sedang bersujud dan meratakan dahinya di atas tanah?” Nabi masih bertanya,
“Siapa yang akan membunuh orang itu?” Imam Ali bangkit, “Aku.” Ia lalu keluar dengan membawa pedang dan kembali dengan pedang yang masih bersih, tidak berlumuran darah, “Ia telah pergi, ya Rasulullah.” Nabi
kemudian bersabda, “Sekiranya engkau bunuh dia. Umatku takkan pecah sepeninggalku….”



Dari kisah ini pun kita dapat mengambil hikmah:
Selama di tengah-tengah kita masih terdapat orang yang merasa dirinya paling salih, paling berilmu, dan paling benar dalam pendapatnya, pastilah terjadi perpecahan di kalangan kaum muslimin. Nabi memberikan pelajaran bagi umatnya bahwa perasaan ujub akan amal salih yang dimiliki adalah penyebab perpecahan di tengah orang Islam. Ujub menjadi penghalang naiknya manusia ke tingkat yang lebih tinggi. Penawarnya hanya satu, belajarlah menghinakan diri kita. Seperti yang dinasihatkan Abu Yazid Al-Busthami kepada santrinya.
Perbaiki diri bukan untuk di puji, bukan juga karena ingin dekat kepada seseorang, apalagi ada maksud tertentu.
Wallahua'lam
Semoga bermanfaat,,

اللهم طهر قلوبنا من كل وصف يباعدنا عن مشاهدتك ومحبتك.
اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه سيدنا ومولانا محمد

Kamis, 17 Agustus 2017

CARA MEMBEDAKAN ANTARA NAFSU ATAU BUKAN


“Jika ada dua perkara yang tidak jelas (meragukan) bagimu, maka lihatlah mana di antara keduanya yang paling berat bagi nafsu, lalu ikutilah ia karena tidaklah terasa berat bagi nafsu, kecuali sesuatu yang benar.”
—Syekh Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam

Syekh Abdullah Asy-Syarqawi menjelaskan: “Wahai Murid, jika ada dua perkara yang tidak jelas dalam pandanganmu, seperti dua kewajiban atau dua hal yang sunnah, dan engkau tidak mengetahui mana yang paling utama dilakukan, maka lihatlah mana di antara dua kewajiban itu yang paling berat dilakukan oleh nafsu dan dirimu. Lalu, ikutilah ia dan laksanakan.

Contohnya, mencari ilmu yang wajib atau mencari rezeki untuk keluarga. Mencari ilmu yang melebihi kewajiban atau melakukan ibadah-ibadah sunnah. Lihat mana di antara kedua perkara ini yang lebih berat bagi nafsumu, karena tak ada yang berat bagi nafsu, kecuali sesuatu yang benar.

Nafsu selalu terdorong untuk berbuat kebodohan. Keinginannya selalu mencari keuntungan dan lari dari kewajiban. Jika seorang murid merasa ringan dalam sebuah amal dan merasa berat dalam amal lainnya, lalu ia mengerjakan yang lebih ringan, namun hatinya tidak tenang, itu termasuk ke dalam kemunafikan hati,

 Tetapi, jika hatinya tenang, ia boleh mengerjakan yang ringan bagi nafsunya dan menyukainya. Namun, ketika itu, ia harus melihat, mana yang lebih besar  faedahnya dan lebih banyak memperbaiki ahwal-nya. Itulah yang harus diutamakannya dari yang lainnya.

Amal yang membuatmu bahagia saat kau kerjakan, berarti ia benar dan selaiannya bathil karena menjelang ajal, seorang hamba biasanya tidak akan mengerjakan kecuali amal shaleh yang bebas dari sifat-sifat riya’dan dorongan hawa nafsu.

Apabila engkau bingung antara harus menuntut ilmu atau mengikuti jalan ahli tarekat, maka lihatlah mana di antara keduanya yang kau sukai saat ruhmu keluar dari jasadmu, kemudian lakukanlah hal itu. Jika kau ingin saat ruhmu  dicabut malaikat dan di tanganmu ada buku tulis karena kau ikhlas dalam menuntut ilmu dan hanya mengharap ridha Allah, maka tuntutlah ilmu.

Tetapi, jika kau tidak menyekuai hal itu dan hanya ingin sibuk berdzikir kepada Allah, maka jangan menuntut ilmu, tetapi sibukkanlah dirimu dengan berdzikir dan beribadah lainnya. Jika engkau terpaksa melakukan hal-hal yang tidak kau sukai, tentu engkau tidak akan ikhlas mengerjakannya.”

--Syekh Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam, dengan syarah Syekh Abdullah Asy-Syarqawi.

Rabu, 26 April 2017

10 SIFAT ISTRI YANG MEMBUKA PINTU REZEKI SUAMI




Marilah kita simak 10 Sifat Istri yang Membuat Rezeki Suami Mengalir Deras

Banyak suami yang mungkin tidak tahu bahwa rezekinya dengan izin Allah mengalir lancar atas peran istri. Memang tidak bisa dilihat secara kasat mata, namun bisa dijelaskan secara spiritual bahwa 10 sifat istri ini ‘membantu’ mendatangkan rezeki bagi suaminya.

1. Istri yang pandai bersyukur

Istri yang bersyukur atas segala karunia Allah pada hakikatnya dia sedang mengundang tambahan nikmat untuk suaminya. Termasuk rezeki. Punya suami, bersyukur. Menjadi ibu, bersyukur. Anak-anak bisa mengaji, bersyukur. Suami memberikan nafkah, bersyukur. Suami memberikan hadiah, bersyukur. Suami mencintai setulus hati, bersyukur. Suami memberikan kenikmatan sebagai suami istri, bersyukur.

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan: jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmatKu) maka sesungguhnya adzabku sangat pedih” (QS. Ibrahim: 7).

2. Istri yang tawakal kepada Allah

Di saat seseorang bertawakkal kepada Allah, Allah akan mencukupi rezekinya.
“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Thalaq: 3).

Jika seorang istri bertawakkal kepada Allah, sementara dia tidak bekerja, dari mana dia dicukupkan rezekinya. Allah akan mencukupkannya dari jalan lain, tidak selalu harus langsung diberikan kepada wanita tersebut. Bisa jadi Allah akan memberikan rezeki yang banyak kepada suaminya, lalu suami tersebut memberikan nafkah yang cukup kepada dirinya.

3. Istri yang baik agamanya

Rasulullah menjelaskan bahwa wanita dinikahi karena empat perkara. Karena hartanya, kecantikannya, nasabnya dan agamanya.

“Pilihlah karena agamanya, niscaya kamu beruntung” (HR. Al Bukhari dan Muslim).
Beruntung itu beruntung di dunia dan di akhirat. Beruntung di dunia, salah satu aspeknya adalah dimudahkan mendapatkan rezeki yang halal.

Coba kita perhatikan, insya Allah tidak ada satu pun keluarga yang semua anggotanya taat kepada Allah kemudian mereka mati kelaparan atau nasibnya mengenaskan. Lalu bagaimana dengan seorang suami yang banyak bermaksiat kepada Allah tetapi rezekinya lancar? Bisa jadi Allah hendak memberikan rezeki kepada istri dan anak-anaknya melalui dirinya. Jadi berkat taqwa istrinya dan bayi atau anak kecilnya yang belum berdosa, Allah kemudian mempermudah rezekinya. Suami semacam itu sebenarnya berhutang pada istrinya.

4. Istri yang banyak beristighfar

Di antara keutamaan istighfar adalah mendatangkan rezeki. Hal itu bisa dilihat dalam Surat Nuh ayat 10 hingga 12. Bahwa dengan memperbanyak istighfar, Allah akan mengirimkan hujan dan memperbanyak harta.

“Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu’, sesunguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, memperbanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) sungai-sungai untukmu”(QS. Nuh : 10-12).

5. Istri yang gemar silaturahim

Istri yang gemar menyambung silaturahim, baik kepada orang tuanya, mertuanya, sanak familinya, dan saudari-saudari seaqidah, pada hakikatnya ia sedang membantu suaminya memperlancar rezeki. Sebab keutamaan silaturahim adalah dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya.

“Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

6. Istri yang suka bersedekah

Istri yang suka bersedekah, dia juga pada hakikatnya sedang melipatgandakan rezeki suaminya. Sebab salah satu keutamaan sedekah sebagaimana disebutkan dalam surat Al Baqarah, akan dilipatgandakan Allah hingga 700 kali lipat. Bahkan hingga kelipatan lain sesuai kehendak Allah.

Jika istri diberi nafkah oleh suaminya, lalu sebagiannya ia gunakan untuk sedekah, mungkin tidak langsung dibalas melaluinya. Namun bisa jadi dibalas melalui suaminya. Jadilah pekerjaan suaminya lancar, rezekinya berlimpah.

“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir ada seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 261).

7. Istri yang bertaqwa

Orang yang bertaqwa akan mendapatkan jaminan rezeki dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan ia akan mendapatkan rezeki dari arah yang tak disangka-sangka. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ath Talaq ayat 2 dan 3.

“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka” (QS. At Thalaq: 2-3).



8. Istri yang selalu mendoakan suaminya

Jika seseorang ingin mendapatkan sesuatu, ia perlu mengetahui siapakah yang memilikinya. Ia tidak bisa mendapatkan sesuatu tersebut melainkan dari pemiliknya.

Begitulah rezeki. Rezeki sebenarnya adalah pemberian dari Allah Azza wa Jalla. Dialah yang Maha Pemberi rezeki. Maka jangan hanya mengandalkan usaha manusiawi namun perbanyaklah berdoa memohon kepadaNya. Doakan suami agar senantiasa mendapatkan limpahan rezeki dari Allah, dan yakinlah jika istri berdoa kepada Allah untuk suaminya pasti Allah akan mengabulkannya.
“DanTuhanmu berfirman: Berdoalah kepadaKu niscaya Aku kabulkan” (QS. Ghafir: 60).

9. Istri yang gemar shalat dhuha

Shalat dhuha merupakan shalat sunnah yang luar biasa keutamaannya. Shalat dhuha dua raka’at setara dengan 360 sedekah untuk menggantikan hutang sedekah tiap persendian. Shalat dhuha empat rakaat, Allah akan menjamin rezekinya sepanjang hari.

“Di dalam tubuh manusia terdapat 360 sendi, yang seluruhnya harus dikeluarkan sedekahnya.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Siapakah yang mampu melakukan itu wahai Nabiyullah?” Beliau menjawab, “Engkau membersihkan dahak yang ada di dalam masjid adalah sedekah, engkau menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan adalah sedekah, Maka jika engkau tidak menemukannya (sedekah sebanyak itu), maka dua raka’at Dhuha sudah mencukupimu.” (HR. Abu Dawud)

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Wahai anak Adam, janganlah engkau luput dari empat rakaat di awal harimu, niscaya Aku cukupkan untukmu di sepanjang hari itu.”(HR. Ahmad).

10. Istri yang taat dan melayani suaminya

Salah satu kewajiban istri kepada suami adalah mentaatinya. Sepanjang perintah suami tidak dalam rangka mendurhakai Allah dan RasulNya, istri wajib mentaatinya.

Apa hubungannya dengan rezeki? Ketika seorang istri taat kepada suaminya, maka hati suaminya pun tenang dan damai. Ketika hatinya damai, ia bisa berpikir lebih jernih dan kreatifitasnya muncul. Semangat kerjanya pun menggebu. Ibadah juga lebih tenang, rizki mengalir lancar.

(~ء~)
Semoga Bermanfaat . . . !

Minggu, 23 April 2017

KISAH SUFI WANITA "RABI'AH AL-ADAWIYAH"

Kisah Tokoh Sufi Wanita : Rabi'ah Al-adawiyah


Sang ratu Cinta lahir dalam kemiskinan yang sangat, Tak ada kain untuk menyelimuti dirinya, Tak ada minyak setetespun untuk pemoles pusarnya, Tak ada lampu untuk menerangi kelahirannya, Ia adalah putri ke empat, Maka disebutlah Rabi’ah.

Sang ayah menekur sedih memikirkan hal ini, Mau pinjam ataupun minta, sudah menjadi pantangan bagi dirinya. Semuanya digantungkannya pada Allah, Dalam kesedihan ia bermimpi, Bertemu sang Nabi yang menghibur hati, “Temuilah Gubernur Basrah, dan katakan, “Setiap malam engkau kirimkan sholawat 100 kali kepadaku, dan setiap malam Jum’at 400 kali, kemarin adalah malam Jum’at dan engkau lupa mengerjakannya.
Sebagai penebus kelalaianmu itu, berikanlah kepada orang ini 400 dinar, Yang telah engkau peroleh dengan halal."

Gubernurpun memberikan apa yang dikehendaki oleh Nabi, Ditambah dengan 2000 dinar bagi sedekah orang miskin, Cukuplah sudah untuk kebutuhan keluarga Rabi’ah.
Sampai keadaan berbicara lain, Bencana kelaparan melanda Basrah. Seorang penjahat menculik Rabi'ah, Untuk kemudian dijual dipasar budak dengan harga 6 dirham, Majikan membelinya dan memberikannya tugas-tugas yang berat. Siang hari Rabi'ah bekerja sambil berpuasa, Malam harinya dihabiskan untuk mujahadah dengan Rabb-nya.

Kedekatan beralih menuju ke aqraban, Keaqraban membawanya kepada kerinduan dan kerinduan telah mengantarkannya pada cintanya pada Tuhannya.
“Aku adalah milikNya. Aku hidup dibawah naunganNya. Aku lepaskan segala sesuatu yang telah kuperoleh kepadaNya. Aku telah mengenalNya, sebab aku menghayati”
Satu malam yang dingin, Sang majikan merasakan kegelisahan dalam hatinya. Maka iapun berjalan kebelakang rumah, memeriksa sekelilingnya, memeriksa kunci-kunci rumahnya.
Dan ketika ia sampai didekat gudang tempat Rabi’ah tinggal, Kekagetannya membuat ia sendiri gugup, lampu yang semula dipegangnya kini terlempar entah kemana.

Bagaimana tidak, ketika ia melongokkan kepalanya ke dalam ruang tempat Rabi'ah beristirahat, Ia sedang melihat rabi'ah menjalankan shalat, Dan di atasnya tampak cahaya yang terang benderang. Bukan lampu, sebab cahaya itu tidak bergantung kepada suatu apapun.

Keesokan harinya, Rabi’ah dipanggil, majikannya menyampaikan keinginannya. Ia membebaskan Rabi'ah sebagai budak. Kini Rabi’ah merdeka. Meski sang majikan berharap Rabi'ah mau untuk tinggal dirumahnya, tapi ia memilih untuk pergi menjauhi masyarakat sekitar.

Dan ia menemukan sebuah gua agak dipinggir desa. Tinggallah ia di sana. Suatu hari di musim semi, Rabi’ah memasuki tempat tinggalnya, Kemudian ia melongok keluar sebab pelayannya berseru, “Ibu, keluarlah dan saksikanlah, apa yang telah dilakukan oleh sang Pencipta” “Lebih baik engkaulah yang masuk kemari”“dan saksikanlah sang Pencipta itu sendiri.
Aku sedemikian asyik menatap sang Pencipta, sehingga apa peduliku lagi terhadap ciptaan-ciptaanNya ?” sahut Rabi'ah dari dalam.

Suatu malam sebab terlalu letih, ia tertidur. Seorang maling menyelusup masuk ke dalam rumahnya, dan mencuri cadarnya. Tetapi, tak ditemuinya pintu keluar. Cadar diletakkan, pintu keluar terlihat. Cadar dibawa, pintu keluar tak terlihat lagi,

Terdengarlah suara, “Hai manusia, tiada gunanya engkau mencoba-coba.
Sudah bertahun-tahun Rabi’ah mengabdi kepada Kami. Syaitan sendiri tidak berani datang menghampirinya. Tetapi betapakah seorang maling berani mencoba-coba untuk mengambil cadarnya. Pergilah dari sini. Jika seorang sahabat sedang tertidur, maka sang Sahabat bangun dan berjaga-jaga”

Ketika seorang sahabat mengantarkan seorang kaya yang ingin memberikan uang emasnya pada Rabi'ah, Rabi'ah berkata,“Dia telah menafkahi orang-orang yang menghujjahNya. Apakah Dia tidak akan menafkahi orang-orang yang mencintaiNya ? Sejak aku mengenalNya, aku telah berpaling dari manusia ciptaanNya. Aku tidak tahu apakah kekayaan seseorang itu halal atau tidak, Maka betapakah aku dapat menerima pemberiannya ?

Dimalam-malam hari yang sepi dan sunyi, Dalam kerinduannya dengan sang Maha Pencipta, Rabi'ah bergumam sambil bersujud, “Ya Allah, apapun yang akan Engkau karuniakan kepadaku di dunia ini, berikanlah kepada musuh-musuhMu. Dan apapun yang akan Engkau karuniakan kepadaku di akhirat nanti, Berikanlah kepada sahabat-sahabatMu, Karena Engkau sendiri cukuplah bagiku”

“Ya Allah, semua jerih payahku dan semua hasratku diantara kesenangan-kesenangan dunia ini, adalah untuk mengingat Engkau. Dan diakhirat nanti, diantara segala kesenangan akhirat, Adalah berjumpa denganMu. Begitulah halnya dengan diriku, Seperti yang telah kukatakan. Kini berbuatlah seperti yang Engkau kehendaki”



Rabi'atul Adawiyah merupakan salah seorang srikandi agung dalam Islam. Beliau terkenal dengan sifat wara' dan sentiasa menjadi rujukan golongan cerdik pandai karena beliau tidak pernah kehabisan hujjah. Ikutilah antara kisah-kisah teladan tentang beliau..


Karamah dan Keutamaan Rabi'atul Adawiyah

###
Suatu malam yang sunyi sepi, di kala masyarakat sedang nyenyak tidur, seorang pencuri telah mencoba masuk ke dalam pondok Rabi'atul Adawiyah. Namun setelah mencari sesuatu sekeliling berkali-kali, dia tidak menemui sebuah benda berharga kecuali sebuah kendi untuk berwudu', itupun jelek. Lantas si pencuri tergesa-gesa untuk keluar dari pondok tersebut.

Tiba-tiba Rabi'atul Adawiyah menegur si pencuri tersebut, "Hei, jangan keluar sebelum kamu mengambil sesuatu dari rumahku ini." Si pencuri tersebut terperanjat karena dia menyangka tidak ada penghuni di pondok tersebut.

Dia juga merasa heran karena baru kali ini dia menemui tuan rumah yang begitu baik hati seperti Rabi'tul Adawiyah. Kebiasaannya tuan rumah pasti akan menjerit meminta tolong apabila ada pencuri memasuki rumahnya, namun ini lain, "Silahkan ambil sesuatu." kata Rabi'atul Adawiyah lagi kepada pencuri tersebut.
"Tiada apa-apa yang boleh aku ambil dari rumah mu ini." kata si pencuri berterus-terang.
"Ambillah itu!" kata Rabi'atul Adawiyah sambil menunjuk pada kendi yang jelek tadi.
"Ini hanyalah sebuah kendi jelek yang tidak berharga." Jawab si pencuri.
"Ambil kendi itu dan bawa ke bilik air. Kemudian kamu ambil wudhu' menggunakan kendi itu. Selepas itu shalatlah 2 rakaat. Dengan demikian, engkau telah mengambil sesuatu yang sangat berharga daripada pondok jelekku ini." Balas Rabi'tul Adawiyah.
Mendengar kata-kata itu, si pencuri tadi berasa gementar. Hatinya yang selama ini keras, menjadi lembut seperti terpukau dengan kata-kata Rabi'tul Adawiyah itu. Lantas si pencuri mengambil kendi jelek itu dan dibawa ke bilik air, lalu berwudhu' menggunakannya.Kemudian dia menunaikan shalat 2 rakaat. Ternyata dia merasakan suatu kemanisan dan kelazatan dalam jiwanya yang tak pernah dirasa sebelum ini.

Rabi'atul Adawiyah lantas berdoa, "Ya Allah, pencuri ini telah mencoba masuk ke rumahku. Akan tetapi dia tidak menemui sebuah benda berharga untuk dicuri. Kemudian aku suruh dia berdiri dihadapan-Mu. Oleh itu janganlah Engkau halangi dia daripada memperoleh nikmat dan rahmat-Mu."

###
Pada suatu hari, sekumpulan golongan cerdik pandai telah datang ke rumah Rabi'atul Adawiyah. Tujuan mereka tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menguji beliau dengan perbagai persoalan. Malah mereka telah mempersiapkan dengan satu persoalan yang menarik. Mereka menaruh keyakinan yang tinggi, karena selama ini Rabi'atul Adawiyah tidak pernah kekurangan hujah.

Mereka bertanya :
"Wahai Rabi'atul Adawiyah, semua bentuk kebajikan yang tinggi-tinggi telah dianugerahkan oleh Allah kepada kaum lelaki, namun tidak kepada kaum wanita."

"Buktinya?" Balas Rabi'atul Adawiyah.

"Buktinya ialah, mahkota kenabian dan Rasul telah dianugerahkan kepada kaum lelaki. Malah mahkota kebangsawanan juga dikurniakan kepada kaum lelaki.
Paling penting, tidak ada seorang wanita pun yang telah diangkat menjadi Nabi atau Rasul, malah semuanya dari golongan lelaki." Jawab mereka pula dengan yakin.

"Memang betul pendapat tuan-tuan sekalian. Akan tetapi harus diingat bahwa sejahat-jahat pangkat ada pada kaum lelaki juga. Siapa yang mengagung-agungkan diri sendiri? Siapa yang begitu berani mendakwakan dirinya sebagai Tuhan? Dan siapa pula yang berkata :"Bukankah aku ini tuhanmu yang mulia?" Dengan tenang, Rabi'atul Adawiyah membalas hujah mereka sambil merujuk kepada Firaun dan Namrud.

Kemudian Rabi'atul Adawiyah menambah lagi, "Anggapan dan ucapan seperti itu tidak pernah keluar dari mulut seorang wanita. Malah semuanya dilakukan oleh kaum lelaki."

###
Suatu hari, Rabi'atul Adawiyah melihat seorang sedang berjalan-jalan dengan kepalanya berbalut sambil meminta simpati dari orang banyak. Karena ingin tahu sebabnya orang itu berbuat demikian, Rabi'atul Adawiyah bertanya, "Wahai hamba Allah! Mengapa engkau membalut kepalamu begini rupa?"
"Kepalaku sakit." Jawab orang itu dengan singkat.
"Sudah berapa lama?" Tanya Rabi'atul Adawiyah lagi.
"Sudah sekian hari." Jawabnya dengan tenang.
Lantas Rabi'atul Adawiyah bertanya lagi, "Berapa usiamu sekarang?"
Orang itu menjawab,"Sudah 30 tahun"
"Bagaimana keadaanmu selama 30 tahun itu?" Tanya beliau lagi.
"Alhamdulillah, sehat-sehat saja." Jawabnya.
"Apakah kamu memasang sesuatu tanda di badanmu bahwa kamu sehat selama ini?" Tanya Rabi'atul Adawiyah.
Tercenganglah orang tersebut.


Inilah sedikit kisah dari sekian banyaknya kisah teladan dari salah seorang tokoh sufi dikalangan perempuan.

(~ء~)

Jumat, 21 April 2017

5 (lima) TINGKATAN KEBAHAGIAAN MENIKAH




Assalamu'alaikum wr wb.
Saudara-saudaraku sekalian, mari kita menyimak beberapa kebahagiaan dari sekian banyak kebahagiaan yang didapatkan dengan menikah. Diantaranya adalah :

1-Kebahagiaan semalam: Yaitu Ketika
Suami istri tenggelam dalam kasih sayang yang tidak bisa lagi ditahan,
karena suatu cita-cita yaitu ingin
memiliki keturunan.

2-Kebahagiaan seminggu: Yaitu masa
bulan madu, dimana suami-istri
disibukkan dengan penyatuan Hati,
penyatuan tujuan, penyatuan cita-cita
untuk masa depan.

3-Kebahagiaan Sebulan: Yaitu masa
penyatuan antara dua keluarga
setelah pernikahan, yang mana, suami
istri akan memiliki dan bertambah
kerabat dan saudara.

4-Kebahagiaan Setahun: Yaitu dimana
keluarga melahirkan keturunan, yang
membahagiakan hati dan harapan
keluarga dimasa depan.

5-Kebahagiaan Seumur hidup: Yaitu
dimana keluarga saling menyemangati
dan mencintai dalam keta'atan Ibadah,
dan tujuan Akhirat, dan saling
menyayangi dan saling menasehati
bila ada anggota keluarganya
terjerumus dalam kemaksiatan, dan
saling mendo'akan agar anggota
keuarganya diselamatkan dunia
akhirat, dan ingin berkumpul kembali
kelak di Syurga.




Ya Allah, Berilah kami dan keluarga
kami berkah kebahagiaan didunia dan
diakhirat, serta kumpulkanlah kami
bersama keluarga dan anak cucu
keturunan kami kelak di Syurga-Mu..



Ya Allah,,karuniakan saudara-saudara kami
(yang belum mendapatkan jodoh)
pasangan terbaik dunia dan akhirat
yang Engkau pilih dan Engkau ridhai.
Aamiin....

("-ء-")

Kamis, 20 April 2017

TIGA MACAM CIRI PENUNTUT ILMU AGAMA



Marilah kita menyimak Tiga kriteria ataupun Niat para Penuntut ilmu. Kemudian renungkan, diposisi manakah kita ?

 ثلاثة أحوال: رجل طلب العلم ليتخذه زاده إلى المعاد، ولم يقصد به إلا وجه الله والدار الآخرة؛ فهذا من الفائزين.
ورجل طلبه ليستعين به على حياته العاجلة، وينال به العز والجاه والمال، وهو عالم بذلك، مستشعر في قلب ركاكه حاله وخسة مقصده، فهذا من المخاطرين. فإن عاجله أجله قبل التوبة خيف عليه من سوء الخاتمة، وبقي أمره في خطر المشيئة؛ وإن وفق للتوبة قبل حلول الأجل، وأضاف إلى العلم العمل، وتدارك ما فرط منه من الخلل- التحق بالفائزين، فإن التائب من الذنب كمن لا ذنب له.

Ketahuilah bahwa dalam menuntut ilmu, manusia terbagi atas tiga jenis:

(1) Seseorang yang menuntut ilmu guna dijadikan bekal untuk akhirat dimana ia ha­nya ingin mengharap ridha Allah dan negeri akhirat. Ini termasuk kelompok yang beruntung.

(2) Seseorang yang menuntut ilmu guna dimanfaatkan dalam kehidupan­nya di dunia sehingga ia bisa memperoleh kemuliaan, kedudukan, dan harta. Ia tahu dan sadar bahwa keada­annya lemah dan niatnya hina. Orang ini termasuk ke dalam kelompok yang berisiko. Jika ajalnya tiba sebelum sempat bertobat, yang dikhawatirkan adalah peng­habisan yang buruk (su' ul-khatimah) dan keadaannya menjadi berbahaya. Tapi jika ia sempat bertobat sebe­lum ajal tiba, lalu berilmu dan beramal serta menutupi kekurangan yang ada, maka ia termasuk orang yang beruntung pula. Sebab, orang yang bertobat dari dosa­nya seperti orang yang tak berdosa.

ورجل ثالث استحوذ عليه الشيطان؛ فاتخذ علمه ذريعة إلى التكاثر بالمال، والتفاخر بالجاه، والتعزز بكثرة الأتباع، يدخل بعلمه كل مدخل رجاء أن يقضى من الدنيا وطره،ن وهو مع ذلك يضمر في نفسه أنه عند الله بمكانة، لاتسامه بسمة العلماء، وترسمه برسومهم في الزى والمنطق، مع تكالبه على الدنيا ظاهرا وباطنا.. فهذا من الهالكين، ومن الحمقى المغرورين؛ إذ الرجاء منقطع عن توبته لظنه أنه من المحسنين، وهو غافل عن قوله تعالى (يَأيُها الَّذين آمنوا لِمَ تَقولونَ مالا تَفعَلون). وهو ممن قال فيهم رسول الله: (أنا من غير الدجال أخوف عليكم من الدجال) فقيل: وما هو يارسول الله?، فقال: (علماء السوء)

(3) Seseorang yang terperdaya oleh setan. Ia pergunakan ilmunya sebagai sarana untuk memperbanyak harta, serta untuk berbang­ga dengan kedudukannya dan menyombongkan diri de­ngan besarnya jumlah pengikut. Ilmunya menjadi tujuan untuk meraih sasaran duniawi. Bersamaan dengan itu, ia masih mengira bahwa dirinya mempunyai posisi khusus di sisi Allah karena ciri-ciri, pakaian, dan ke­pandaian berbicaranya yang seperti ulama, padahal ia begitu tamak kepada dunia lahir dan batin.
Orang dari kelompok ketiga ini termasuk golongan yang binasa, dungu, dan tertipu. Ia tak bisa diharap­kan bertobat karena ia tetap beranggapan dirinya ter­masuk orang baik. Ia lalai dari firman Allah Swt. yang berbunyi, "Wahai orang-orang yang beriman. Mengapa ka­lian mengatakan apa-apa yang tidak kalian lakukan?!"
(Q.S. ash-Shaff: 2).

Ia termasuk mereka yang disebutkan Rasulullah saw., "Ada yang paling aku khawatirkan dari kalian ke­timbang Dajjal." Beliau kemudian ditanya, "Apa itu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Ulama su' (buruk/jahat)

Kitab : bidayatul hidayah

Jumat, 14 April 2017

MENGAPA KITA HARUS BELAJAR ILMU TASHAWUF...???




Ilmu Tashawuf adalah salah satu diantara ilmu Fardhu 'ain yang wajib dipelajari oleh setiap orang islam yang mukallaf (baligh dan berakal), baik laki-laki ataupun perempuan, baik muda ataupun sudah tua.
Dalam istilah lain, ilmu Tashawuf disebut juga dengan ilmu Akhlak, karena dengan belajar ilmu Tashawuf akan memperbagus Akhlak kita, baik itu akhlak kepada ALLAH, Rasulullah, Orang tua, Guru, diri sendiri, dan orang lain.

Pepatah Aceh mengatakan :
  " Hana ta beut ileume Tauhid, salah ta marit jeut keu kafee
    Hana ta beut ileume Fiqih, roeh ta pajoeh bangkee-bangkee
    Hana ta beut ileume Tashawuf, akai ngoen hate tanyoe brok sabee".

Artinya :
  " Tidak belajar ilmu Tauhid, salah berbicara akan menjadi kafir
     Tidak belajar ilmu Fiqih, tidak tahu halal haram
     Tidak belajar ilmu Tashawuf, kelakuan dan adab kita jahat selalu".


Berikut beberapa penjelasan mengapa kita harus belajar ilmu Tashawuf, diantaranya yaitu :

1. Belajar ilmu tasawuf untuk memperbagus ‘amal. Sebab di dalam ilmu tasawuf di ajarkan zuhud, tidak condong hati kepada dunia, sebab sholat 2 raka’at orang yang zuhud yang ‘alim lebih bagus dari pada beribu raka’at sholat orang yang tidak zuhud.

2. Memperbagus pergaulan/pertemanan, sebab diajarkan kita kesabaran, sebab Allah SWT beserta orang yang sabar, sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an :
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ ﴿١٥٣﴾
Artinya : Sesunguhnya (ini kalimat Taukid : Sangat Pasti) Allah SWT beserta orang yang sabar.
(Q.S. Al-Baqarah, ayat : 153)
Maka sabar itu sangat indah, karena tidak akan tercapai sesuatu cita-cita terkecuali bagi orang yang sabar.

3. Menafikan syirik khafi (syirik tersembunyi), sebab tidak menyaksikan perbuatan yang memberi bekas di alam azzsam (alam dunia zahir ini) kecuali terlihat olehnya ini (pada hakikatnya adalah berasal dari) perbuatan Allah SWT, dan tidak memberi bekas dengan tabi’at dan kekuatan yang ada pada alam, ini sesuai dengan i’tikad Ahlussunnah wal jama’ah yang benar.

4. Dapat menghilangkan ananinyah/ ke-Akuan diri, sebab wujud diri/kehebatan diri dan kesombongan tersebut membangsakan sesuatu pada dirinya itu adalah dosa yang tidak ada bandingannya.

5. Mencintai Allah SWT dan RasulNya, ini dapat diperoleh dalam ilmu ketasawufan, sebab memudahkan kita untuk mematuhi Allah dan RasulNya.

6. Kita dapat ber’amal dengan ikhlas, sebab pengamalan ini bukan karena dirinya, tetapi hanya karena menta’ati dan mencintai Allah SWT.

7. Kita tidak putus asa kalau yang kita harapkan tidak tercapai atau tidak sesuatu dengan keinginan diri kita. Sebab kita yakin pada hukum azali, yang terjadi sekarang ini dan yang akan datang maupun yang telah lalu itu semua telah zahir dalam ilmu Allah SWT yang Qadim, pada sebelum ada sesuatu apapun yang maujud / makhluk di seluruh alam semesta jagad raya ini.

8. Kita senantiasa bertaubat dan kembali (inabah) hanya kepada Allah SWT. Sebab kita menyadari bahwa nafsu kita adalah sumber kesalahan, karena tidak ada nafsu yang baik kecuali nafsu para Nabi dan Rasul.

9. Terasa dekat Allah SWT (Dalam ayat Al-Qur’an menyebutkan : Lebih dekat dari urat leher kita sendiri), sebab senantiasa kita bermuraqabah, bermusyahadah, kita fana di dalam wujudNya dan kekal denganNya, baik dalam perbuatan, sifat dan wujud kita. Maka barulah akan betul-betul zahirlah Syaria’at Islam seutuhnya (kaffah), tidak hanya sebagai Semboyan belaka saja, sehingga baru zahirlah Tauhid Hakiki pada lisan dan sesuai dengan perbuatan kita, sebagaimana dahulu telah pernah di perjuangkan oleh Baginda Penghulu sekalian Alam kita, Rasulullah Muhammad SAW. Amiiin...

10. Bila mana di dalam kehidupan anda tidak dapat melakukan susuai yang di atas, maka tersia-sia / rugilah umur hidup anda selama ini. Oleh karena itulah sangat perlu untuk kita memahami dan mengembangkan serta bersama-sama kita perjuangkan Ilmu Tasawuf ini pada anak bangsa kita. Amiin….



Sumber:
Pengajian MPTT di Bogor, Cibinong. 27 Agustus 2016

Jumat, 07 April 2017

MAJELIS RATEB SERIBEE ( Penggagas Rateb seribee : Abuya Syeikh H Amran Waly Al-Khalidy )




Rateb seribee adalah menyebut kalimah لا اله الا الله  dengan sebanyak-banyaknya, agar kita jangan lupa kepada ALLAH selama-lamanya, karena semua ibadah ditentukan didalam waktu tertentu kecuali zikir. Adapun zikir tidak tertentu waktu dalam melakukannya dan bisa kita lakukan pada seluruh waktu, untuk kita masuk sebagai pintu yang besar kehadharat-Nya. Adapun nafas adalah sebagai penjaga yang menjaga hati kita supaya senantiasa kita mengingat ALLAH SWT.

ALLAH SWT berfirman :
يايهاالذين أمنوا اذكروا الله ذكرا كثيرا  (الاحزاب:٤١

Selasa, 04 April 2017

PENYESALAN DISAAT SAKARATUL MAUT





Kisah Islam, Sahabat Rasulullah SAW

Alkisah ada seorang sahabat Nabi bernama Sya’ban RA.

Ia adalah seorang sahabat yang tidak menonjol dibandingkan
sahabat2 yg lain.
Ada suatu kebiasaan unik dari beliau yaitu setiap masuk masjid sebelum sholat berjamaah dimulai dia selalu beritikaf di pojok depan masjid.
Dia mengambil posisi di pojok bukan karena supaya mudah bersandaran atau tidur, namun karena tidak mau mengganggu orang lain dan tak mau terganggu oleh orang lain dalam beribadah.

Kebiasaan ini sudah dipahami oleh sahabat bahkan oleh Rasulullah SAW, bahwa Sya’ban RA selalu berada di posisi tsb termasuk saat sholat berjamaah.

Suatu pagi saat sholat subuh berjamaah akan dimulai RasululLah SAW mendapati bahwa Sya’ban RA tidak berada di posisinya seperti biasa. Nabi pun bertanya kepada jemaah yg hadir apakah ada yg melihat Sya’ban RA.

Namun tak seorangpun jamaah yg melihat Sya’ban RA. Sholat subuhpun ditunda sejenak untuk menunggu kehadiran Sya’ban RA. Namun yg ditunggu belum juga datang. Khawatir sholat subuh kesiangan, Nabi memutuskan untuk segera melaksanakan sholat subuh berjamaah.

Selesai sholat subuh, Nabi bertanya apa ada yg mengetahui kabar dari Sya’ban RA.
Namun tak ada seorangpun yang menjawab.
Nabi bertanya lagi apa ada yg mengetahui di mana rumah Sya’ban RA.

Kali ini seorang sahabat mengangkat tangan dan mengatakan bahwa dia mengetahui persis di mana rumah Sya’ban RA.
Nabi yang khawatir terjadi sesuatu dg Sya’ban RA meminta diantarkan ke rumahnya.
Perjalanan dengan jalan kaki cukup lama ditempuh oleh Nabi dan rombongan sebelum sampai ke rumah yg dimaksud.
Rombongan Nabi sampai ke sana saat waktu afdol untuk sholat dhuha (kira2 3 jam perjalanan).

Sampai di depan rumah tersebut Nabi mengucapkan salam.
Dan keluarlah seorang wanita sambil membalas salam tsb.

“Benarkah ini rumah Sya’ban?” Nabi bertanya.

“Ya benar, saya istrinya” jawab wanita tsb.

“Bolehkah kami menemui Sya’ban, yg tadi tidak hadir saat sholat subuh di masjid?”

Dengan berlinangan air mata istri Sya’ban RA menjawab:
“Beliau telah meninggal tadi pagi..."

InnaliLahi wainna ilaihirojiun… Maa sya Allah, satu2nya penyebab dia tidak sholat subuh berjamaah adalah karena ajal sudah menjemputnya.

Beberapa saat kemudian istri Sya’ban bertanya kepada Rasul
“ Ya Rasul ada sesuatu yg jadi tanda tanya bagi kami semua, yaitu menjelang kematiannya dia berteriak tiga kali dg masing2 teriakan disertai satu kalimat.
Kami semua tidak paham apa maksudnya."

“Apa saja kalimat yg diucapkannya?” tanya Rasul.

Di masing2 teriakannya dia berucap kalimat:

“ Aduuuh kenapa tidak lebih jauh……”

“ Aduuuh kenapa tidak yg baru……. “

“ Aduuuh kenapa tidak semua……”

Nabi pun melantukan ayat yg terdapat dalam surat Qaaf (50) ayat 22 :
“Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu hijab (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.“

Saat Sya’ban dlm keadaan sakratul maut, perjalanan hidupnya ditayangkan ulang oleh Allah.
Bukan cuma itu, semua ganjaran dari perbuatannya diperlihatkan oleh Allah.
Apa yang dilihat oleh Sya’ban (dan orang yg sakratul maut) tidak bisa disaksikan oleh yg lain.
Dalam pandangannya yang tajam itu Sya’ban melihat suatu adegan di mana kesehariannya dia pergi pulang ke masjid untuk sholat
berjamaah lima waktu.
Perjalanan sekitar 3 jam jalan kaki sudah tentu bukanlah jarak yg dekat.
Dalam tayangan itu pula Sya’ban RA diperlihatkan pahala yg diperolehnya dari langkah2 nya ke Masjid.
Dia melihat seperti apa bentuk surga ganjarannya.

Saat melihat itu dia berucap:
“ Aduuuh kenapa tidak lebih jauh……”
Timbul penyesalan dalam diri Sya’ban , mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi supaya pahala yg didapatkan lebih banyak dan sorga yg didapatkan lebih indah.

Dalam penggalan berikutnya Sya’ban melihat saat ia akan berangkat sholat berjamaah di musim dingin.
Saat ia membuka pintu berhembuslah angin dingin yang menusuk tulang.
Dia masuk kembali ke rumahnya dan mengambil satu baju lagi untuk dipakainya. Jadi dia memakai dua buah baju.
Sya’ban sengaja memakai pakaian yg bagus (baru) di dalam dan yg jelek (butut) di luar.
Pikirnya jika kena debu, sudah tentu yg kena hanyalah baju yg luar. Sampai di masjid dia bisa membuka baju luar dan solat dg baju yg lebih bagus.
Dalam perjalanan ke masjid dia menemukan seseorang yg terbaring kedinginan dalam kondisi mengenaskan.
Sya’ban pun iba, lalu segera membuka baju yg paling luar dan dipakaikan kepada orang tsb dan memapahnya utk bersama2 ke masjid melakukan sholat berjamaah.
Orang itupun terselamatkan dari
mati kedinginan dan bahkan sempat melakukan sholat berjamaah.
Sya’ban pun kemudian melihat indahnya sorga yg sebagai balasan memakaikan baju bututnya kepada orang tsb.
Kemudian dia berteriak lagi:
“ Aduuuh kenapa tidak yang baru...“
Timbul lagi penyesalan di benak Sya’ban.
Jika dg baju butut saja bisa mengantarkannya mendapat pahala yg begitu besar, sudah tentu ia akan mendapat yg lebih besar lagi seandainya ia memakaikan baju yg baru.

Berikutnya Sya’ban melihat lagi suatu adegan saat dia hendak sarapan dg roti yg dimakan dg cara mencelupkan dulu ke segelas susu.
Ketika baru saja hendak memulai sarapan, muncullah pengemis di depan pintu yg meminta diberi sedikit roti karena sudah lebih 3 hari perutnya tidak diisi makanan.
Melihat hal tsb. Sya’ban merasa iba. Ia kemudian membagi dua roti itu sama besar, demikian pula segelas susu itu pun dibagi dua.
Kemudian mereka makan bersama2 roti itu yg sebelumnya dicelupkan susu, dg porsi yg sama.
Allah kemudian memperlihatkan ganjaran dari perbuatan Sya’ban RA dg surga yg indah.
Demi melihat itu diapun berteriak
lagi:
“ Aduuuh kenapa tidak semua……”
Sya’ban kembali menyesal .
Seandainya dia memberikan semua roti itu kepada pengemis tersebut tentulah dia akan mendapat surga yg lebih indah.

Masyaallah, Sya’ban bukan menyesali perbuatannya, tapi menyesali mengapa tidak optimal.
Sesungguhnya semua kita nanti pada saat sakratul maut akan menyesal tentu dengan kadar yang berbeda, bahkan ada yg meminta untuk ditunda matinya karena pada saat itu barulah terlihat dengan jelas konsekwensi dari semua perbuatannya di dunia.
Mereka meminta untuk ditunda sesaat karena ingin bersedekah.
Namun kematian akan datang pada waktunya, tidak dapat dimajukan dan tidak dapat dimundurkan.

Sering sekali kita mendengar ungkapan hadits berikut:

“Sholat Isya berjamaah pahalanya sama dengan sholat separuh malam.”

“Sholat Subuh berjamaah pahalanya sama dengan sholat sepanjang malam.”

“Dua rakaat sebelum Shubuh lebih baik dari pada dunia dan isinya.”

Namun lihatlah... masjid tetap saja lengang.
Seolah kita tidak percaya kepada janji Allah.

Mengapa demikian?
Karena apa yg dijanjikan Allah itu tidak terlihat oleh mata kita pada situasi normal.

Mata kita tertutupi oleh suatu hijab.
Karena tidak terlihat, maka yang berperan adalah iman dan keyakinan bahwa janji Allah tidak pernah meleset.
Allah akan membuka hijab itu pada saatnya.
Saat ketika nafas sudah sampai di tenggorokan.

Sya’ban RA telah menginspirasi kita
bagaimana seharusnya menyikapi janji Allah tsb.

Dia ternyata tetap menyesal sebagaimana halnya kitapun juga akan menyesal.
Namun penyesalannya bukanlah karena tdk menjalankan perintah Allah SWT.
Penyesalannya karena tidak melakukan kebaikan dgn optimal.

Semoga kita selalu bisa mengoptimalkan kebaikan-kebaikan disetiap kesempatan.
Aamiin.
      *Semoga Bermanfaat*

Sabtu, 25 Maret 2017

PESAN-PESAN BERHARGA DARI BUNDA.




Sebuah kisah Nasehat Bunda kepada Anaknya tercinta.

Suatu pagi, seorang anak gadis bertanya pada ibunya :

“Ibu, ibu selalu terlihat cantik. Aku ingin seperti Ibu, beritahu aku caranya.”

Dengan tatapan lembut & senyum haru, sang Ibu menjawab,

"Anak Ku. . .
“Untuk bibir yang menarik, ucapkanlah perkataan yang baik.”

“Untuk pipi yang lesung, tebarkanlah senyum ikhlas kepada siapa pun…”

“Untuk mata yang indah menawan, lihatlah selalu kebaikan orang lain…”

“Untuk tubuh yang langsing, sisihkanlah makanan untuk fakir miskin…”

“Untuk jemari tangan yang lentik menawan, hitunglah kebajikan yang telah diperbuat orang kepadamu…”

“Untuk wajah putih bercahaya, bersihkanlah kekotoran batin…”

"Anakku..
Janganlah sombong akan kecantikan fisik karena itu akan pudar oleh waktu.
Kecantikan perilaku tidak akan pudar walau oleh kematian.



~Biasakan ucapkan 4 kata kepada siapapun dengan santun: "Terima Kasih, Maaf, Tolong, dan Permisi."

~Jika kamu BENAR, maka kamu tidak perlu marah.

~Jika kamu SALAH, maka kamu wajib minta maaf.

~Kesabaran dengan keluarga adalah KASIH.

~Kesabaran dengan orang lain adalah HORMAT.

~Kesabaran dengan diri sendiri adalah KEYAKINAN.

~Kesabaran dengan ALLAH adalah IMAN.

~Jangan terlalu mengingat masa lalu, karena hal itu akan membawa AIR MATA.

~Jangan terlalu memikirkan masa depan, karena hal itu akan membawa KETAKUTAN.

~Jalankan saat ini dengan senyuman, karena hal itu akan membawa KECERIAAN !

~Setiap ujian dalam hidup ini bisa membuat kamu pedih atau lebih baik.

~Setiap masalah yang timbul bisa menguatkan atau bisa juga menghancurkan.

~Pilihan ada padamu, apakah kamu akan memilih menjadi korban ataupun pemenang.

~Carilah hati yang indah lagi baik dan bukan wajah yang cantik dan tampan.

~Hal-hal yang indah tidak selalu baik, tapi hal-hal yang baik akan selalu indah.



"HIDUPLAH DENGAN TUNTUNAN(AL-QUR'AN) UNTUK MENCAPAI IMAN..ISLAM...IKHSAN....SEMUA YG KITA PUNYA ADALAH SARANA DARI ALLAH SWT GUNAKANLAH DENGAN BAIK DAN BIJAK.
WALLAHU A'LAM BISHSHAWAB.

Jumat, 24 Maret 2017

KISAH IMAM MALIK BIN DINAR DENGAN PENCURI



DATANG UNTUK MENCURI, NAMUN MALAH HATINYA YANG DICURI

دخل لص في بيت مالك بن دينار رحمه الله فبحث عن شيء يسرقه فلم يجد ثم نظر فإذا بمالك يصلي.

Seorang pencuri memasuki rumah Imam Malik bin Dinar. Ia mencari sesuatu untuk dicuri, namun tidak mendapatkannya. Kemudian ia memperhatikan ternyata Imam Malik sedang shalat.

عندما سلّم مالك ونظر إلى اللص فقال:
جئت تسأل عن متاع الدنيا فلم تجد فهل لك في الآخرة من متاع ؟؟ فاستجاب اللص وجلس وهو يتعجب من الرجل!

Ketika Imam Malik selesai salam dan menoleh si pencuri, beliau berkata: "Engkau datang untuk mencari mata benda dunia namun tidak mendapatkannya, namun adakah Engkau memiliki mata benda akhirat?" Si pencuri menyahuti sapaan Imam Malik bin Dinar seraya duduk penuh keheranan.

فبدأ مالك يعظ فيه حتى بكى وذهبا معاً إلى الصلاة وفي المسجد تعجب الناس من أمرهما: "أكبر عالم مع أكبر لص ... أيعقل هذا؟؟!! " فسألوا مالكاً فقال لهم : جاء ليسرقنا فسرقنا قلبه.

Maka mulai lah Imam Malik menasehatinya hingga ia menangis. Kemudian keduanya berjalan bersama untuk menunaikan shalat. Di dalam mesjid orang-orang pada heran melihat keadaan mereka berdua: "Seorang alim besar kini telah bersama dengan pencuri kelas kakap. Adakah ini masuk akal?" Mereka bertanya kepada Imam Malik (apa yang sebenarnya terjadi), Maka Imam Malik mengatakan: Ia datang untuk mencuri sesuatu dari kami, namun akhirnya malah kami yang mencuri hatinya.

REFERENSI:
المصدر:- تاريخ الاسلام للذهبي المجلد الثاني صفحة رقم 144

Rabu, 22 Maret 2017

Nasehat-nasehat ABU H SYUKRI DAUD




Beberapa hal sebagai Obat bagi Hati.

1. Belajar Ilmu Agama

2. Mengingat Kematian

3. Memperbanyak Shadaqah

4. Membaca Al-Qur'an

5. Berbuat baik kepada Anak Yatim

6. Memakan makanan yang Halal

7. Mengerjakan Shalat

8. Bertafakkur

9. Menjauhi segala dosa-dosa ( besar dan kecil)

10. Menggunakan Nikmat Akal

11. Selalu mengingat ALLAH

12. Mengerjakan Shalat malam

13. Bergaul dengan orang-orang Shaleh

14. Berislam dengan baik

15. Mengingat Kiamat

Selasa, 21 Maret 2017

RAHASIA MENDAPATKAN KELEZATAN IMAN





عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ: ” ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ المَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّار

ِDari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:“Tiga perkara yang barangsiapa pada dirinya terdapat ketiga perkara tersebut niscaya ia akan meraih lezatnya keimanan:
(1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari manusia siapapun juga,
(2) mencintai seseorang semata-mata karena (orang tersebut taat kepada) Allah dan
(3) benci kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya dari kekafiran, sebagaimana rasa bencinya jika dilemparkan ke dalam neraka.”(HR.Bukhari no. 16 dan Muslim no. 43)

Seorang muslim senantiasa mencintai dan mengagungkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam.

Di antara wujud mencintai dan mengagungkan Nabi Muhammad SAW adalah:

1. Membenarkan wahyu Al-Qur’an dan As-sunnah (hadits nabawi) yang Beliau terima dari ALLAH SWT.
2. Melaksanakan perintah-perintah Beliau, baik hal yang wajib maupun yang sunnah.
3. Menjauhi larangan-larangan Beliau, baik hal yang haram maupun yang makruh.
4. Mempelajari, mengajarkan, mendakwahkan dan memperjuangkan ajaran agama Islam yang Beliau bawa.
5. Menjadikan syari'at Beliau, Al-Qur’an dan as-sunnah, sebagai satu-satunya pedoman hidup dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.
6. Mengorbankan jiwa raga, harta, tenaga, pikiran dan waktu untuk memperjuangkan tegaknya syari'at Beliau.
7. Memanjatkan shalawat kepada beliau dan memohon kepada Allah agarkelak di hari kiamat diperkenankan menerima syafaat Beliau.
8. Memusuhi dan membenci orang-orang yang membenci, memusuhi, mencaci maki dan melecehkan Beliau.

Sabtu, 04 Maret 2017

BENARKAH...??? Teman bisa membawa kita masuk SYURGA...!

Marilah sahabatku.. "Ulurkan tanganmu, akan Ku bawa Engkau menuju ke SYURGA". 



Sebaik-baik Teman adalah yang menyebutkan kesalahanmu lalu menasihatinya, Dan sejahat-jahat teman adalah yang menyebutkan kesalahanmu lalu menghinanya.
Karena teman yang baik akan mengajakmu kepada kebaikan dan Taat kepada ALLAH SWT, sehingga Engkau mendapatkan Keridhaan dan Kasih sayang-Nya. Dan akhirnya Engkau dimasukkan oleh ALLAH kedalam Syurga-Nya.


 Berkata Umar bin Khattab Radhiyallahu 'anhu:
Tidaklah seorang hamba diberi kenikmatan yang lebih besar setelah keislaman, selain sahabat yang sholih. Maka apabila kalian mendapati teman yang sholih, peganglah ia erat-erat":```


Berkata Imam Syafi'i:
" Apabila kalian memiliki teman - yg membantumu dalam ketaatan- maka genggam erat tangannya, karena mendapatkan seorang sahabat itu sulit sedangkan berpisah darinya itu mudah":


Berkata Al Hasan Al Bashri:
" Sahabat2 kami lebih kami cintai daripada keluarga dan anak2 kami, karena keluarga kami mengingatkan kami pada dunia, sedangkan sahabat2 kami mengingatkan kami pada akhirat. Dan sebagian sifat mereka adalah : itsar (mendahulukan orang lain dalam perkara dunia):```


 Berkata Luqman Al hakim pada anaknya:
" Wahai anak ku hendaknya yang pertama engkau usahakan setelah keimanan kepada Allah adalah mencari sahabat yang jujur. Karena ia ibarat pohon, bila engkau duduk berteduh di bawahnya, ia akan meneduhimu, bila engkau mengambil buahnya dia akan mengenyangkanmu, dan bila ia tidak memberimu manfaat, ia tidak merugikanmu"```


Ketika Imam Ahmad rahimahullah sakit, sampai terbaring di tempat tidurnya, sahabat beliau, Imam Syafi'i rahimahullah menjenguknya. Maka tatkala Imam Syafii melihat sahabatnya sakit keras, beliau sangat sedih, sehingga menjadi sakit karenanya. Maka ketika Imam Ahmad mengetahui hal ini, beliau menguatkan diri untuk menjenguk Imam Syafi'i. Ketika beliau melihat Imam Syafi'i beliau berkata:
Kekasihku sakit, dan aku menjenguknya
Maka aku ikut menjadi sakit
karenanya
Kekasihku telah sembuh dan ia
menjengukku
Maka aku menjadi sembuh
setelah melihatnya


 Ya Allah berikan kepada kami sahabat sahabat yang sholih

 Allah berfirman :
: {وسيق الذين اتقوا ربهم إلى الجنة زمرا} .
Imam Ibnul Qayyim berkata menafsirkan ayat ini: "Allah enggan memasukkan manusia ke dalam surga dalam keadaan sendirian, maka setiap orang akan masuk surga bersama sama dengan sahabatnya"

 Aku memohon kepada Allah, dengan nama-namaNya dan sifat-sifatNya yang mulia, agar kita menjadi sahabat sejati dalam ketaatan, yang kelak tangan-tangan ini akan menggandeng tangan yang lain memasuki surgaNya. Aamiin ya Rabbal 'aalamiin


Wahai para sahabat-sahabat ku yg shaleh dan shalehah ingatlah diriku ketika kelak ALLAH memasukan dirimu ke surga-NYA.. gandenglah tanganku agar aku dapat beriring bersama denganmu menuju surga Allah SWT.

ABON AZIZ SAMALANGA, ULAMA KARISMATIK DARI BIREUEN.


Abon Aziz Samalanga: Ulama Karismatik Aceh Bergelar Al-Manthiqi



ABON Aziz Samalanga merupakan sosok berhimmah tinggi dalam menuntut ilmu. Walaupun beliau telah alim dan menguasai kitab, namun dengan dorongan himmah seakan ilmu masih sangat kurang. Disebutkan bahwa setelah beliau mengabdi menjadi guru beberapa tahun, tepatnya pada tahun 1951 Abon melanjutkan pendidikan ke dayah yang tersohor di bawah pimpinan seorang ulama besar Al-Mukarram Al-Mursyid Abuya Muda Waly Al-Khalidy, tepatnya di dayah pesisir pantai Dayah Darussalam Labuhan Haji, Aceh Selatan.

Ketinggian ilmu Abuya dalam segala disiplin ilmu agama telah dikenal sewilayah nusantara bahkan luar negeri. Beliau juga seorang pengamal dan pelopor tarekat Naqsyabandiah di Aceh dan sering dikenal dengan panggilan Abuya Muda Waly . Abon Aziz belajar di Dayah Darussalam lebih kurang selama tujuh tahun.

Kebiasaan mereka yang melanjutkan pendidikan ke Dayah Labuhan Haji adalah mereka yang telah belajar kitab tinggi seperti Al-Mahally bahkan telah menjadi orang alim dan pimpinan dayah di daerah asalnya termasuk Abon Aziz Sendiri.

Namun sampai di dayah tersebut mereka belajar kembali dengan kitab yang terendah hingga kelas tinggi dan Abuya sendiri yang mengajarkannya.

Pernah dalam sebuah pidato Almarhum Abon Tanjongan, beliau merupakan murid Abon Aziz, selama di Labuhan Haji menjadi asisten Abon Aziz untuk membawakan kitab-kitab Abon Aziz selama belajar dengan Abuya. Selama di Darussalam Labuhan Haji, beliau belajar dengan sangat  tekun, bahkan pada saat muthala`ah beliau membuka segala kitab yang berkenaan dengan pelajaran yang sedang beliau pelajari, sehingga kamar beliau terlihat berserakan dengan kitab.

Abon sangat disiplin dan memiliki semangat luar biasa dalam mengajar, sehingga dalam keadaan sakitpun beliau tetap antusias mengajar.

Salah seorang cucu Abuya Muhibbuddin Waly, Teungku Naqsyabandi, beliau mendengar sendiri dari Abuya Doktor Muhibbudin Waly bahwa ketika Aboen Aziz al Mantiqi sudah enam tahun lebih belajar di Zawiyah Darussalam, Abuya Muda Waly menyuruh Aboen Aziz untuk pulang kampung dan mengamalkan ilmunya. Namun, Abon Aziz belum mau pulang dan beliau berkata kepada Abuya: “Abuya, saya belum ada keinginan untuk pulang kampung, karena saya ingin belajar seluruh ilmu Abuya”.

Lalu menjawab oleh Abuya Muda Waly: “Ilmu yang ada pada kamu saja sekarang masih semata kaki saya, kamu tidak akan bisa menghabiskan ilmu saya. Oleh karena itu sekarang kamu pulang dan amalkan ilmu yang ada.”
Akhirnya Abon Aziz al Mantiqi mematuhi perintah Sang Guru untuk pulang dan mengamalkan ilmu. (Naqsyabandi, 2017)

Akhirnya pada tahun 1958 Abon kembali lagi ke Dayah  MUDI Mesjid Raya Samalanga untuk mengembangkan ilmunya. Pada tahun tersebut pimpinan Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga yang sebelumnya meninggal dunia, sehingga Abon diangkat menjadi pimpinan dayah tersebut.

Semenjak dayah  MUDI  berada di bawah kepemimpinannya, banyak perubahan terjadi, terutama menyangkut tentang kurikulum pendidikan yang semula tidak terlalu fokus pada ilmu-ilmu alat (bantu) seperti ilmu manthiq, ushul al-fiqh, bayan, ma‘ani, dan lain-lain.

Gelar yang disandang oleh Abon mengisyaratkan bahwa spesialis keahlian Abon yang sangat menonjol adalah dalam bidang ilmu manthiq sehingga Abon digelar dengan al-Manthiqi.

Namun jangan sampai kita mengambil kesimpulan keliru seolah-olah Abon Aziz yang mampu mantiq saja, itu pemahaman keliru, namun Abon juga sangat pandai dalam bidang ilmu lainnya.

Semoga penjelasan yang singkat ini menjadi tambahan ilmu untuk saudara-saudara semua.