Sabtu, 25 Maret 2017

PESAN-PESAN BERHARGA DARI BUNDA.




Sebuah kisah Nasehat Bunda kepada Anaknya tercinta.

Suatu pagi, seorang anak gadis bertanya pada ibunya :

“Ibu, ibu selalu terlihat cantik. Aku ingin seperti Ibu, beritahu aku caranya.”

Dengan tatapan lembut & senyum haru, sang Ibu menjawab,

"Anak Ku. . .
“Untuk bibir yang menarik, ucapkanlah perkataan yang baik.”

“Untuk pipi yang lesung, tebarkanlah senyum ikhlas kepada siapa pun…”

“Untuk mata yang indah menawan, lihatlah selalu kebaikan orang lain…”

“Untuk tubuh yang langsing, sisihkanlah makanan untuk fakir miskin…”

“Untuk jemari tangan yang lentik menawan, hitunglah kebajikan yang telah diperbuat orang kepadamu…”

“Untuk wajah putih bercahaya, bersihkanlah kekotoran batin…”

"Anakku..
Janganlah sombong akan kecantikan fisik karena itu akan pudar oleh waktu.
Kecantikan perilaku tidak akan pudar walau oleh kematian.



~Biasakan ucapkan 4 kata kepada siapapun dengan santun: "Terima Kasih, Maaf, Tolong, dan Permisi."

~Jika kamu BENAR, maka kamu tidak perlu marah.

~Jika kamu SALAH, maka kamu wajib minta maaf.

~Kesabaran dengan keluarga adalah KASIH.

~Kesabaran dengan orang lain adalah HORMAT.

~Kesabaran dengan diri sendiri adalah KEYAKINAN.

~Kesabaran dengan ALLAH adalah IMAN.

~Jangan terlalu mengingat masa lalu, karena hal itu akan membawa AIR MATA.

~Jangan terlalu memikirkan masa depan, karena hal itu akan membawa KETAKUTAN.

~Jalankan saat ini dengan senyuman, karena hal itu akan membawa KECERIAAN !

~Setiap ujian dalam hidup ini bisa membuat kamu pedih atau lebih baik.

~Setiap masalah yang timbul bisa menguatkan atau bisa juga menghancurkan.

~Pilihan ada padamu, apakah kamu akan memilih menjadi korban ataupun pemenang.

~Carilah hati yang indah lagi baik dan bukan wajah yang cantik dan tampan.

~Hal-hal yang indah tidak selalu baik, tapi hal-hal yang baik akan selalu indah.



"HIDUPLAH DENGAN TUNTUNAN(AL-QUR'AN) UNTUK MENCAPAI IMAN..ISLAM...IKHSAN....SEMUA YG KITA PUNYA ADALAH SARANA DARI ALLAH SWT GUNAKANLAH DENGAN BAIK DAN BIJAK.
WALLAHU A'LAM BISHSHAWAB.

Jumat, 24 Maret 2017

KISAH IMAM MALIK BIN DINAR DENGAN PENCURI



DATANG UNTUK MENCURI, NAMUN MALAH HATINYA YANG DICURI

دخل لص في بيت مالك بن دينار رحمه الله فبحث عن شيء يسرقه فلم يجد ثم نظر فإذا بمالك يصلي.

Seorang pencuri memasuki rumah Imam Malik bin Dinar. Ia mencari sesuatu untuk dicuri, namun tidak mendapatkannya. Kemudian ia memperhatikan ternyata Imam Malik sedang shalat.

عندما سلّم مالك ونظر إلى اللص فقال:
جئت تسأل عن متاع الدنيا فلم تجد فهل لك في الآخرة من متاع ؟؟ فاستجاب اللص وجلس وهو يتعجب من الرجل!

Ketika Imam Malik selesai salam dan menoleh si pencuri, beliau berkata: "Engkau datang untuk mencari mata benda dunia namun tidak mendapatkannya, namun adakah Engkau memiliki mata benda akhirat?" Si pencuri menyahuti sapaan Imam Malik bin Dinar seraya duduk penuh keheranan.

فبدأ مالك يعظ فيه حتى بكى وذهبا معاً إلى الصلاة وفي المسجد تعجب الناس من أمرهما: "أكبر عالم مع أكبر لص ... أيعقل هذا؟؟!! " فسألوا مالكاً فقال لهم : جاء ليسرقنا فسرقنا قلبه.

Maka mulai lah Imam Malik menasehatinya hingga ia menangis. Kemudian keduanya berjalan bersama untuk menunaikan shalat. Di dalam mesjid orang-orang pada heran melihat keadaan mereka berdua: "Seorang alim besar kini telah bersama dengan pencuri kelas kakap. Adakah ini masuk akal?" Mereka bertanya kepada Imam Malik (apa yang sebenarnya terjadi), Maka Imam Malik mengatakan: Ia datang untuk mencuri sesuatu dari kami, namun akhirnya malah kami yang mencuri hatinya.

REFERENSI:
المصدر:- تاريخ الاسلام للذهبي المجلد الثاني صفحة رقم 144

Rabu, 22 Maret 2017

Nasehat-nasehat ABU H SYUKRI DAUD




Beberapa hal sebagai Obat bagi Hati.

1. Belajar Ilmu Agama

2. Mengingat Kematian

3. Memperbanyak Shadaqah

4. Membaca Al-Qur'an

5. Berbuat baik kepada Anak Yatim

6. Memakan makanan yang Halal

7. Mengerjakan Shalat

8. Bertafakkur

9. Menjauhi segala dosa-dosa ( besar dan kecil)

10. Menggunakan Nikmat Akal

11. Selalu mengingat ALLAH

12. Mengerjakan Shalat malam

13. Bergaul dengan orang-orang Shaleh

14. Berislam dengan baik

15. Mengingat Kiamat

Selasa, 21 Maret 2017

RAHASIA MENDAPATKAN KELEZATAN IMAN





عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ: ” ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ المَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّار

ِDari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:“Tiga perkara yang barangsiapa pada dirinya terdapat ketiga perkara tersebut niscaya ia akan meraih lezatnya keimanan:
(1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari manusia siapapun juga,
(2) mencintai seseorang semata-mata karena (orang tersebut taat kepada) Allah dan
(3) benci kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya dari kekafiran, sebagaimana rasa bencinya jika dilemparkan ke dalam neraka.”(HR.Bukhari no. 16 dan Muslim no. 43)

Seorang muslim senantiasa mencintai dan mengagungkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam.

Di antara wujud mencintai dan mengagungkan Nabi Muhammad SAW adalah:

1. Membenarkan wahyu Al-Qur’an dan As-sunnah (hadits nabawi) yang Beliau terima dari ALLAH SWT.
2. Melaksanakan perintah-perintah Beliau, baik hal yang wajib maupun yang sunnah.
3. Menjauhi larangan-larangan Beliau, baik hal yang haram maupun yang makruh.
4. Mempelajari, mengajarkan, mendakwahkan dan memperjuangkan ajaran agama Islam yang Beliau bawa.
5. Menjadikan syari'at Beliau, Al-Qur’an dan as-sunnah, sebagai satu-satunya pedoman hidup dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.
6. Mengorbankan jiwa raga, harta, tenaga, pikiran dan waktu untuk memperjuangkan tegaknya syari'at Beliau.
7. Memanjatkan shalawat kepada beliau dan memohon kepada Allah agarkelak di hari kiamat diperkenankan menerima syafaat Beliau.
8. Memusuhi dan membenci orang-orang yang membenci, memusuhi, mencaci maki dan melecehkan Beliau.

Sabtu, 04 Maret 2017

BENARKAH...??? Teman bisa membawa kita masuk SYURGA...!

Marilah sahabatku.. "Ulurkan tanganmu, akan Ku bawa Engkau menuju ke SYURGA". 



Sebaik-baik Teman adalah yang menyebutkan kesalahanmu lalu menasihatinya, Dan sejahat-jahat teman adalah yang menyebutkan kesalahanmu lalu menghinanya.
Karena teman yang baik akan mengajakmu kepada kebaikan dan Taat kepada ALLAH SWT, sehingga Engkau mendapatkan Keridhaan dan Kasih sayang-Nya. Dan akhirnya Engkau dimasukkan oleh ALLAH kedalam Syurga-Nya.


 Berkata Umar bin Khattab Radhiyallahu 'anhu:
Tidaklah seorang hamba diberi kenikmatan yang lebih besar setelah keislaman, selain sahabat yang sholih. Maka apabila kalian mendapati teman yang sholih, peganglah ia erat-erat":```


Berkata Imam Syafi'i:
" Apabila kalian memiliki teman - yg membantumu dalam ketaatan- maka genggam erat tangannya, karena mendapatkan seorang sahabat itu sulit sedangkan berpisah darinya itu mudah":


Berkata Al Hasan Al Bashri:
" Sahabat2 kami lebih kami cintai daripada keluarga dan anak2 kami, karena keluarga kami mengingatkan kami pada dunia, sedangkan sahabat2 kami mengingatkan kami pada akhirat. Dan sebagian sifat mereka adalah : itsar (mendahulukan orang lain dalam perkara dunia):```


 Berkata Luqman Al hakim pada anaknya:
" Wahai anak ku hendaknya yang pertama engkau usahakan setelah keimanan kepada Allah adalah mencari sahabat yang jujur. Karena ia ibarat pohon, bila engkau duduk berteduh di bawahnya, ia akan meneduhimu, bila engkau mengambil buahnya dia akan mengenyangkanmu, dan bila ia tidak memberimu manfaat, ia tidak merugikanmu"```


Ketika Imam Ahmad rahimahullah sakit, sampai terbaring di tempat tidurnya, sahabat beliau, Imam Syafi'i rahimahullah menjenguknya. Maka tatkala Imam Syafii melihat sahabatnya sakit keras, beliau sangat sedih, sehingga menjadi sakit karenanya. Maka ketika Imam Ahmad mengetahui hal ini, beliau menguatkan diri untuk menjenguk Imam Syafi'i. Ketika beliau melihat Imam Syafi'i beliau berkata:
Kekasihku sakit, dan aku menjenguknya
Maka aku ikut menjadi sakit
karenanya
Kekasihku telah sembuh dan ia
menjengukku
Maka aku menjadi sembuh
setelah melihatnya


 Ya Allah berikan kepada kami sahabat sahabat yang sholih

 Allah berfirman :
: {وسيق الذين اتقوا ربهم إلى الجنة زمرا} .
Imam Ibnul Qayyim berkata menafsirkan ayat ini: "Allah enggan memasukkan manusia ke dalam surga dalam keadaan sendirian, maka setiap orang akan masuk surga bersama sama dengan sahabatnya"

 Aku memohon kepada Allah, dengan nama-namaNya dan sifat-sifatNya yang mulia, agar kita menjadi sahabat sejati dalam ketaatan, yang kelak tangan-tangan ini akan menggandeng tangan yang lain memasuki surgaNya. Aamiin ya Rabbal 'aalamiin


Wahai para sahabat-sahabat ku yg shaleh dan shalehah ingatlah diriku ketika kelak ALLAH memasukan dirimu ke surga-NYA.. gandenglah tanganku agar aku dapat beriring bersama denganmu menuju surga Allah SWT.

ABON AZIZ SAMALANGA, ULAMA KARISMATIK DARI BIREUEN.


Abon Aziz Samalanga: Ulama Karismatik Aceh Bergelar Al-Manthiqi



ABON Aziz Samalanga merupakan sosok berhimmah tinggi dalam menuntut ilmu. Walaupun beliau telah alim dan menguasai kitab, namun dengan dorongan himmah seakan ilmu masih sangat kurang. Disebutkan bahwa setelah beliau mengabdi menjadi guru beberapa tahun, tepatnya pada tahun 1951 Abon melanjutkan pendidikan ke dayah yang tersohor di bawah pimpinan seorang ulama besar Al-Mukarram Al-Mursyid Abuya Muda Waly Al-Khalidy, tepatnya di dayah pesisir pantai Dayah Darussalam Labuhan Haji, Aceh Selatan.

Ketinggian ilmu Abuya dalam segala disiplin ilmu agama telah dikenal sewilayah nusantara bahkan luar negeri. Beliau juga seorang pengamal dan pelopor tarekat Naqsyabandiah di Aceh dan sering dikenal dengan panggilan Abuya Muda Waly . Abon Aziz belajar di Dayah Darussalam lebih kurang selama tujuh tahun.

Kebiasaan mereka yang melanjutkan pendidikan ke Dayah Labuhan Haji adalah mereka yang telah belajar kitab tinggi seperti Al-Mahally bahkan telah menjadi orang alim dan pimpinan dayah di daerah asalnya termasuk Abon Aziz Sendiri.

Namun sampai di dayah tersebut mereka belajar kembali dengan kitab yang terendah hingga kelas tinggi dan Abuya sendiri yang mengajarkannya.

Pernah dalam sebuah pidato Almarhum Abon Tanjongan, beliau merupakan murid Abon Aziz, selama di Labuhan Haji menjadi asisten Abon Aziz untuk membawakan kitab-kitab Abon Aziz selama belajar dengan Abuya. Selama di Darussalam Labuhan Haji, beliau belajar dengan sangat  tekun, bahkan pada saat muthala`ah beliau membuka segala kitab yang berkenaan dengan pelajaran yang sedang beliau pelajari, sehingga kamar beliau terlihat berserakan dengan kitab.

Abon sangat disiplin dan memiliki semangat luar biasa dalam mengajar, sehingga dalam keadaan sakitpun beliau tetap antusias mengajar.

Salah seorang cucu Abuya Muhibbuddin Waly, Teungku Naqsyabandi, beliau mendengar sendiri dari Abuya Doktor Muhibbudin Waly bahwa ketika Aboen Aziz al Mantiqi sudah enam tahun lebih belajar di Zawiyah Darussalam, Abuya Muda Waly menyuruh Aboen Aziz untuk pulang kampung dan mengamalkan ilmunya. Namun, Abon Aziz belum mau pulang dan beliau berkata kepada Abuya: “Abuya, saya belum ada keinginan untuk pulang kampung, karena saya ingin belajar seluruh ilmu Abuya”.

Lalu menjawab oleh Abuya Muda Waly: “Ilmu yang ada pada kamu saja sekarang masih semata kaki saya, kamu tidak akan bisa menghabiskan ilmu saya. Oleh karena itu sekarang kamu pulang dan amalkan ilmu yang ada.”
Akhirnya Abon Aziz al Mantiqi mematuhi perintah Sang Guru untuk pulang dan mengamalkan ilmu. (Naqsyabandi, 2017)

Akhirnya pada tahun 1958 Abon kembali lagi ke Dayah  MUDI Mesjid Raya Samalanga untuk mengembangkan ilmunya. Pada tahun tersebut pimpinan Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga yang sebelumnya meninggal dunia, sehingga Abon diangkat menjadi pimpinan dayah tersebut.

Semenjak dayah  MUDI  berada di bawah kepemimpinannya, banyak perubahan terjadi, terutama menyangkut tentang kurikulum pendidikan yang semula tidak terlalu fokus pada ilmu-ilmu alat (bantu) seperti ilmu manthiq, ushul al-fiqh, bayan, ma‘ani, dan lain-lain.

Gelar yang disandang oleh Abon mengisyaratkan bahwa spesialis keahlian Abon yang sangat menonjol adalah dalam bidang ilmu manthiq sehingga Abon digelar dengan al-Manthiqi.

Namun jangan sampai kita mengambil kesimpulan keliru seolah-olah Abon Aziz yang mampu mantiq saja, itu pemahaman keliru, namun Abon juga sangat pandai dalam bidang ilmu lainnya.

Semoga penjelasan yang singkat ini menjadi tambahan ilmu untuk saudara-saudara semua.

Jumat, 03 Maret 2017

Banyak Manusia mewah dalam Kehidupan, Tapi TERNYATA...??? SIA-SIA DAN KERUGIAN BESAR. . . !

Mungkin kita lupa akan tujuan hidup ini, mari kita telusuri...



‌RENUNGAN...

Pikirkanlah wahai saudaraku, apa tujuan hidup kita sebenarnya, jangan sampai kita menjadi orang yang rugi karena lupa akan kewajiban kita sesungguhnya.

>  Kita mengetahui, bahwa Shalat 5 (lima) waktu itu wajib tetapi kita malas untuk melaksanakannya, walaupun badan kita sehat.

>  Kita mengetahui, bahwa membayar zakat itu wajib tetapi kita enggan untuk mengeluarkannya, walaupun kita mempunyai banyak harta.

>  Kita mengetahui, bahwa puasa di bulan ramadhan itu wajib tetapi kita membangkang tidak mau menjalaninya, walaupun kita kuat untuk menahan lapar dan dahaga.

>  Kita mengetahui, bahwa berhaji ke Baitullah itu  wajib tetapi kita sulit untuk berjalan kepadanya, walaupun sudah mampu kita menjalaninya.

▶ Kita mengetahui, bahwa ucapan "Subhaanallaahi wa bihamdihi" sebanyak 100 kali dalam sehari akan menghapuskan dosa-dosa kita, walaupun dosa kita sebanyak buih di lautan.
Akan tetapi sayang, Berapa banyak hari kita yang berlalu tanpa kita mengucapkannya sedikit pun.

▶Kita mengetahui, bahwa pahala dua rakaat Shalat Dhuha setara dengan pahala 360 sedekah, akan tetapi sayang, Hari berganti hari tanpa kita melakukan solat Dhuha.

▶ Kita mengetahui, bahwa orang yang berpuasa sunnah kerana Allah satu hari saja, akan dijauhkan wajahnya dari api neraka sejauh 70 musim atau 70 tahun perjalanan....
Tapi sayang, kita tidak mahu menahan lapar.

▶Kita mengetahui, bahwa siapa yang menjenguk orang sakit akan diikuti oleh 70 ribu malaikat yang memintakan ampun untuknya. Tapi sayang,
kita belum juga menjenguk satu orang sakit pun minggu ini.

▶Kita mengetahui, bahwa siapa yang membantu membangun masjid kerana Allah walaupun hanya sebesar sarang burung, akan dibangunkan sebuah rumah di syurga...
Tapi sayang, kita tidak tergerak hati untuk membantu pembangunan masjid walaupun hanya dengan beberapa rupiah.

▶Kita mengetahui, bahwa siapa yang membantu ibu tunggal (janda) dan anak yatimnya, pahalanya seperti berjihad di jalan Allah, atau seperti orang yang berpuasa sepanjang hari tanpa berbuka, atau orang yang solat sepanjang malam tanpa tidur. Tapi sayang, sampai saat ini kita tidak berniat membantu seorang pun anak yatim.

▶Kita mengetahui, bahwa orang yang membaca satu huruf dari Al-Qur'an, baginya sepuluh kebaikan dan satu kebaikan akan di lipatgandakan sepuluh kali.
Tapi sayang, kita tidak pernah meluangkan waktu membaca Al-Qur'an dalam jadwal harian kita.

▶ Kita mengetahui, bahwa Haji yang mabrur, tidak ada pahala baginya kecuali syurga, dan akan diampuni dosa-dosanya sehingga kembali suci seperti saat dilahirkan oleh ibunya.
Tapi sayang, kita tidak bersemangat untuk melaksanakannya, padahal kita mampu melaksanakannya.

▶Kita mengetahui, bahwa orang mukmin yang paling mulia adalah yang yang paling banyak shalat malam, dan bahawasanya Rasulullah SAW dan para sahabatnya tidak pernah meremehkan shalat malam di tengah segala kesibukan dan jihad mereka.
Tapi sayang kita terlalu meremehkan shalat malam.

▶Kita mengetahui, bahwa hari kiamat pasti terjadi, tanpa ada keraguan, dan pada hari itu ALLAH akan membangkitkan semua yang ada di dalam kubur.
Tetapi sayang, kita tidak pernah mempersiapkan diri untuk hari itu.

▶Kita sering menyaksikan orang-orang yang meninggal mendahului kita. Tetapi sayang, kita selalu hanyut dengan senda gurau dan permainan dunia seakan kita mendapat jaminan hidup selamanya.



Renungkanlah wahai saudaraku, betapa ruginya hidup kita ini. Hari berganti hari Minggu berganti minggu Bulan berganti bulan bahkan Tahun berganti tahun, tetapi Hidup kita penuh dengan sia-sia karena tidak beribadah, beramal shaleh, dan Takwa kepada ALLAH SWT.

Oleh sebab itu pergunakanlah sebaik-baiknya waktu kita, umur kita, kesehatan kita, hidup kita, dan kesempatan yang masih ALLAH berikan. Sebagaimana Sabda Nabi Muhammad SAW :

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم  :
اغتنم خمسا قبل خمس ،  شبابك قبل هرمك وصحتك قبل سقمك وغناك قبل فقرك وفراغك قبل شغلك وحياتك قبل موتك (الحديث)
Artinya :
"Rasulullah SAW bersabda ; pergunakanlah lima perkara sebelum datangnya yang lima, masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, waktu kayamu sebelum datang waktu sakitmu, waktu luangmu sebelum tiba waktu sibukmu, dan waktu hidupmu sebelum datang waktu matimu. "  (Al Hadist)

" "semoga bermanfaat untuk saudara-saudaraku sekalian. . .

Kamis, 02 Maret 2017

HUBUNGAN RASULULLAH SAW DENGAN ACEH. Aceh (Serambi Mekkah) dikenal seluruh Dunia.

HUBUNGAN RASULULLAH SAW DENGAN ACEH.
Aceh (Serambi Mekkah) dikenal seluruh Dunia

Inilah Bukti Bahwa Rasulullah SAW Pernah Menyebut Nama Aceh



Segala puji bagi Allah yang telah menghendaki segala sesuatu terhadap Nabi Muhammad SAW, baik segala keajaiban yang diturunkan oleh-Nya dimasa hidup Rasulullah ataupun hal yang akan terjadi. Inilah salah satu mukjizat dari ratusan mukjizat Nabi kita Muhammad SAW. Terkadang ada mukjizat yang Allah turunkan untuk nabi hanya untuk disaksikan para umat yang hidup dimasa beliau ataupun mukjizat beliau yang dapat dirasakan oleh umat setelahnya, salah satu dari mukjizat ini adalah kepengetahuan Nabi akan masa depan. Tentunya banyak riwayat yang mendukung mukjizat ini sebagai bukti kenabian beliau, baik persaksian yang tertulis didalam al-Qur'an ataupun para sahabat-sahabat beliau.


Namun perlu diketahui bahwa sebenarnya nabi pernah menyebutkan nama satu wilayah yang kedepan wilayah ini akan menjadi negara islam dan akan banyak memunculkan para ulama dan wali-wali Allah SWT. Nama wilayah ini dalam sebuah hadist nabi yang sampai saat ini belum diketahui sanad dan perawinya adalah "Negri diatas angin" atau disebut "Aceh". Adapun kebenaran berita ini tentunya harus kita teliti lebih mendalam lagi, apalagi siapa dan kapan hadist ini muncul pertama kali tentunya harus diteleti kembali.


Akan tetapi walaupun pada kenyataan bahwa hadist nabi mengenai Aceh tersebut masih belum dijadikan istidlal hukum namun dari beberapa riwayat cerita dan pendapat beliau-beliau mengenai apakah aceh ini benar pernah disebut-sebut oleh Nabi sebagai negri diatas angin menjadi pendukung barang bukti bagi hadist nabi tersebut menjadi hal yang harus kita terima. Karena sesungguhnya pun para ulama dan wali Allah adalah orang-orang yang wajib kita percayai. Dibawah ini akan dijelaskan sedikit bukti-bukti pendukung bahwa Aceh memang pernah disebutkan oleh Nabi sebagai negri para wali Allah.


Yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah, apakah hadist ini betul adanya atau memang hanya sebuah kalimat warisan turun temurun dari nenek moyang bangsa melayu ?


Membuktikan keberadaan hadist ini dapat dubuktikan melalui beberapa bukti yang ada terdapat dibawah ini :


Rasulullah SAW, pernah bersabda :


“…Pada zaman Nabi Muhammad Rasul Allah salla’llahu ‘alaihi wassalama tatkala lagi hajat hadhrat yang maha mulia itu, maka sabda ia pada sahabat baginda di Mekkah, demikian sabda baginda Nabi: “Bahwa sepeninggalku ada sebuah negeri di atas angin samudera namanya. Apabila ada didengar khabar negeri itu maka kami suruh engkau (menyediakan) sebuah kapal membawa perkakas dan kamu bawa orang dalam negeri (itu) masuk Islam serta mengucapkan dua kalimah syahadat. Syahdan, (lagi) akan dijadikan Allah Subhanahu wa ta’ala dalam negeri itu terbanyak daripada segala Wali Allah jadi dalam negeri itu“….


Pertama : Status Hadist Dalam Beberapa Hikayat Lama Aceh


Di beberapa riwayat kitab dan menurut pendapat ahli sejarawan, termasuk salah seorang ahli sejarawan berkebangsaan indonesia yang tinggal di malaysia, bernama Prof. Dr. Muhammad Syed Naquib al-Attas di buku terbarunya “Historical Fact and Fiction” menyebutkan bahwa keberadaan hadist nabi tentang aceh tersebut betul adanya. Beliau menemukan hadist ini dari beberapa naskah lama kerajaan aceh dan malaysia yang juga pernah tertuliskan hadist ini didalamnya. selain itu akuan keberadaan hadist ini juga disebutkan dibeberapa buku karya sejarah melayu.


Kedua : Bukti Melalui Sejarah


Menurut para ahli sejarah melayu mengatakan, bahwa hadist yang dimaksudkan oleh Nabi ini tertuju kemasa kerajaan Samudra Pasai. Kerajaan Samudra Pasai ini berdiri setelah 600 tahun nabi meninggal dunia. Namun ahli sjearawan berbeda pendapat, bahwa aceh sudah dikenal sejak paertama kali islam mulai masuk ke aceh pada abad ke 7. Menurut riwayat bahwa Masa sahabat Umar bin Khattab, penyebaran islam keseluruh dunia sudah dimulai, hingga masuk ke jalur ujung sumatra, yaitu Aceh. Pendapat ini didapat dari buku Aceh Sepanjang Abad, karya M. Said.


Bukti lain dapat dilihat dari salah seorang ulama yang bernama Syeikh Rukunuddin di Barus (Fansur) adalah salah seorang sahabat Nabi yang telah lama tinggal di sumatra atau aceh.


Bukti sejarah lain juga dapat dilihat dari perkembangan islam yang telah menyebar ke beberapa wilayah dimana rasulullah baru saja meninggal. seperti contohnya sahabat Rasulullah yang bernama Sa'ad bin Abi Waqash, yang ditugaskan oleh nabi untuk menyebarkan islam kebeberapa wilayah. Namun dimasa Rasulullah wafat beliau terus menyebarkan islam keseluruh tanah arabia hingga cina dan meninggal disana. Pergerakan penyebaran islam ini sama artinya bahwa islam bukan hanya turun ke cina namun ke beberapa tempat yang menjadi jalur perjalanan sahabat Sa'ad bin Abi Waqash untk ke cina. Maka dapat disimpulkan aceh disaat itu juga menjadi arah jalan penyebaran islam.


Ketiga : Bukti secara Geografis



Masyarakat Quraish dimasa itu tidak hanya berhubungan politik dan ekonomi dengan beberapa suku atau wilayah disekitarnya, namun mereka juga berhubungan dengan bangsa lain, baik persia dimasa itu atapun cina. hal ini dapat dibuktikan saat Hindun (Istri dari paman Nabi Muhammad, Abu Sufyan) pernah membeli sehelai kain dari tenunan bangsa cina.




Sepertimana yang telah dijelaskan diatas bahwa dimasa khalifah rasyidin berdiri sahabat Sa'ad bin Abi Waqash telah menyebarkan islam ke cina. Untuk menuju kesini beliau dan beberapa sahabat setelahnya membutuhkan jalur perjalanan dekat untuk menuju kesana. Salah satunya adalah melalui jalur laut, jalur laut ini menjadi arah paling mudah untuk dituju. Karena melalui darat tentu berbagai macam rintangan seperti melalui padang pasir dan bahan-bahan makanan serta minuman yang dibutuhkan juga banyak dibutuhkan, oleh karenanya dahulu orang arab menyebarkan islam melalui jalur laut.


Secara Geografis, peta cina berada di ujung sebelah kanan tanah arab, maka untuk menuju kesana harus melalui laut, dan melalui laut tentu harus melewati beberapa tempat persinggahan, yaitu india dan ujung sumatra. Maka dapat dipastikan Sa'ad bin Abi Waqash tidaklah sendiri ia membuat perjalanan ini namun beliau membawa para sahabat dan umat islam lainnya, sudah barang pasti persinggahan untuk menuju ke cina salah satunya adalah Ujung Sumatra, atau Aceh. Untuk itu islam secara tidak langsung juga sudah mulai masuk di aceh.


Keempat : Hikayat dari Para Ulama dan Wali


salah satu bukti bahwa hadist tersebut betul ada adalah melalui cerita atau hikayat para ulama dan wali-wali Allah SWT. Kita tentunya wajib mempercayai hikayat ini karena memang pada hakikatnya melawan ulama dan para wali adalah perbuatan dosa, karena mereka adalah hamba-hamab Allah yang dijaga oleh-Nya. Salah satu cerita yang pernah penulis dengar adalah sebuah hikayat yang pernah diceritakan oleh seorang wali Allah yang tidak boleh disebutkan namanya. Beliau adalah salah seorang wali Aceh. Kisah ini saya dapatkan dari cerita seorang anak alm. Abuya Jamaluddin Waly, bahwa beliau pernah berjumpa dengan wali Allah ini, Wali Allah tersebut bercerita :




"Bahwa dahulu Nabi SAW saat berjalan menuju ke Baitul Maqdis dalam Isra Miraj-nya, beliau mengendarai Buraq ditemani oleh Malaikat Jibril untuk keliling dunia (Dalam sejarah hanya dijelaskan bahwa nabi langsung menuju ke Baitul Maqdis).  Saat nabi keliling dunia tersebut itulah nabi melihat ada satu cahaya yang terus terbit dari salah satu wilayah di dunia, cahaya ini timbul dari ujung Sumatra, yaitu Aceh. Saat itulah nabi meminta turun kepada jibril untuk melihat keindahan cahaya tersebut, dan nabi pun turun kesana untuk melihat. Lalu rasulullah bertanya kepada jibril "Mengapakah tempat ini bercahaya, wahai Jibril ?", Jibril menjawab " Ini adalah wilayah islam yang suatu saaat nanti Allah akan memunculkan dari kalangan umatmu banyak para wali Allah dan Ulama-ulama besar". lalu nabi pun berangkat kembali untuk menuju ke baitul maqdis. Beliau tidak pernah turun ketempat lain saat perjalanan ini terjadi kecuali hanyalah tempat bercahaya tersebut. "Jika engkau (untuk Amri Jamaluddin Waly, yang mempunyai cerita ini) ingin mengetahui bukti secajarah ini maka ziarahlah ke 8 wali di seluruh aceh maka engkau pasti akan menemukannya".


Inilah cerita yang penulis dapatkan. Karena kejadian inilah yang menjadi asbabul wurud (sebab hadirnya) haidts nabi mengenai Aceh.


Kisah ini diakui oleh beberapa ulama Aceh, termasuk Abuya Prof. Dr. Tgk. H. Muhibbuddin Waly, Abu Muhammad Amin Blang Blahdeh, Abu Ibrahim Woyla, dan beberapa pengakuan ulama dan wali Allah lainnya.


Kelima : Banyak Kerabat Nabi SAW di Aceh


Abu Ibrahim WoylaIni adalah bukti selanjutnya, bahwa di aceh sejak masa kerajaan dulu kala hingga masih banyak keturunan dan kerabat saudara dari Rasulullah SAW. Salah satunya adalah Abuya Muda Waly, banyak riwayat mengatakan bahwa silsilah beliau berasal dari Sahabat Abu Bakar As-Siddiq. Hal ini pernah diungkapkan oleh seorang wali Allah Aceh yang juga murid Abuya Muda Waly, beliau adala Abu Ibrahim Woyla. Beliau (Abu Ibrahim) pernah bercertia saat beliau berkunjung ke Meulaboh untuk melihat salah satu qur'an ajaib disana, saat itu beliau bertutur bahwa "Jangan pernah bermain-main dengan Abu Muda Waly karena beliau adalah keturunan Abu Bakar As-Shiddiq". bukti bahwa Abu Muda Waly adalah kerabat nabi bukan hanya berasala dari riwayat Abu Ibrahim Woyla namun para ulama dan wali Allah lainnya juga mengakuinya, termasuk Wali Allah Abu Qasim Kajhu sependapat dengan ini. Dan juga wali Allah yang tidak disebutkan namanya diatas tadi, beliau juga menyebutkan hal yang sama.





Abuya Muda Waly Menurut penelitian pakar sejarah dan ahli nasab di Aceh, ahlul bayt atau keturunan Nabi saw angkatan pertama yang tiba di Asia Tenggara, tepatnya di Aceh-Sumatra adalah Abdullah bin Hasan Mutsanna bin Hasan bin Ali atau cicit Nabi Muhammad saw. Beliau hijrah ke kepulauan Nusantara ini setelah singgah dan menetap di pelabuhan Chambia (Kambei) India untuk mengembangkan misi perjuangan keluarga Rasulullah saw. Sejarah tidak mencatat, apakah beliau meninggal di wilayah ini atau kembali ke tanah Arab.


Nama Abdullah disebut dalam ikhtisar Radja Jeumpa oleh Ibrahim Abduh yang disadurnya dari Hikayat Radja Jeumpa. Tersebutlah sebelum kedatangan Islam di daerah Jeumpa sudah berdiri salah satu Kerajaan Hindu Purba Aceh yang dipimpin turun temurun oleh seorang Meurah. Tibalah seorang saudagar muslim keturunan Arab bernama Abdullah di sana pada awal abad ke 8 Masehi. Selanjutnya Abdullah tinggal bersama penduduk dan menyiarkan agama Islam. Rakyat di negeri tersebut dengan mudah menerima Islam karena tingkah laku, sifat dan karakternya yang sopan dan sangat ramah. Dia dinikahkan dengan putri Raja bernama Ratna Kumala. Akhirnya Abdullah dinobatkan menjadi Raja menggantikan bapak mertuanya. Dan masih banyak lagi.

Keenam : Persahabatan antara Aceh dan Arab

Semenjak tersebarnya islam di aceh yang dimulai pada abad ke-7 hingga akhir masa kerajaan pada tahun 1880-an, hubungan aceh dan arab sangatlah erat. Tidak hanya sisi ekonomi namun dalam hal agama jugalah menjadi patokan penting untuk saling berkomunikasi dan meminta pendapat antar kedua negara tersebut. Hal ini dapat dibuktikan di salah satu wilayah masjidil haram terdapat harta tanah waqaf yang disumbagkan oleh aceh untuk perluasan masjidil haram. Salah satunya terletak di daerah Qusyasyiah bertepatan dengan bab al-Fath Masjidil Haram, Lokasi ini berada seperti hotel Ajyad (Funduk Ajyad) bertingkat 25 dan Menara Ajyad (Burj Ajyad) bertingkat 28 yang berjarak  sekitar 500-600 meter dari Masjidil Haram. Kedua hotel tersebut mampu menampung lebih  dari 7.000 jamaah yang dilengkapi dengan infrastruktur lengkap. Wakaf tersebut semakin bertambah dengan pembelian beberapa aset lagi. Hasil sumbangan, sedekah, dan infak hujjaj Aceh diwakafkan dalam bentuk tanah dan rumah di seputar Masjidil Haram tersebut yang dikoordinir  oleh Habib Bugak sekitar tahun 1224 H/ 1809 M.




Sebagian berpendapat bahwa nama asli Habib Bugak adalah Habib Abdurrahman bin Alwi al-Habsyi dari Monklayu. Sebagian lagi menyebut ia berasal dari daerah Bugak di Aceh Timur, Bireuen atau Pidie. Sulitnya informasi tersebut diakibatkan tidak ada bukti tertulis  secara komprehensif. Melalui lembaran sarakata (surat Sultan) Aceh yang saya peroleh, tertera stempel kesultanan yang menunjukkan originalitasnya. Disebutkan bahwa ia bernama Sayyid ‘Abdurrahman bin ‘Alwi Peusangan, yang diberi kuasa pengelolaan tanah di wilayah Mutiara di sebelah barat Blang Pancang hingga Krueng Air sebelah timur dan hingga perbatasan Krueng Geukueh.


Ketujuh : Keturunan Bangsa Aceh di Arab Saudi

Hubungan yang cukup erat antara Arab dan Aceh dibuktikan juga dengan terdapatnya garis keturunan bangsa aceh yang sebahagiannya adalah keturunan nabi di sekitaran masjidil arab dan dibeberapa wilayah arab lainnya. Salah satu contohnya seperti Syeik Abdul Ghani Asyi yang pernah menjabat sebagai ketua Bulan Sabit Merah Timur Tengah, kemudian Alm. Dr. Jalal Asyi, mantan ketua mentri kesehatan Arab Saudi, DR. Ahmad Asyi, ia pernah menjabat sebagai Mentri Haji dan Waqaf dan beberapa orang lainnya. yang disebutkan ini adalah sebahagiannya saja dan hanya orang-orang yang berada di pemerintahan, namun keturunan lainnya masih banyak terdapat di beberapa wilayah timur tengah sana yang tidak kita ketahui.

Diriwayatkan bahwa pada tahun 1672 M, Syarif Barakat penguasa Mekkah pada akhir abad ke 17 mengirim duta besarnya ke timur. Mencari sumbangan untuk pemeliharaan Masjidil Haram. Karena kondisi Arab pada saat itu masih dalam keadaan miskin. Kedatangan mareka ke Aceh setelah Raja Moghol, Aurangzeb (1658-1707) tidak mampu memenuhi keinginan Syarif Barakat itu. Dia saat itu belum sanggup memberi sumbangan seperti biasanya ke Mesjidil Haram. Setelah empat tahun rombongan Mekkah ini terkatung katung di Delhi India. Atas nasehat pembesar di sana, rombongan ini berangkat ke Aceh dan tiba di Aceh pada tahun 1092 H (1681M). Sampai di Aceh, duta besar Mekkah ini disambut dan dilayani dengan baik dan hormat oleh Sri Ratu Zakiatuddin Inayatsyah (1678-1688 M). Di luar dugaan, kedatangan utusan syarif Mekkah ini menyulut semangat kelompok wujudiyah yang anti pemerintahan perempuan. Namun, karena sosok Sultanah Zakiatuddin yang ‘alim dan mampu berbahasa Arab dengan lancar. Bahkan menurut sejarah, dia berbicara dengan para tamu ini dengan menggunakan tabir dari sutra Dewangga (Jamil: 1968).

Utusan Arab sangat gembira diterima olehSri Ratu Zakiatuddin, karena mareka tidak mendapat pelayanan serupa ketika di New Delhi, India. Bahkan empat tahun mareka di India, tidak dapat bertemu Aurangzeb. Ketika mereka pulang ke Mekkah, Sri Ratu Zakiatuddin Inayat Syah, memberi mareka tanda mata untuk rombongan dan Syarif Mekkah juga sumbangan untuk Mesjidil Haram dan dan Mesjidil Nabawi di Madinah terdiri dari: tiga kinthar mas murni, tiga rathal kamfer, kayu cendana dan civet (jeuebeuet musang), tiga gulyun (alat penghisap tembakau) dari emas, dua lampu kaki (panyot-dong) dari emas, lima lampu gantung dari emas untuk Masjidil Haram, lampu kaki dan kandil dari emas untuk Masjid Nabawi.

Pada tahun 1094 (1683 M) mareka kembali ke Mekkah dan sampai di Mekkah pada bulan Sya’ban 1094 H (September 1683 M). Dua orang bersaudara dari rombongan duta besar Mekkah ini yakni Syarif Hasyim dan Syarif Ibrahim, tetap menetap di Aceh atas permintaan para pembesar negeri Aceh yang dalam anti raja perempuan (Jamil: 1968). Mereka dibujuk untuk tetap tinggal di Aceh sebagai orang terhormat dan memberi pelajaran agama dan salah satu dari mereka, kawin dengan Kamalat Syah, adik Zakiatuddin Syah. Lima tahun kemudian setelah duta besar Mekkah kembali ke Hijaz dengan meninggalkan Syarif Hasyim dan Syarif Ibrahim di Aceh, Sultanah Sri Ratu Zakiatuddin Inayat Syah wafat tepat pada hari Ahad 8 Zulhijjah 1098H (3 Oktober 1688 M). Pemerintahan Aceh digantikan oleh adiknya yaitu Seri Ratu Kamalatsyah yang bergelar juga Putroe Punti. Dia diangkat menjadi Ratu pemerintahan kerajaan Aceh atas saran Syeikh Abdurrauf Al Fansury yang bertindak pada saat itu sebagai Waliyul-Mulki (Wali para Raja).

Baru setelah meninggalnya Syeikh Abdurrauf pada malam senin 23 Syawal 1106 H (1695M), konflik mengenai kedudukan pemerintahan Aceh dibawah pemerintahan ratu yang telah berlangsung 54 tahun sejak Safiatuddin Syah(1641-1675M), terguncang kembali. Hal ini dipicu oleh fatwa dari Qadhi Mekkah tiba. Menurut sejarah, “fatwa import” ini tiba dengan “jasa baik” dari golongan oposisi ratu. Lalu pemerintah Aceh, diserahkan kepada penguasa yang berdarah Arab, yaitu salah satu dua utusan Syarif dari Mekkah, yakni suami Ratu Kemalatsyah, Syarif Hasyim menjadi raja pada hari Rabu 20 Rabi`ul Akhir 1109 H (1699M). Menurut sejarah, Ratu tersebut dimakzulkan akibat dari “fatwa import” tersebut. Lalu kerajaan Aceh memiliki seorang pemimpin yang bergelar Sultan Jamalul Alam Syarif Hasyim Jamalullail (1110-1113 H/1699-1702M). dengan berkuasanya Syarif Hasyim awal dari dinasti Arab menguasai Aceh sampai dengan tahun 1728 M. Inilah bukti sejarah bahwa kekuasaan para Ratu di Aceh yang telah berlangsung 59 tahun hilang setelah adanya campur tangan pihak Mekkah, paska para ratu ini menyumbang emas ke sana. Aceh yang dipimpin oleh perempuan selama 59 tahun bisa jadi bukti bagaimana sebenarnya tingkatemansipasi perempuan Aceh saat itu (Azyumardi Azra, 1999).

Terkait dengan sumbangan emas yang diberikan oleh Ratu kepada rombongan dari Mekkah, ternyata menjadi perbincangan dan perdebatan di Mekkah. Disebutkan bahwa sejarah ini tercatat dalam sejarah Mekkah dimana disebutkan bahwa emas dan kiriman Sultanah Aceh tiba di Mekkah di bulan Syakban 1094 H/1683 M dan pada saat itu Syarif Barakat telah meninggal. Pemerintahan Mekkah digantikan oleh anaknya Syarif Sa’id Barakat (1682-1684 M).

Snouck Hurgronje, menuturkan “Pengiriman Seorang Duta Mekkah ke Aceh Pada Tahun 1683” sempat kagum terhadap kehebatan Aceh masa lalu dan dicatat dalam bukunya, dimana sewaktu dia tiba di Mekkah pada tahun 1883. Karena Kedermawaan Bangsa dan Kerajaan Aceh masa itu, Masyarakat Mekkahmenyebut Aceh Sebagai "Serambi Mekkah" di sana. Ternyata sumbangan Kerajaan Aceh 200 tahun yang lalu masih selalu hangat dibicarakan disana. Menurutnya berdasarkan catatan sejarah Mekkah yang dipelajarinya barang barang hadiah itu sempat disimpan lama di rumah Syarif Muhammad Al Harits sebelum dibagikan kepada para Syarif yang berhak atas tiga perempat dari hadiah dan sedekah diberikan kepada kaum fakir miskin sedangkan sisanya diserahkan kepada Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Begitu juga tradisi wakaf orang Aceh di tanah Arab sebagai contoh tradisi wakaf umum, ialah wakaf habib Bugak Asyi yang datang ke hadapan Hakim Mahkmah Syariyah Mekkah pada tanggal 18 Rabiul Akhir tahun 1224 H. Di depan hakim dia menyatakan keinginannya untuk mewakafkan sepetak tanah dengan sebuah rumah dua tingkat di atasnya dengan syarat; rumah tersebut dijadikan tempat tinggal jemaah haji asal Aceh yang datang ke Mekkah untuk menunaikan haji dan juga untuk tempat tinggal orang asal Aceh yang menetap di Mekkah. Sekiranya karena sesuatu sebab tidak ada lagi orang Aceh yang datang ke Mekkah untuk naik haji maka rumah wakaf ini digunakan untuk tempat tinggal para pelajar (santri, mahasiswa) Jawi (nusantara) yang belajar di Mekkah. Sekiranya karena sesuatu sebab mahasiswa dari Nusantara pun tidak ada lagi yang belajar di Mekkah maka rumah wakaf ini digunakan untuk tempat tinggal mahasiswa Mekkah yang belajar di Masjid Haram. Sekiranya mereka ini pun tidak ada juga maka wakaf ini diserahkan kepada Imam Masjid Haram untuk membiayai kebutuhan Masjid Haram.

Menurut sejarah, sebenarnya bukan hanya wakaf habib Bugak yang ada di Mekkah, yang sekarang hasilnya sudah dapat dinikmati oleh para jamaaah haji dari Aceh tiap tahunnya lebih kurang 2000 rial per jamaah. Peninggalan Aceh di Mekkah bukan hanya sumbangan emas pada masa pemerintahan ratu ini juga harta harta wakaf yang masih wujud sampai saat ini seperti :

Wakaf Syeikh Habib Bugak Al Asyi',
Wakaf Syeikh Muhammad Saleh Asyi dan isterinya Syaikhah Asiah (sertifikat No. 324) di Qassasyiah,
Wakaf Sulaiman bin Abdullah Asyi di Suqullail (Pasar Seng),
Wakaf Muhammad Abid Asyi,
Wakaf Abdul Aziz bin Marzuki Asyi,
Wakaf Datuk Muhammad Abid Panyang Asyi di Mina,
Wakaf Aceh di jalan Suq Al Arab di Mina,
Wakaf Muhammad Saleh Asyi di Jumrah ula di Mina,
Rumah Wakaf di kawasan Baladi di Jeddah,
Rumah Wakaf di Taif,
Rumah Wakaf di kawasan Hayyi al-Hijrah Mekkah.
Rumah Wakaf di kawasan Hayyi Al-Raudhah, Mekkah,
Rumah Wakaf di kawasan Al Aziziyah, Mekkah.
Wakaf Aceh di Suqullail, Zugag Al Jabal, dikawasan Gazzah, yang belum diketahui pewakafnya.
Rumah wakaf Syech Abdurrahim bin Jamaluddin Bawaris Asyi (Tgk Syik di Awe Geutah, Peusangan) di Syamiah Mekkah,
Syech Abdussalam bin Jamaluddin Bawaris Asyi (Tgk di Meurah, Samalanga) di Syamiah, Abdurrahim bin Abdullah bin Muhammad Asyi di Syamiah dan Chadijah binti Muhammad bin Abdullah Asyi di Syamiah.

Inilah bukti bagaimana generous antara ibadah dan amal shaleh orang Aceh di Mekkah.Mereka lebih suka mewakafkan harta mereka, ketimbang dinikmati oleh keluarga mereka sendiri. Namun, melihat pengalaman Wakaf Habib Bugak, agaknya rakyat Aceh sudah bisa menikmati hasilnya sekarang.

Fenomena dan spirit ini memang masih sulit kita jumpai pada orang Aceh saat ini, karena tradisi wakaf tanah tidak lagi dominan sekali. Karena itu, saya menganggap bahwa tradisi leluhur orang Aceh yang banyak mewakafkan tanah di Arab Saudi perlu dijadikan sebagai contoh tauladan yang amat tinggi maknanya. Hal ini juga dipicu oleh kejujuran pengelolalaan wakaf di negeri ini, dimana semua harta wakaf masih tercatat rapi di Mahkamah Syariah Saudi Arabia.

Sebagai bukti bagaimana kejujuran pengelolaan wakaf di Arab Saudi, Pada tahun 2008 Mesjidil haram diperluas lagi kekawasan Syamiah dan Pasar Seng. Akibatnya ada 5 persil tanah wakaf orang Aceh terkena penggusuran. Tanah wakaf tersebut adalah kepunyaan Sulaiman bin Abdullah Asyi, Abdurrahim bin Jamaluddin Bawaris Asyi (Tgk Syik di Awe Geutah, Peusangan), Syech Abdussalam bin Jamaluddin Bawaris Asyi (Tgk di Meurah, Samalanga), Abdurrahim bin Abdullah bin Muhammad Asyi dan Chadijah binti Muhammad bin Abdullah Asyi. Di Mekkah juga penulis sempat bertemu dengan Saidah Taliah Mahmud Abdul Ghani Asyi serta Sayyid Husain seorang pengacara terkenal di Mekkah untuk mengurus pergantian tanah wakaf yang bersetifikat no 300 yang terletak di daerah Syamiah yang terkena pergusuran guna perluasan halaman utara Mesjidil haram Mekkah al Mukarramah yang terdaftar petak persil penggusuran no 608. Yang diwakafkan oleh Syech Abdurrahim Bawaris Asyi (Tgk Syik di Awe Geutah, Peusangan) dan adiknya Syech Abdussalam Bawaris Asyi (Tgk di Meurah, Samalanga).

Memang pada asalnya 75 persen tanah di sekitar Mesjidil Haram adalah tanah wakaf apakah itu wakaf khusus atau wakaf umum. Dan sebagiannya ada milik orang orang Aceh dulu dan ini bagian dari kejayaan Aceh yang pernah masuk dalam 5 besar negeri Islam di dunia bersama Turki, Morroko, Iran, Mughal India dan Aceh Darussalam di Asia tenggara. Menurut peraturan pemerintah Saudi Arabia para keluarga dan nadhir dapat menuntuk ganti rugi dengan membawa bukti kepemilikan (tentu memerlukan proses yang lama ie menelusuri siapa nadhir tanah wakaf tersebut, penunjukan pengacara dll) dan bisa menghadap pengadilan agama Mekkah menutut ganti rugi dan penggantian dikawasan lain di Mekkah sehingga tanah wakaf tersebut tidak hilang. Kalau seandainya tidak ada keluarga pewakaf lagi khusus untuk wakaf keluarga maka sesuai dengan ikrar wakaf akan beralih milik mesjidil haram atau baital mal. Inilah pelajaran atau hikmah tradisi wakaf di Mekkah yang semoga bisa menjadi contoh yang baik bagi pengelolaan wakaf di Aceh.

Mekkah Tempo Dulu

Itulah secuil catatan yang tercecer, tentang wakaf orang Aceh di Tanah Arab, walaupun generasi sekarang hanya mengenal bahwa Aceh adalah Serambi Mekkah. Namun sebenarnya ada rentetan sejarah yang menyebabkan Aceh memang pernah memberikan kontribusi penting terhadap pembinaan sejarah Islam di Timur Tengah. Karena itu, selain Aceh memproduksi Ulama, ternyata dari segi materi, rakyat Aceh juga memberikan sumbangan dan wakaf yang masih bisa ditelusuri hingga hari ini.

Karena itu, saya menduga kuat bahwa tradisi Islam memang telah dipraktikkan oleh orang Aceh saat itu, dimana “tangan di atas, lebih baik daripada tangan di bawah”. Akibatnya, kehormatan orang Aceh sangat disegani, baik oleh kawan maupun lawan. Dalam hal ini, harus diakui bahwa Snouck telah “berjasa” merekam beberapa akibat dari episode sejarah kehormatan orang Aceh.

Inilah pelajaran penting bagi peneliti sejarah Aceh, dimana selain bukti-bukti otentik, sejarah juga bisa ditulis melalui oral history (sejarah lisan). Pelajaran ini sangat penting bagi generasi sekarang untuk melacak dimana peran orang Aceh di beberapa negara, termasuk di Timur Tengah.

Inilah sekelumit hasil muhibbah saya ke Arab Saudi dan saya benar-benar terkesima dengan pengakuan identitas "Asyi" dan pola pengelolaan wakaf di Arab Saudi. Selain ini, di dalam perjalanan ini, saya sempat berpikir apakah nama baik orang Aceh di Arab Saudi bisa sederajat dengan nama baik Aceh di Indonesia dan di seluruh dunia. Yang menarik adalah hampir semua negara yang saya kunjungi, nama Aceh selalu dihormati dan dipandang sebagai bagian dari peradaban dunia.


Inilah beberapa bukti bahwa sebenarnya bahwa walaupun sanad hadist ini tidak disebutkan dari beberapa bukti diatas telah menunjukkan bahwa terdapat sisi kesinambungan bukti bahwa Rasullah pernah menyebutkan bahwa Aceh ini adalah negara islam dan tempat dimana banyak para wali dan ulama Allah muncul. Dan memang terbukti bahwa sekrang saja di aceh banyak para ulama yang muncul, mulai dari Hamzah fansuri, Syeikh Kuala hingga Abuya Muda Waly dan murid-muridnya hingga sekarang saat ini. Itulah sebabnya mengapa aceh disebut Serambi Mekkah, kerena jika ibarat Masjidil Haram, Kakbahnya adalah di Makkah maka teras menuju ke Kakbah adalah Acehnya.


Semoga tulisan ini dapat menjadi bahan referensi kita sebagai orang aceh yang selalu cinta kepada para wali Allah dan ulama-ulama-Nya juga negri tanah air ini.


Note :
Dari berbagai referensi

ABU IBRAHIM WOYLA ( Ulama Pengembara Dari Aceh)

Sebuah Kisah Perjalanan Abu Ibrahim Woyla (Auliya Allah) Dengan Muridnya


Tulisan ini diangkat daripada sekelumit kisah perjalanan seorang sosok Waliullah Abu Ibrahim Woyla dengan seorang muridnya. Maka tersebutlah pada hari 18 Ramadhan 2003 berjumpalah murid dengan Abu Ibrahim Wayla di Rantau Sialang Aceh Selatan.




Tanya murid kepada beliau:
"Maaf Guru, di dalam kita melaksanakan syari'at Islam ini, madzhab apa yang terbaik kita pakai?

Dengan tersenyum Abu Ibrahim Wayla menjawab:
"Madzhab apa saja boleh dari keempat madzhab itu. Terserah apa yang ananda yakini, tidak masalah, Tuhan Maha Tahu niat di hati kita!"

Saya tidak puas dengan jawaban guru saya itu, lalu saya bertanya lagi:
"Bolehkah saya tahu Tuan Guru sendiri bermadzhab siapa?"

"Madzhab Imam Syafi'i," jawabnya singkat.

Dari keempat imam itu, kenapa Tuan Guru ambil Imam Syafi'i?"

"Tidak usah kau tanyakan hal itu lagi, Nak baik.. Lebih baik kau amalkan saja apa yang sudah ananda yakini. Nanti ananda akan diberi hidayah, yang semua amalan kerjakan saja dengan ikhlas karena Allah!" jawab Abu Ibrahim Wayla.

Murid pun tak bertanya lagi, dan kamipun pergi terus menuju Buket Gadeng Bakongan Aceh Selatan, ziarah ke makam Teuku Raja Angkasah.

Berceritalah Abuya Ibrahim Wayla (kini almarhum) kepada murid tentang madzhab, serita seorang yang tersesat ditemui beliau di hutan Trumon.

Lantas beliau (Buya Ibrahim Wayla) menanyakan buat apa ke dalam hutan sendiri, terjauh dari keramaian, orang yang tersesat itu mengenak pakaian serba putih, katanya ia ingin mencari obat untuk anaknya yang sakit.

Kemudian Buya Ibrahim Wayla bertanya:
Kenapa tidak diajak teman datang kemari (ke hutan ini)?

Orang sebaruh baya itu menjawab: "Tidak ada yang mau diajak, biarlah saya sendiri saja, lagi pula kan ada Tuan teman saya di sini," sahut orang itu.

Kemudian orang itu bertanya, " Kemana arah kiblat Tuan? Saya mau shalat dhuhur, "

Abuya Ibrahim Wayla pun bingung, karena mereka berada dalam hutan lebat belantara. Namun secara sepontan Buya Ibrahim Wayla berkata: "Kemana saja kita hadapkan saat-saat seperti ini adalah itulah kiblat, ayo shalat kita, saya juga belum shalat dhuhur."

Buya Ibrahim Wayla pun membuka sarung yang melilit di lehernya dan dibentangkannya sebagai sajadah (tikar sembahyang), mula-mula Buya Ibrahim Wayla menolak jadi imam, tapi orang yang tersesat itu juga menolak menjadi imam. Akhirnya Buya Ibrahim Wayla yang maju ke depan sedikit untuk mengimami makmumnya yang 1 orang itu.
Abuya Ibrahim Wayla mengambil sebatang kayu kecil sebesar tongkat lalu diletakkannya di depan kain sarung.

Pendek cerita begitru mereka selesai shalat berjamaah, orang yang tersesat tadi jadi bingung , karena kayu yang diletakkan di depan sajadah tadi sudah berada di belakangnya, artinya arah kiblat mereka melakukan shalat sudah benar.

Saat mau berpisah, berkatalah orang tersesat ini kepada Buya Ibrahim Wayla:
"Kemana pula arah saya mau pulang Tuan?"

Buya Ibrahim Wayla menjawab:
"Kemana kamu yakin? Berjalan terus sambil minta tolong kepada Allah taala."

Lantas sehabis dia bercerita murid menyela:
"Nah apa hubungannya dengan madzhab Tuan Guru?"

"Begini sekarang yang duluan ananda ketahui apa? Nah itu dulu jalankan dengan ikhlas sampai bertemu yang lebih benar, begitu kata Abu Woyla.

Kemudian pada pertemuan muridnya pada waktu yang lain, bertanya pulalah tentang Tauhid kepada beliau (Abuya Ibrahim Wayla): "Ajarilah saya wahai Tuan Guru tentang Tauhid."

Beliau menjawab:
" Ada empat tingkatan tentang Tauhid. Ia terbagi menjadi biji, biji dari biji, kulit dari biji, dan kulit dari kulit seperti buah jauz.“

-Pertama, iman dengan perkataan semata-mata adalah kulit dari kulit, yaitu iman kaum munafiq, semoga Allah melindungi kita.

-Kedua, mempunyai makna kalimat, yaitu iman kaum muslimin pada umumnya.

-Ketiga, ,menyaksikan itu dengan cara kasyaf, yaitu kedudukan orang-orang yang dekat dengan Allah. Ia melihat banyak sebab, tetapi sebenarnya adalah Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.

-Keempat, hanya melihat satu, yaitu penyaksian orang-orang siddiq, dan para sufi menamakannya lenyap dalam tauhid. Maka ia tidak melihat dirinya karena batinnya hanyut dalam Al-Wahidul Haq (tuhan Yang Maha Esa dan Maha Benar). Itulah yang dimaksud oleh perkataan Abi Yazid, "Aku dibuat lupa terhadap diriku."

Maksudnya;
Pertama, ia adalah iman dengan lisan saja tidaklah bermanfaat, kecuali dalam menolak pedang dan mrelindungi harta dan darah.
Rasulullah SAW bersabda, " Apabila mereka mengucapkannya, maka mereka telah melindungi harta dan darah mereka dariku."

Kedua, menegaskan Tuhan dengan arti meyakini dengan hatinya makna kalimat itu tanpa meragukannya, tetapi tiada rasa lapang di dalam batinnya. Keadaan ini melindungi pelakunya dari siksaan di akhirat jika ia wafat dalam keadaan itu dan tidak melemahkannya dengan dengan sering berbuat maksiat.

Ketiga, menegaskan Tuhan dengan arti dadanya menjadi lapang. Maka ia pun hanya menyaksikan satu walaupun sebabnya banyak. Ia tahu bahwa sumbernya dari Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Benar.

Keempat, yakin haqqul yaqin dengan memasrahkan diri pada Allah dan hanya melihat Dia yang maha Esa hanyut dalam batin.

Di sini berkatalah orang yang tidak memancar di hatinya cahaya Allah yang dimaksud dengan firman Allah SWT :
"Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk menerima agama Islam, lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya sama dengan yang membantun hatinya."
(Surat Az-Zumar ayat: 22).

Beliau berkata:
"Bagaimana kita bisa melihat semuanya satu, padahal kita melihat berbagai sebab dari langit dan bumi serta melihat jumlah yang banyak.”

Berkata beliau lagi, mengungkapkan rahasia-rahasian ini tidak mungkin karena seorang arif berkata:

"Menyia-nyiakan rahasia ketuhanan adalah kufur".

Akan tetapi kita kemukakan sesuatu yang memenangkan kebenaran, yaitu bahwa benda dapat dikatakan banyak dengan suatu pertimbangan. Seperti manusia yang ditinjau dan bagian-bagiannya adalah banyak, tetapi karena ia merupakan satu orang, maka ia dianggap satu.

Inilah yang diisyaratkan oleh Al Husein bin Mansur ketika melihat Al-Khawas bepergian jauh. Maka ia berkata, "Kenapa engkau pergi jauh?"
Al-Khawas menjawab: "Aku pergi jauh untuk memperbaiki keadaank dalam bertawakal."

Al Husein berkata: "Engkau telah menghabiskan umurmu dalam memakmurkan batinmu, maka kapan engkau mengalami kefanaan dalam mengesakan Tuhanmu?

Al-Khawas berada dalam tingkatan ketiga, maka Al Husein memintanya untuk masuk tingkat keempat.
"Jika engkau katakan, "terangkan kepada kami keadaan ketiga jika engkau tidak menerangkan yang keempat."

Maka murid katakan, "Hal itu dapat dicapai bila engkau ketahui bahwa tiada Pencipta selain Allah SWT dan tidak bergerak satu debu pun di langit dan bumi kecuali dengan izin Allah SWT.

Tiada kemiskinan dan kekayaan, tiada kematian dan kehidupan, kecuali dengan izin Allah SWT dan Allah SWT pencipta semua makhluk.
Maka siapa yang menyaksikan ini dan mengetahui bahwa tiada Tuhan selain Dia, ia pun tidak membutuhkan selain Allah dan tidak mengandalkan sesuatu, karena semuanya tunduk di bawah kekuasaan-Nya!

Apabila raja memberi maaf, maka tidaklah dilihat kepada pena dan kertas tidak mensyukuri keduanya, tetapi melihat kepada penulisnya yaitu raja, lalu mensyukurinya.
Maka siapa melihat kepada kekasih selain Allah SWT, ia pun seperti melihat kepada pena, kertas, tinta, dan mensyukurinya.

Orang yang mengesakan Tuhan tersebut ialah orang yang kagum kepada keindahan raja sehingga tidak menyaksikan pena atau memikirkan adanya pena dan tinta, bahkan tidak melihat dan tidak menyebutnya.
Beliau panjang lebar memberikan penjelasan kepada murid yang dicatat dan disusunnya kembali dengan redaksi yang rapih.

Kemudian ada kesimpulan yang diberikan beliau kepada muridnya yaitu:
"Nak, Maka janganlah mengandalkan makan, minum, nikah, tempat tinggal, serta segala kebutuhanmu, melainkan sekedar yang engkau perlukan saja tidak lebih untuk menegakkan badan serta menghidupi dirimu. Inilah zuhud yang hakiki (mutlak).

Demikian tulisan ini diangkat langsung dari kisah nyata seorang murid yang mulia Abu Ibrahim Woyla, semoga dapat kita ambilkan pelajarannya.

Kita tidak pernah tahu, ternyata jin sering Meniduri Manusia, terutama para wanita

 Cara Jin Meniduri Manusia Tanpa Sepengetahuan Kita



forex, cancer, surgery, health, nurse, insurance, mesothelioma, law firm, tax, donate car, loan, scholarship, mortgage
Ketahui Cara Jin Meniduri Wanita dan Cara Menghindarinya -
Sudah harus menjadi kesadaran bagi kita untuk mewaspadai gangguan jin atas wanita-wanita muslimah. Oleh karenanya izinkan saya memaparkan beberapa hal yang sangat rentan bagi wanita atas kejahatan jin itu sendiri.

Perlu diketahui, wanita adalah mangsa empuk bagi jin maupun dukun untuk melampiaskan kejahatannya. Wanita lebih mudah kesurupan, di santet, dan disihir oleh dukun. Dan itu lebih rentan apabila dalam keadaan haidh, ditambah lagi kondisi lahir dan batin yang tidak bersih.
Rasul bersabda, ketika wanita keluar rumah maka setan akan menghiasi mereka depan dan belakang. Depan di bagian wajah dan belakang di bagian pinggul. Oleh karenanya kenapa wanita disebut akan mendatangkan fitnah ketika keluar rumah, dianjurkan bagi mrka agar berpakaian menutup dan berdoa serta berzikir agar setan tidak menghiasi mereka serta tidak memudharatkan mereka.
Jin sangat senang melihat aurat, dan itu terlebih lagi bagi wanita. Ketika Rasul pulang kerumah dari gua Hira, Khatijah membuka baju beliau dan menanyakan apakah makhluk (jibril) masih ada? Jika tidak maka itu malaikat dan jika ada maka itu setan. Karena setan senang melihat aurat manusia. Sedang Rasul dalam keadaan ketakutan masa itu. Dan jibril telah pergi.
Begitu juga dgn wanita, pastikan membaca doa (minimal Bismillah ) ketika membuka aurat, niscaya Allah akan memberi hijab sehingga alam ghaib tidak dapat melihatnya.
Begitupun ketika masuk WC/Kamar Mandi/Toilet. Disebtkan dalam hadits bahwa tempatnya jin disana. Olehkarenanya, pastikan tidak lupa untuk membaca doa masuk wc agar Allah menghijabkannya jika anda tidak mau di plototin oleh jin selama anda didalam tempat itu.Jin hidup di tempat2 kotor. Termasuk juga bagian tubuh manusia. Jika tidak terurus dan dibiarkan kotor maka dipastikan jin berhinggap disana.

Ukuran jin itu berbagai macam. Ketika kita memaki ia akan tumbuh besar dan ketika kita berzikir ia akan mengecil. Pastika tubuh anda terjaga dari kotoran dan najis serta jadikan ia selalu wangi. Ketik menguap tutup mulut anda dan tahan agar tidak bersuara. Karena dengan menguap jin mudah memasuki dan bersarang didalam tubuh.

Jauhi perkara2 y menghibur setan seperti bersuara saat menguap dan bersiul. Pastikan ketika keluar rumah anda tidak sendirian dan tidak berdua2an dengan bukan mahram. Karena jin hadir diantara mereka.

Jika anda sudah berkeluarga, pastikan saat berjimak tidak lupa membaca doa (minimal bismillah). Supaya jin dan setan tidak ikut serta dalam hubungan anda. Karena jin bisa saja meniduri/menzinai anda/istri anda. Itu karena jin juga memiliki nafsu seperti manusia. Sama seperti nafsunya manusia melihat jin yang memikat hati karena wujud rupanya yang mengundang syahwat.

- jangan mandi dalam keadaan terbuka ( telanjang )- jangan mandi selepas petang- jangan tidur dlam keadaan terbuka (telanjang) / pakaian yg minim- jangan tidur telentang, sebaiknya tidur menyamping ( sprti sunnah rasulullah)- jangan tidur setelah ashar sampai habis mahrib- jangan tidur di ruang tamu

Saat anda (wanita) tidur, jangan lupa membaca doa. Itu agar anda selamat dari kejahatan (diperkosa) oleh kaum jin laki2. Jika anda merasa ditindih jin maka langsung bertaawudz dan memohon pertolongan krn bisa jadi anda sedang dicabuli setan.

Perlu anda ketahui, sebagaimana pengalaman dri kisah yang ada. Bahwa jin sangat suka dengan wanita cantik. Banyak kita jumpai peristiwa wanita kesurupan karena jin yang merasukinya itu cinta padanya. Jin itu akan mengikutinya kemanapun ia pergi. Pastikan anda selalu memproteksi diri dengan membaca ayat kursi ba'da maghrib, subuh dan sebelum tidur.
Kemudian membaca doa sebelum makan dan minum.

Jika anda anak kos, ketika masuk jangan lupa salam dan doa. Itu supaya rumah anda tidak dihuni jin laki-laki dan supaya tidak memudharatkan anda. Pastikan anda melaksanakan shalat dan tilawah quran didalamnya.
Jangan pernah kedukun dan memakai pelet. Sering-seringlah meruqyah diri sendiri atau Pergilah minimal 6 sekali ke praktisi ruqyah syariyah untuk memastikan dan juga agar jin yang memudharatkan anda itu pergi atau musnah.
Selanjutnya jangan lupa membaca basmalah pada tiap perkerjaan supaya anda terproteksi dari kejahatan...
Semoga Bermanfaat Barakallaahu Fiikum

Rabu, 01 Maret 2017

Nasehat Jiwa ( Penyejuk Hati Penabur Cinta Jiwa )



بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين

اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

Bismillahirrahmanirrahim ... Wahai Jiwa ... Ketahuilah olehmu jika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha yang sepertinya sia-sia.

- Allah SWT tahu betapa keras engkau sudah berusaha ketika kau sudah menangis sekian lama dan hatimu masih terasa pedih.

- Allah SWT sudah menghitung airmatamu jika kau pikir bahwa hidupmu sedang menunggu sesuatu dan waktu serasa berlalu begitu saja.

- Allah SWT sedang menunggu bersama denganmu ketika kau merasa sendirian dan teman-temanmu terlalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing.

- Allah SWT selalu berada disampingmu.
Wahai Diri ... Ketika kau pikir bahwa kau sudah mencoba segalanya dan tidak tahu hendak berbuat apa lagi.

- Allah SWT punya jawabannya ketika segala sesuatu menjadi tidak masuk akal dan kau merasa tertekan.

- Allah SWT dapat menenangkanmu jika tiba-tiba kau dapat melihat jejak-jejak harapan.

- Allah SWT sedang berbisik kepadamu ketika segala sesuatu berjalan lancar dan kau merasa ingin mengucap syukur.

- Allah SWT telah memberkatimu.
Wahai Hati ... Ketika sesuatu yang indah terjadi dan kau dipenuhi ketakjuban.

- Allah SWT telah tersenyum padamu ketika kau memiliki tujuan untuk dipenuhi dan mimpi untuk digenapi.

- Allah SWT sudah membuka matamu dan memanggilmu dengan namamu.

Wahai jiwa, wahai hati, wahai diri, wahai insan atau apapun namamu, ingat bahwa dimanapun kau berada atau kemanapun kau menghadap,
Allah SWT mengetahuinya.
Wahai saudaraku sekalian, kembalilah kepada ALLAH, ikutilah jalan-jalan yang diridhai-Nya, tinggalkanlah jalan-jalan yang dimurkai-Nya.
Semoga ALLAH menjadikan kita Hamba yang Taat dan bertakwa kepada-Nya, dan kelak ALLAH masukkan kita ke dalam Syurga-Nya.
Aamiinn. . .

Semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat dan hikmah kepada pembaca semua.