Sabtu, 04 Maret 2017

ABON AZIZ SAMALANGA, ULAMA KARISMATIK DARI BIREUEN.


Abon Aziz Samalanga: Ulama Karismatik Aceh Bergelar Al-Manthiqi



ABON Aziz Samalanga merupakan sosok berhimmah tinggi dalam menuntut ilmu. Walaupun beliau telah alim dan menguasai kitab, namun dengan dorongan himmah seakan ilmu masih sangat kurang. Disebutkan bahwa setelah beliau mengabdi menjadi guru beberapa tahun, tepatnya pada tahun 1951 Abon melanjutkan pendidikan ke dayah yang tersohor di bawah pimpinan seorang ulama besar Al-Mukarram Al-Mursyid Abuya Muda Waly Al-Khalidy, tepatnya di dayah pesisir pantai Dayah Darussalam Labuhan Haji, Aceh Selatan.

Ketinggian ilmu Abuya dalam segala disiplin ilmu agama telah dikenal sewilayah nusantara bahkan luar negeri. Beliau juga seorang pengamal dan pelopor tarekat Naqsyabandiah di Aceh dan sering dikenal dengan panggilan Abuya Muda Waly . Abon Aziz belajar di Dayah Darussalam lebih kurang selama tujuh tahun.

Kebiasaan mereka yang melanjutkan pendidikan ke Dayah Labuhan Haji adalah mereka yang telah belajar kitab tinggi seperti Al-Mahally bahkan telah menjadi orang alim dan pimpinan dayah di daerah asalnya termasuk Abon Aziz Sendiri.

Namun sampai di dayah tersebut mereka belajar kembali dengan kitab yang terendah hingga kelas tinggi dan Abuya sendiri yang mengajarkannya.

Pernah dalam sebuah pidato Almarhum Abon Tanjongan, beliau merupakan murid Abon Aziz, selama di Labuhan Haji menjadi asisten Abon Aziz untuk membawakan kitab-kitab Abon Aziz selama belajar dengan Abuya. Selama di Darussalam Labuhan Haji, beliau belajar dengan sangat  tekun, bahkan pada saat muthala`ah beliau membuka segala kitab yang berkenaan dengan pelajaran yang sedang beliau pelajari, sehingga kamar beliau terlihat berserakan dengan kitab.

Abon sangat disiplin dan memiliki semangat luar biasa dalam mengajar, sehingga dalam keadaan sakitpun beliau tetap antusias mengajar.

Salah seorang cucu Abuya Muhibbuddin Waly, Teungku Naqsyabandi, beliau mendengar sendiri dari Abuya Doktor Muhibbudin Waly bahwa ketika Aboen Aziz al Mantiqi sudah enam tahun lebih belajar di Zawiyah Darussalam, Abuya Muda Waly menyuruh Aboen Aziz untuk pulang kampung dan mengamalkan ilmunya. Namun, Abon Aziz belum mau pulang dan beliau berkata kepada Abuya: “Abuya, saya belum ada keinginan untuk pulang kampung, karena saya ingin belajar seluruh ilmu Abuya”.

Lalu menjawab oleh Abuya Muda Waly: “Ilmu yang ada pada kamu saja sekarang masih semata kaki saya, kamu tidak akan bisa menghabiskan ilmu saya. Oleh karena itu sekarang kamu pulang dan amalkan ilmu yang ada.”
Akhirnya Abon Aziz al Mantiqi mematuhi perintah Sang Guru untuk pulang dan mengamalkan ilmu. (Naqsyabandi, 2017)

Akhirnya pada tahun 1958 Abon kembali lagi ke Dayah  MUDI Mesjid Raya Samalanga untuk mengembangkan ilmunya. Pada tahun tersebut pimpinan Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga yang sebelumnya meninggal dunia, sehingga Abon diangkat menjadi pimpinan dayah tersebut.

Semenjak dayah  MUDI  berada di bawah kepemimpinannya, banyak perubahan terjadi, terutama menyangkut tentang kurikulum pendidikan yang semula tidak terlalu fokus pada ilmu-ilmu alat (bantu) seperti ilmu manthiq, ushul al-fiqh, bayan, ma‘ani, dan lain-lain.

Gelar yang disandang oleh Abon mengisyaratkan bahwa spesialis keahlian Abon yang sangat menonjol adalah dalam bidang ilmu manthiq sehingga Abon digelar dengan al-Manthiqi.

Namun jangan sampai kita mengambil kesimpulan keliru seolah-olah Abon Aziz yang mampu mantiq saja, itu pemahaman keliru, namun Abon juga sangat pandai dalam bidang ilmu lainnya.

Semoga penjelasan yang singkat ini menjadi tambahan ilmu untuk saudara-saudara semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar