Rabu, 12 September 2018

RAHASIA HIDUP ZUHUD



                                             
Imam Hasan Al Basri ditanya  :

Apa rahasia zuhudmu di dunia ini?

Beliau menjawab :

Aku tahu rezeki-ku tidak akan diambil orang lain, karena itu hatiku selalu tenang.

Aku tahu amalku tidak akan dikerjakan orang lain, karena itulah aku sibuk beramal soleh.

Aku tahu ALLAH Ta'ala selalu mengamatiku, karena itulah aku malu jika ALLAH melihatku sedang dalam bermaksiat.

Dan aku tahu, kematian itu sudah menungguku, karena itulah aku selalu menambah bekal untuk hari pertemuanku dengan ALLAH...

Saudaraku,

Jangan tertipu dengan usia MUDA, karena syarat mati TIDAK harus TUA.

Jangan terperdaya dengan tubuh yang SEHAT, karena syarat mati TIDAK mesti SAKIT.

Jangan terperdaya dengan harta kekayaan, sebab banyak si kaya yang tidak pernah menyiapkan kain kafan buat dirinya, meskipun cuma selembar.

Mari terus berbuat BAIK.
Berniat untuk BAIK.
Berkata yang BAIK.
Memberi nasehat yang BAIK-BAIK.

Meskipun TIDAK banyak orang yang mengenalimu dan tidak suka dengan nasehatmu.

Cukuplah ALLAH yang mengenalimu, lebih daripada orang lain.

Jadilah bagai jantung yang tidak terlihat.

Tetapi terus berdenyut setiap saat, hingga kita terus dapat hidup, berkarya dan menebar manfaat bagi sekeliling kita, sampai diberhentikan oleh-NYA.

Saudaraku,

"Waktu yang kusesali adalah, jika pagi hingga matahari terbenam, 'Amalku tidak bertambah sedikitpun, padahal aku tahu saat ini umurku berkurang". (Ibnu Mas'ud Radhiyallahu Anhu).

Semoga kita bisa mengamalkannya.

Minggu, 09 September 2018

Amalan menyambut Tahun Baru Islam


3 Amalan Sambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1440 Hijrah

Tepat pada Selasa (11/9/2018), umat Islam akan memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1440 H.

Bulan Muharram menjadi salah satu bulan suci bagi umat Islam, selain bulan Ramadhan.

Keistimewaan tanggal 1 Muharram adalah berkaitan dengan peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW dari Mekah ke Madinah.

Rasulullah SAW menyebut bulan Muharram menjadi bulan yang istimewa untuk memperbanyak amalan ibadah.

Allah SWT menjelaskan dalam Al-Qur'an, bahwa telah menjadikan bulan Muharram sebagai salah satu dari empat bulan yang disucikan.
‎إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa” (QS. At-Taubah: 36)


Pada bulan Muharram, Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk memperbanyak ibadah puasa.

Dari Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda:
‌‏أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ
"Puasa yang paling utama sesudah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah (syahrullah) Muharram. Sedangkan shalat malam merupakan shalat yang paling utama sesudah shalat fardhu” (HR. Muslim, no. 1982).

Lantas amalan apa saja yang bisa ditunaikan di bulan Muharram 1440 H ini?

1. Puasa Asyura
Sayyidah Aisyah, istri Nabi shallallahu 'alaihi wassalam menyatakan bahwa hari Asyura adalah hari orang-orang Quraisy berpuasa di masa Jahiliyah, Rasulullah juga ikut mengerjakannya.

Setelah Nabi berhijrah ke Madinah beliau terus mengerjakan puasa itu dan memerintahkan para sahabat agar berpuasa juga.
Setelah diwajibkan puasa dalam bulan Ramadhan, Nabi s.a.w. menetapkan:
‎مَنْ شَاءَ أَنْ يَصُومَهُ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ شَاءَ أَنْ يَتْرُكَهُ فَلْيَتْرُكْهُ
“Barangsiapa yang menghendaki berpuasa Asyura puasalah dan siapa yang tidak suka boleh meninggalkannya." (HR. Bukhari, No: 1489; Muslim, No: 1987)

Ibnu Abbas seorang sahabat, saudara sepupu Nabi yang dikenal sangat ahli dalam tafsir al-Qur’an meriwayatkan bahwa saat Nabi berhijrah ke Madinah, beliau menjumpai orang-orang Yahudi di sana mengerjakan puasa Asyura.

Nabi pun bertanya tentang alasan mereka berpuasa. Mereka menjawab:
‎هُوَ يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَأَغْرَقَ آلَ فِرْعَوْنَ فَصَامَ مُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ فَقَالَ أَنَا أَوْلَى بِمُوسَى مِنْهُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ
“Allah telah melepaskan Musa dan Umatnya pada hari itu dari (musuhnya) Fir’aun dan bala tentaranya, lalu Musa berpuasa pada hari itu, dalam rangka bersyukur kepada Allah”. Nabi bersabda : “Aku lebih berhak terhadap Musa dari mereka."

Maka Nabi pun berpuasa pada hari itu dan menyuruh para sahabatnya agar berpuasa juga." (HR. Bukhari; No: 1865 & Muslim, No: 1910)

Abu Musa al-Asy’ari mengatakan:
‎كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ يَوْمًا تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَتَتَّخِذُهُ عِيدًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صُومُوهُ أَنْتُمْ
“Hari Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan dijadikan oleh mereka sebagai hari raya, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam bersabda: “Berpuasalah kamu sekalian pada hari itu." (H.R. Bukhari, No: 1866; Muslim, No: 1912)

Puasa sunnah yang dianjurkan untuk dilakukan di bulan Muharram adalah
Puasa Asyura.

Puasa Asyura sendiri dapat dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram.

Keistimewaan puasa Asyura adalah mampu menghapuskan dosa setahun yang telah lalu.
Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
‎وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
”Puasa hari Asyura, saya berharap kepada Allah, puasa ini menghapuskan (dosa) setahun yang telah lewat.” (HR. Muslim 1162).

2. Puasa Tasu'a
Pada tanggal 9 Muharram, umat Muslim dapat menunaikan puasa sunnah Tasu'a.
Puasa ini dilakukan sehari sebelum puasa Asyura, yakni pada 9 Muharram.
Hukumnya pun juga sunah.

Puasa ini berfungsi sebagai pelengkap puasa Asyura yang dapat ditunaikan pada tanggal 10 Muharram.

Jika puasa Asyura mampu menghapuskan dosa kecil selama setahun yang lalu, puasa Tasu'a pun memiliki keistimewaan.

Rasulullah SAW menganjurkan kepada yang melaksanakan puasa ‘Asyura, untuk melengkapi dengan puasa Tasu’a sehari sebelumnya.

Puasa pada tanggal 9 Muharram ini disyariatkan untuk menyelisihi syariat puasa Yahudi dan Nasrani.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, beliau berkata, “Ketika Rasulullah SAW berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa pada hari itu, mereka berkomentar, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari ‘Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nasrani.’

Rasulullah SAW pun menjawab, ‘Kalau begitu, pada tahun depan insya Allah kita berpuasa pada hari kesembilan’. Dan belum tiba tahun yang akan datang, namun Nabi SAW sudah wafat” (HR. Muslim no. 1916).

Imam Asy-Syafi’i dan para sahabatnya, Ahmad, Ishaq dan selainnya berkata:
“Disunnahkan berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh secara keseluruhan, karena Nabi SAW telah berpuasa pada hari kesepuluh dan berniat puasa pada hari kesembilan.”
Imam Nawawi rahimahullaah menyebutkan ada tiga hikmah disyariatkannya puasa pada hari Tasu’a:
- Untuk menyelisihi orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari kesepuluh saja.
- Untuk menyambung puasa hari ‘Asyura dengan puasa di hari lainnya, sebagaimana dilarang berpuasa pada hari Jum’at saja.
- Untuk kehati-hatian dalam pelaksanaan puasa ‘Asyura, dikhawatirkan hilal berkurang sehingga terjadi kesalahan dalam menetapkan hitungan, hari kesembilan dalam penanggalan sebenarnya sudah hari kesepuluh.


3. Memperbanyak sedekah

Dalam menyambut bulan Muharram diperintahkan agar memperbanyak pengeluran dari belanja kita sehari-hari untuk bersedekah, membantu anak-anak yatim, membantu keluarga, kaum kerabat, orang-orang miskin dan mereka yang membutuhkan.

Semua itu hendaknya dilakukan dengan tidak memberatkan diri sendiri dan disertai keikhlasan semata-mata mengharap keridhaan Allah.

Mengenai hal ini Rasulullah bersabda:
‎مَنْ وَسَّعَ عَلى عِيَالِهِ وَ أَهْلِهِ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ سَائِرَ سَنَتِهِ
“Siapa yang meluaskan pemberian untuk keluarganya atau ahlinya, Allah akan meluaskan rizki bagi orang itu dalam seluruh tahunnya.” (HR Baihaqi, No: 3795)

100 Keutamaan Rasulullah SAW



Imam Shadiq R.A. berkata:

"Saya tidak ingin seseorang meninggal dunia sementara ia belum mengetahui sebagian perilaku Rasulullah S.A.W"

1. Ketika berjalan, beliau berjalan secara pelan-pelan dan wibawa.

2. Ketika berjalan, beliau tidak menyeret langkah kakinya.

3. Pandangan beliau selalu mengarah ke bawah.

4. Beliau senantiasa mengawali salam kepada siapa saja yang dilihatnya... tidak ada seorangpun yang mendahuluinya dalam mengucapkan salam.

5. Ketika menjabat tangan seseorang, beliau tidak pernah melepaskannya terlebih dahulu.

6. Beliau bergaul dengan masyarakat sedemikian rupa sehingga setiap orang berpikir bahwa dirinya adalah satu-satunya orang yang paling mulia di mata Rasulullah.

7. Bila memandang seseorang, beliau tidak memandang sinis bak pejabat pemerintah.

8. Beliau tidak pernah memelototi wajah seseorang.

9. Beliau senantiasa menggunakan tangan saat mengiyaratkan sesuatu dan tidak pernah mengisyaratkan dengan mata atau alis.

10. Beliau lebih banyak diam dan baru akan berbicara bila perlu.

11. Saat bercakap-cakap dengan seseorang, beliau mendengarkan dengan baik.

12. Senantiasa menghadap kepada orang yang berbicara dengannya.

13. Tidak pernah berdiri terlebih dahulu selama orang yang duduk bersamanya tidak ingin berdiri.

14. Tidak akan duduk dan berdiri dalam sebuah pertemuan melainkan dengan mengingat Allah.

15. Ketika masuk ke dalam sebuah pertemuan, beliau senantiasa duduk di tempat yang akhir dan dekat pintu, bukan di bagian depan.

16. Tidak menentukan satu tempat khusus untuk dirinya dan bahkan melarangnya.

17. Tidak pernah bersandar saat di hadapan masyarakat.

18. Kebanyakan duduknya menghadap kiblat.

19. Bila di hadapannya terjadi sesuatu yang tidak disukainya, beliau senantiasa mengabaikannya.

20. Bila seseorang melakukan kesalahan, beliau tidak pernah menyampaikannya kepada orang lain.

21. Tidak pernah mencela seseorang yang mengalami kesalahan bicara.

22. Tidak pernah berdebat dan berselisih dengan siapapun.

23. Tidak pernah memotong pembicaraan orang lain kecuali bila orang tersebut bicara sia-sia dan batil.

24. Senantiasa mengulang-ulangan jawabanya atas sebuah pertanyaan agar jawabannya tidak membingungkan pendengarnya.

25. Bila mendengar ucapan yang tidak baik dari seseorang, beliau tidak mengatakan mengapa si fulan berkata demikian, tapi beliau mengatakan, bagaimana mungkin sebagian orang mengatakan demikian?"

26. Banyak bergaul dengan fakir miskin dan makan bersama mereka.

27. Menerima undangan para abdi dan budak.

28. Senantiasa menerima hadiah, meski hanya seteguk susu.

29. Melakukan silaturahmi lebih dari yang lain.

30. Senantiasa berbuat baik kepada keluarganya tapi tidak melebihkan mereka dari yang lain.

31. Senantiasa memuji dan mendukung pekerjaan yang baik dan menilai buruk dan melarang perbuatan yang jelek.

32. Senantiasa menyampaikan hal-hal yang menyebabkan kebaikan agama dan dunia masyarakat kepada mereka dan berkali-kali mengatakan, "Orang-orang yang hadir hendaknya menyampaikan segala yang didengarnya kepada orang-orang yang tidak hadir."

33. Senantiasa menerima uzur orang-orang yang punya uzur.

34. Tidak pernah merendahkan seseorang.

35. Tidak pernah memaki atau memanggil seseorang dengan gelar yang jelek.

36. Tidak pernah mengutuk orang-orang sekitar dan familinya.

37. Tidak pernah mencari-cari aib orang lain.

38. Senantiasa menghindari kejahatan masyarakat, namun tidak pernah menghidar dari mereka dan beliau selalu bersikap baik kepada semua orang.

39. Tidak pernah mencaci masyarakat dan tidak banyak memuji mereka.

40. Senantiasa bersabar menghadapi kekurangajaran orang lain dan membalas kejelekan mereka dengan kebaikan.

41. Selalu menjenguk orang yang sakit, meski tempat tinggalnya dipinggiran Madinah yang sangat jauh.

42. Senantiasa menanyakan kabar dan keadaan para sahabatnya.

43. Senantiasa memanggil nama sahabat-sahabatnya dengan panggilan yang terbaik.

44. Sering bermusyawarah dengan para sahabatnya dan menekankan untuk melakukannya.

45. Senantiasa duduk melingkar bersama para sahabatnya, sehingga bila ada orang yang baru datang, ia tidak bisa membedakan di antara mereka yang manakah Rasulullah.

46. Akrab dan dekat dengan para sahabatnya.

47. Beliau adalah orang yang paling setia dalam menepati janji.

48. Senantiasa memberikan sesuatu kepada fakir miskin dengan tangannya sendiri dan tidak pernah mewakilkannya kepada orang lain.

49. Bila sedang dalam shalat ada orang datang, beliau memendekkan shalatnya.

50. Bila sedang shalat ada anak kecil menangis, beliau memendekkan shalatnya.

51. Orang yang paling mulia di sisi beliau adalah orang yang paling banyak berbuat baik kepada orang lain.

52. Tidak ada seorangpun yang putus asa dari Rasulullah S.A.W Beliau selalu mengatakan, "Sampaikan kebutuhan orang yang tidak bisa menyampaikan kebutuhannya kepada saya!"

53. Bila ada seseorang membutuhkan sesuatu kepada beliau, Rasulullah Saw pasti memenuhinya bila mampu, namun bila tidak mampu beliau menjawabnya dengan ucapan atau janji yang baik.

54. Tidak pernah menolak permintaan seseorang, kecuali permintaan untuk maksiat.

55. Beliau sangat menghormati orang tua dan menyayangi anak-anak.

56. Rasulullah Saw sangat menjaga perasaan orang-orang asing.

57. Beliau selalu menarik perhatian orang-orang jahat dan membuat mereka cenderung kepadanya dengan cara berbuat baik kepada mereka.

58. Beliau senantiasa tersenyum sementara pada saat yang sama beliau sangat takut kepada Allah.

59. Saat gembira, Rasulullah S.A.W memejamkan kedua matanya dan tidak banyak menunjukkan kegembiraannya.

60. Tertawanya kebanyakan berupa senyuman dan tidak pernah tertawa terbahak-bahak.

61. Beliau banyak bercanda namun tidak pernah mengeluarkan ucapan sia-sia atau batil karena bercanda.

62. Rasulullah S.A.W mengubah nama yang jelek dengan nama yang baik.

63. Kesabarannya mendahului kemarahannya.

64. Tidak sedih dan marah karena kehilangan dunia.

65. Saat marah karena Allah, tidak seoranpun yang akan mengenalnya.

66. Rasulullah Saw tidak pernah membalas dendam karena dirinya sendiri melainkan bila kebenaran terinjak-injak.

67. Tidak ada sifat yang paling dibenci oleh Rasulullah selain bohong.

68. Dalam kondisi senang atau susah tidak lain hanya menyebut nama Allah.

69. Beliau tidak pernah menyimpan Dirham maupun Dinar.

70. Dalam hal makanan dan pakaian tidak melebihi yang dimiliki oleh para pembantunya.

71. Duduk dan makan di atas tanah.

72. Tidur di atas tanah.

73. Menjahit sendiri pakaian dan sandalnya.

74. Memerah susu dan mengikat sendiri kaki ontanya.

75. Kendaraan apa saja yang siap untuknya, Rasulullah pasti mengendarainya dan tidak ada beda baginya.

76. Kemana saja pergi, beliau selalu beralaskan abanya sendiri.

77. Baju beliau lebih banyak berwarna putih.

78. Bila memakai baju baru, maka baju sebelumny pasti diberikan kepada fakir miskin.

79. Baju kebesarannya khusus dipakai untuk hari Jumat.

80. Ketika memakai baju dan sandal, beliau memulainya dari sebelah kanan melepas sebelah kiri.

81. Beliau menilai makruh rambut yang awut-awutan.

82. Senantiasa berbau harum dan kebanyakan pengeluarannya untuk minyak wangi.

83. Senantiasa dalam kondisi memiliki wudu dan setiap mengambil wudu pasti menyikat giginya.

84. Cahaya mata beliau adalah shalat. Beliau merasa menemukan ketenangan dan ketentraman saat shalat.

85. Beliau senantiasa berpuasa pada tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulan.

86. Tidak pernah mencaci nikmat sama sekali.

87. Menganggap besar nikmat Allah yang sedikit.

88. Tidak pernah memuji makanan dan tidak juga mencelanya.

89. Memakan makanan apa saja yang dihidangkan kepadanya.

90. Di depan hidangan makanan beliau senantiasa makan makanan yang ada di depannya.

91. Di depan hidangan makanan, beliau yang paling duluan hadir dan paling akhir meninggalkannya.

92. Tidak akan makan sebelum lapar dan akan berhenti dari makan sebelum kenyang.

93. Tidak pernah makan dua model makanan.

94. Ketika makan tidak pernah sendawa.

95. Sebisa mungkin beliau tidak makan sendirian.

96. Mencuci kedua tangan setelah selesai makan kemudian mengusapkannya ke wajah.

97. Ketika minum, beliau meneguknya sebanyak 3 kali. Awalnya baca Bismillah dan akhirnya baca Alhamdulillah.

98. Rasulullah lebih memiliki rasa malu daripada gadis-gadis pingitan.

99. Bila ingin masuk rumah, beliau meminta izin sampai tiga kali.

100. Waktu di dalam rumah, beliau bagi menjadi tiga bagian: satu bagian untuk Allah, satu bagian untuk keluarga dan satu bagian lagi untuk dirinya sendiri. Sedangkan waktu untuk dirinya sendiri beliau bagi dengan masyarakat.

والله تعالى أعلم

“Ya Allah, limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan Nabi Besar Muhammad, sang cahaya-Mu yang selalu bersinar dan pemberian-Mu yang tak kunjung putus, dan kumpulkanlah aku dengan Rasulullah di setiap zaman, serta shalawat untuk keluarganya dan sahabatnya, wahai Sang Cahaya.”
...آمين...

Senin, 03 September 2018

7 Manfaat Diam





Islam mengajarkan agar setiap orang untuk tidak banyak bicara dan seandainya berbicara, hanya 
berbicara tentang perihal yang benar dan baik-baik saja. Diam sepertinya satu hal yang sederhana, 
namun untuk merealisasikannya tidak mudah. Sikap tenang dan mengamati lalu berbicara menurut kadar yang cukup sering kali menjadi kunci sukses dari keadaan seseorang terhadap suatu keadaan yang terjadi dan berlangsung disekitarnya, dan tentunya berbicaira yang bermanfaat dan pada tempatnya adalah mutiara.


Berkata sebahagian para ulama, bahwasanya pada diam itu ada tujuh ribU kebaikan, dan tujuh ribu kebaikan itu terkumpul pada tujuh kalimat, pada tiap-tiap dari tujuh kalimat ini mengandung seribu kebaikan.


 أولها أن الصمت عبادة غير أولها أن الصمت راحة غير عناء

Pertama:
Merupakan Ibadah tanpa harus kerja keras atau berusaha.
 والثاني زينة من غير حلي
Kedua:
Merupakan hiasan diri tanpa perhiasan
 والثالث هيبة من غير سلطان
Ketiga:
Wibawa tanpa kekuasaan
 والرابع حصن من غير حافظ
Keempat:
Benteng tanpa dinding (selalu terkawal tanpa perlu pengawal atau penjaga )
 والخامس استغناء عن الاعتذار إلى الناس
Kelima:
Tidak perlu meminta maaf kepada siapapun yang disebabkan oleh perkataan
 والسادس إراحة الكرام الكاتبين
Keenam:
Malaikat pencatat amal menjadi rehat dan tidak lelah
 والسابع ستر لعيوبه
Ketujuh:
Penutup keburukan dan sisi-sisi kejahiliyahan dan kekurangan diri
Diam adalah ciri khas dari orang berilmu, dengan diam, kita mendapatkan kekuatan hebat untuk berfikir secara mendalam tentang apa yang terjadi di sekeliling, serta dapat konsentrasi dengan penuh tentang rasionalitas suatu jawaban.

Diam adalah kesempatan untuk menilai kehidupan, diam adalah kesempatan untuk istirahat, diam adalah kesempatan untuk istirahat, diam adalah kekuatan yang besar, dengan diam kita telah menguasai orang-orang yang ada di hadapan kita melalui pandangan. Diam bisa menjadi solusi paling jitu dalam menghadapi berbagai problema rumah tangga ringan yang bertumpuk-tumpuk. Di saat-saat genting, diam dapat melahirkan sikap dihormati, sebaliknya, perlawanan dan perdebatan dapat melahirkan sikap semakin menjauh dan dendam. Dengan diam, kita telah menghancurkan berbagai senjata musuh. Diam telah menjadi guru yang baik agar kita belajar menjadi pendengar yang baik, di mana banyak orang telah kehilangan sifat ini. Keselamatan manusia terletak pada bagaimana dia menjaga lidahnya. Demikianlah 7 manfaat dari diam yang kami kutib dari kitab “Muraqi Ubudiyyah” karangan Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jaawi. Wallahua’lam. (MH)

TINGKATAN KEIKHLASAN DALAM BERAMAL




Ikhlas merupakan salah sat hal yang dituntut bagi seorang muslim ketika melakukan sebuah amalan, karena ikhlas merupakan penentu bagi amal, apakah ia diterima atau tidak, ikhlas dan riya merupakan dua sifat yang berlawanan. Semakin besar keikhlasan dalam beramal, maka semakin besar pula manfaat di akhirat kelak yang akan kita dapatkan dari amal kita di dunia ini. Beramal tanpa keikhlasan bisa berakibat mengurangi bahkan menghapus pahala amalan kita. Keikhlasan seseorang tentu berbeda-beda.

Baca juga : 7 Amalan Pada hari Jumát

Para ulama membagi ikhlash kepada tiga tingkatan;


  1. Ikhlas tingkat tinggi (‘ulyayaitu seorang hamba yang beramal ibadah murni hanya karena Allah, untuk menjunjung tinggi perintahnya dan memenuhi hak ibadahnya sebagai hamba tanpa ada mengharapkan balasan surga dan juga bukan karena takut azab Allah bila tidak beramal. Ini adalah keikhlasan para anbiya dan aulia Allah.
  2. Ikhlas tingkat pertengahan (wushta) yaitu: seseorang melakukan amalan ibadah karena demi memperoleh pahala dan karena menghindar dari siksa.
  3. Ikhlas tingkat rendah (dunya) yaitu seorang yang beramal supaya diberi kemulian oleh Allah di dunia dan selamat dari mara bahaya, misalnya seseorang yang membaca surat al-waqi’ah supaya diberi kemudahan rikzi dan membaca ayat Kursi supaya terhindar dari maha bahaya.

Beramal dengan maksud salah satu dari tiga hal diatas masih dikatagorikan sebagai ikhlash, namun hanya tingkatnya saja yang berbeda-beda. Jadi bila kita kita beramal disertai dengan niat suapay Allah memberikan kemudahan di dunia berarti amalan kita masih ikhlash walaupun masuk dalam katagori ketiga, semoga mampu kita tingkatkan ke tingkat ke dua. Sedangkan selain dari tiga tersebut semuanya sudah masuk dalam katagori riya yang bisa berakibat kepada amal kita tidak diterima oleh Allah. Semoga kita mampu beramal dengan ikhlash dan bersih dari sifat riya..Amiin


Referensi;
Tuhfatul Murid ‘ala Jauharah Tauhid, hal 40 Cet. Dar Kutub Islamiyah

Kalam Hikmah Imam Syafi'i tentang Musafir




Di dalam meraih sebuah kesuksesan sudah tentu kita harus bekerja, bergerak, keluar, mencari, dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain yang mendukung untuk pencapaian cita-cita yang kita dampakan.
Termasuk dalam meraih ilmu pengetahuan, yang merupakan suatu amalan yang mulia dan wajib ‘Ain bagi setiap muslim. Maka untuk memperoleh semua itu tentunya tidak mungkin kita berdiam diri dalam angan-angan dan bermimpi akan jatuh sendiri dari langit. Semua itu butuh pengorbanan yang luar biasa. Awal dari perjuangan itu adalah MUSAFIR. Dimana kita akan meninggalkan kampung halaman, keluarga dan sahabat kerabat yang kita cintai dan akan menghadapi segala tantangan dan rintangan yang terkadang tidak disangka-sangka akan terjadi. Tetapi musafir tetap harus dijalankan demi menjemput sebuah kesuksesan.
Imam As-Syafi’i pun pernah merangkai suatu syair yg penuh hikmah tentang kelebihan MUSAFIR, berikut Sya’irnya:
تَغَرَّبْ عَنِ الأَوْطَانِ فِيْ طَلَبِ العُلَى **. وسافِرْ ففي الأَسْفَارِ خَمْسُ فَوَائِـد
تَفَرُّجُ هَـمٍّ، واكتِسَـابُ مَعِيْشَـةٍ ** وَعِلْمٌ ، وآدابٌ، وصُحْبَـةُ مَاجِـدِ
فإن قيلَ في الأَسفـارِ ذُلٌّ ومِحْنَـةٌ ** وَقَطْعُ الفيافي وارتكـاب الشَّدائِـدِ
فَمَوْتُ الفتـى خيْـرٌ له مِنْ قِيامِـهِ ** بِدَارِ هَـوَانٍ بيـن واشٍ وَحَاسِـد
“Tinggalkan negaramu, niscaya engkau akan menjadi mulia, dan pergilah, karena bepergian itu mempunyai lima faedah.
Menghibur dari kesedihan, mendapatkan pekerjaan, ilmu dan adab, serta bertemu dengan orang-orang baik.
Jika dikatakan bahwa bepergian itu mengandung kehinaan,dan kekerasan, dan harus mlewati jalan panjang, serta penuh dengan tantangan,
Maka bagi pemuda kematian lebih baik daripada hidup di kampung dengan para pembohong dan pendengki.”
Para ulamapun melakukan perjalanan jauh untuk menuntut ilmu, sebagaimana yang dilakukan oleh Jabir bin Abdullah yang menempuh perjalanan selama dua bulan dari Madinah menuju Mesir, hanya mencari satu hadits. Begitu juga yang dilakukan imam Syafi’i sendiri, yang berpindah dari tempat kelahirannya Palestina menuju Mekkah, kemudian dilanjutkan ke Iraq, kemudian ke Yaman, dan akhirnya ke Mesir hingga wafat beliau.

7 Amalan Pada Hari Jum'at




Faedah Agung Yang Khusus di Amalkan di Hari Jum’at:

1. Barangsiapa yang membaca Ya Muhaimin 100x setelah mandi jum’ah, maka Allah SWT akan memberikan kewibawaan dan kemulyaan.

2. Barangsiapa yang membaca surat Al-Qodar 7x antara 2 adzan di hari jum’ah, maka Allah SWT akan melunasi semua hutangnya.

3. Barangsiapa yang berucap Ya Baathin 33x setelah shalat jum’ah, Allah swt akan menjadikan-nya dari ahli bathin.

4. Barangsiapa setelah sholat jum’at membaca Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas masing 7x tanpa merubah posisi duduknya (tasyahhud akhir) dan tanpa berbicara sebelumnya, maka Allah SWT akan menjaganya dari semua kejelekan sampai jum’at berikutnya.

5. Barangsiapa setelah sholat jum’ah membaca ALLAAHUMMA AKFINIY BIHALAALIKA ‘AN HARAAMIKA WAGHNINIY BIFADLIKA ‘AMMAN SIWAAK, maka segala kebutuhannya akan terpenuhi hingga hari berikutnya.

6. Barangsiapa yang berdoa YAA GHANIYYU YAA MUGHNIIY 40X, setiap 10 dari bacaan tersebut ditambahi AGHNINIY, ketika do’a mukminin mukminaat pada khutbah kedua, maka Allah SWT akan meluaskan rizkinya.

7. Barangsiapa yang bersholawat kepada Nabi SAW setelah ashar hari jum’at 80x, maka Allah SWT akan mengampuni dosanya 80 tahun, jika memang si pembaca tidak memiliki dosa sebanyak itu,maka keutamaan tersebut akan diberikan kepada kedua orangtuanya dan Allah SWT akan mengangkat derajat mereka.
Ada riwayat bahwasan-nya yang membaca sholawat dengan sighoh ini ALLAHUMMA SHALLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN NABIYYIL UMMIY WA ‘ALAA AALIHI WASAHBIHI WA SALLIM TASLIIMAA setelah asar hari jum’at, maka akan ditulis untuknya pahala ibadah 80 tahun. “Barangsiapa yang memperbanyak sholawat atas Nabi SAW, maka Allah SWT akan menyelesaikan semua urusannya, mengampuni segala dosanya, melunasi hutangnya, dan sholawat tersebut akan menjadikan sebab dia memperoleh syafaat Nabi SAW, dia kan berada paling dekat kedudukan-nya di sisi Nabi SAW pada saat hari kiamat”.
Di sadur dari majlis Habib Zein bin Sumaith dan Habib Saalim As-Syaatiri.

Minggu, 02 September 2018

KISAH BAL'AM BIN BA'URA



Berkaitan ayat Al-Qur’an surat Al-A’raaf ayat 175 – 177 terdapat sebuah kisah yang menggambarkan seorang bernama Bal’am bin ba’ura, (bernama Bal’am bin Abar dalam suatu riawayat). Dia adalah seorang ulama atau seorang yang ahli ibadah dizaman Nabi Musa yang berasal dari Yaman[1] (menurut Ibnu Abbas) atau seorang dari golongan Bani Israil (menurut Ibnu Ma’ud)[2] dan tinggal bersama kaum Jababirah. Bahkan Allah telah mengaurianakan kelebihan untuknya yaitu sebuah penglihatan yang apabila dia melihat kesemua penjuru dia bisa melihat semua ciptaan Allah beserta isinya, karena kelebihanya itu Bal’am bisa melihat jin dan malaikat, bahkan jika Bal’am melihat kelangit dia bisa melihat Arsy atau tempat Dimana Allah mengawasi setiap mahluk-Nya. Dan dia juga mengetahui nama-nama Allah yang maha sempurna, setiap do’a yang dimunajadkan oleh Bal’am pastilah akan dikabulkan oleh Allah.

Tapi sayangnya Bal’am hidup dilingkungan orang-orang kufur dan tidak mau beribadah, hingga suatu saat Nabi Musa AS ingin mengajak bal’am untuk bersama-sama menegakkan kebenaran dijalan Allah atau untuk berda’wah bersama. Tapi sebelum niat Nabi Musa terlaksana dan sampai kerumah Bal’am, orang orang didaerah Bal’am melihat kedatangan Nabi Musa dipadang Taih yang membawa rombongan tentara yang cukup banyak dan mengetahui niat dari Nabi Musa yang ingin mengajak Bal’am berda’wah bersama, mereka mencoba menghasut Bal’am agar berdo’a kepada Allah supaya Musa dan pengikutnya binasa.

Diantara mereka berkata kepada Bal’am : ”Musa adalah orang kuat, dan dia memiliki banyak tentara, seandainya mereka menyerang kita, maka kita akan hancur. Oleh karena itu, berdo’alah kepada Allah agar mencegah mereka untuk datang kemari,”

Bal’am dengan pengetahuanya berkata : ”Celakalah kamu, Sesungguhnya Nabi Allah itu disertai oleh malaikat dan kaum mukminin. bagai mana mungkin aku mendo’akan sesuatu yang buruk kepada mereka padahal aku mengetahui semua itu dari Allah.”

Tetapi kaum Jababirah tidak begitu saja menyerah untuk merayu Bal’am, semua harta yang ada dikerahkan untuk diberikan kepada Bal’am agar mau mendo’akan Nabi Musa supaya binasa sebelum sampai didaerah Bal’am tinggal. Sebenarnya Bal’am tidak mau melakukan itu, tapi apa daya istri Bal’am merayu dan berkata :” “Berdoalah!, mengingat kalau harta yang berharga itu harus diraih dengan kerja, pastilah akan memakan usia, bahkan belum tentu seumur hidup akan bisa mendapatkannya”.

Akhirnya Bal’am pun terhasut dan membenarkan setiap ucapan istrinya dan mengikuti nafsu dunia yang fana ini. Kemudian Bal’am beserta pasukan mencoba mengintai pasukan Nabi musa dipuncak gunung Husban. Kemudia disitulah Bal’am memanjatkan do’a kepada Allah sesuatu hal yang buruk agar menimpa Nabi Musa dan pasukannya.

Maka terjadilah apa yang terjadi, sebelum berdoa Bal’am mengatakan bahwa Allah sangat membenci pada perzinahan, padahal kaum Bani Israil yang dipimpin Nabi Musa itu merupakan orang pelarian yang kebanyakan tidak memiliki isteri. Untuk menghancurkan mereka, hendaknya seluruh wanita kaum Jababirah disarankan segera mendekati kaum Bani Israel dan menyerahkan tubuh-tubuh mereka agar disetubuhi tanpa dengan ikatan tali perkawinan, dimana perbuatan itu segera akan mengundang murka Allah yang selanjutnya mereka akan dihancurkan-Nya dengan tanpa pertumpahan darah.

Maka wanita-wanita itu segera bersolek sedemikian rupa seperti yang dianjurkan Bal’am dengan di pimpin oleh anak gadis raja mereka sendiri untuk menjebak Bani Israel. Sebelum berangkat, anak gadis itu disarankan oleh Bal’am. “Untuk dirimu, wahai putri junjunganku, janganlah kau mau dizina terkecuali oleh Musa sendiri.”

Maka rombongan para wanita dari kaum Jababirah-pun datang kekamp kamp kaum Bani Israel dipadang Taih. Dan disitulah kaum bani israil yang kebanyakan imannya keropos itu pun berpesta pora mengadakan perzinahan besar-besaran tanpa menggubris lagi seluruh saran dan nasehat Nabi Musa. Akan halnya anak gadis raja itu setelah mencari-cari Nabi Musa dan ternyata tidak ada sebuah tanggapan, maka segera mendekati seorang pemimpin dari dua belas suku keturunan Nabi Ya’qub. Dan ternyata lelaki itu pun jatuh dalam rayuannya, namun setelah mau berzina, wanita itu melaporkan dulu mengenai hasil usahanya kepada sang ayah bahwa yang terkena rayuannya bukan Nabi Musa, akan tetapi hanya seorang pemimpin dari dua belas pemimpin suku-suku mereka. Setelah berpikir cukup, sang ayah segera mengizinkan sang putri untuk berzina dengan lelaki itu.

Dan ketika perbuatan itu berlangsung, seorang lelaki dari keturunan Nabi Harun dapat mengetahui kebejadan dari kaumnya yang berzinah dengan wanita wanita kaum Jababirah, maka segera saja keduanya dilempar dengan tombak hingga menemui ajalnya, kemudian tubuhnya diangkat dengan tombak tinggi-tinggi, agar kaum Bani Israel melihat atas hukuman yang ditimpakan pada mereka.

Akibat doa Bal’am ini, kaum Bani Israel terkungkung dan terjebak di Padang Taih, sebuah kawasan yang selalu membuat bingung mereka yang di dalamnya. Dikisahkan jika saja Bani israel itu pagi-pagi berangkat ke utara agar bisa keluar dari kawasan itu, maka ketika sore tiba-tiba telah berada pada tempat mereka ketika berangkat. Demikian pula jika saja ke daerah timur menjelang petang, maka paginya mereka telah berada di tempat berangkat itu lagi.

Dari kejadian kejadian itu yang tanpa henti akhirnya Nabi Musa pun berdo’a dan bertanya kepada Allah sebenarnya Dosa apakah yang telah diperbuat olehnya sehingga Nabi Musa ikut terkurung didalamnya. Dan Allah pun menjawab pertanyaan Nabi Musa bahwa yang terjadi dikarenakan do’a Bal’am bin Bauro. Nabi Musapun tak tinggal diam atas yang dilakukan oleh Bal’am terhadapnya. Dan Nabi musa pun berdo’a :

“Sebagaimana Engkau telah memperkenankan doa Bal’am untuk mencelakan aku beserta kaumku, maka perkenankanlah doaku agar dia celaka. Lepaskan pula ismul A’zham dan iman yang telah Engkau karuniakan kepadanya, ya Allah.”

Begitu Nabi Musa memohon. Allah pun memperkenankan doa Rasul-Nya, sehingga ismul A’zham dan iman serta makrifat yang dimiliki Bal’am terlepas dan keluar dari tubuhnya bagaikan seekor merpati putih yang terbang. Dan dilain pihak Bal’am merasakan apa yang diakhawatirkan dan Bal’am berkata :” Sekarang hilang sudah dariku Dunia dan Akhirat, tidak tersisa padaku kecuali tipu daya muslihat. Dari do’a Musa maka semua karunia yang dimiliki Bal’am pun lenyap dan dia menjadi manusia biasa yang hidup dalam kekufuran dan kekafiran sampai dia meninggal. Wallaahu a’lam

Berkaitan dengan kisah Bal’am, maka turunlah ayat berikut QS. Al-A’raaf ayat 175 -177) :

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آَتَيْنَاهُ آَيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ (175) وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (176) سَاءَ مَثَلًا الْقَوْمُ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا وَأَنْفُسَهُمْ كَانُوا يَظْلِمُونَ (177)

175.Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian Dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu Dia diikuti oleh syaitan (sampai Dia tergoda), Maka jadilah Dia Termasuk orang-orang yang sesat.

176.Dan kalau Kami menghendaki, Sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi Dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya Dia mengulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.

177.Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim.

[1]. Tafsir Ath-Thabari, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab 174, juz 13, hal. 255.
Harta, tahta, dan wanita sungguh begitu menggiurkan.

Senin, 27 Agustus 2018

ULAMA KHARISMATIK ACEH, ABU PANTON


Tgk. H Ibrahim Bardan yang biasa disapa Abu Panton telah meninggal dunia, Senin (29/4) dalam usianya 70 tahun. Abu meninggal sekitar pukul 18.30 WIB di Rumah Sakit Materna Medan, setelah sebelumnya mendapat perawatan intensif karena penyakit yang diderita oleh Abu selama ini, yaitu tekanan darah tinggi.

Sebelumnya Abu juga sempat dirujuk ke Rumah Sakit di Penang, Malaysia. Almarhum Abu Panton akan dikebumikan di Panton Labu, Aceh Utara Selasa (30/4) di komplek Dayah Malikussaleh tempatnya selama ini memimpin.
KaryaTgk. H Ibrahim Bardan yang biasa disapa Abu Panton telah meninggal dunia, Senin (29/4) dalam usianya 70 tahun. Abu meninggal sekitar pukul 18.30 WIB di Rumah Sakit Materna Medan, setelah sebelumnya mendapat perawatan intensif karena penyakit yang diderita oleh Abu selama ini, yaitu tekanan darah tinggi.
Sebelumnya Abu juga sempat dirujuk ke Rumah Sakit di Penang, Malaysia. Almarhum Abu Panton akan dikebumikan di Panton Labu, Aceh Utara Selasa (30/4) di komplek Dayah Malikussaleh tempatnya selama ini memimpin.
Karya Abu Pantun
Seperti dikutip dari acehinstitute.org, Abu Panton pada masa kecilnya tidak sempat menyelesaikan Sekolah Rakyat karena rumah sekolahnya dibakar. Untung saja Abu Panton masih sempat diantarkan ke dayah sehingga telah menjadi seorang ulama dan sekaligus penulis buku “Resolusi Konflik”. Tetapi teman-teman Abu Panton, menurut keterangannya, banyak yang tidak tahu tulis baca sampai sekarang. Bayangkan bagaimana nasib bangsa kita ini jika semua penduduknya seperti teman-teman Abu Panton yang tidak dapat mengenyam pendidikan. Meminjam istilah Abu Panton kita akan menjadi “bangsa jahil”.
Pesan Abu
Dalam salah satu pengajian di Dayah Malikussaleh, Abu Panton sempat mengatakan bahwa seseorang akan kehilangan agamanya disebabkan oleh empat faktor. antara lain: tidak mengamalkan apa yang diketahui, mengamalkan apa yang tidak diketahuinya, tidak mencari tahu apa yang tidak diketahui, dan menolak seseorang yang hendak mengajari sesuatu yang tidak diketahui.
Hal ini dikarenakan manusia tidak bisa bersandar kepada diri sendiri atau pun kepada mahluk lainya, untuk mendorong hal itu manusia harus mengetahui jalan syariat serta berpegang teguh padanya, jalan syariat yang kami maksudkan disini adalah jalan yang dituntun sumbernya dari wahyu Ilahi dan sunnah Rasul. (Sulaiman Hasyim, Tgk Ibrahim Berdan (Abu Panton) Jalan Menuju Zuhud)

Jumat, 24 Agustus 2018

Adab-adab Dalam Menuntut Ilmu



Maktabah Hamzah |Adab bagi seorang penuntut ilmu adalah suatu keharusan, karena demikian merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan ilmu. Ilmu berada di tempat yang paling atas dan tinggi dan beradap adalah tangga untuk menaiki ke temapat yang berada di atas tersebut. Berikut ini kami mengutip dalam kitab Tazkirah Sami', beberapa adab dalam menuntut ilmu:
Selalu merasa dalam pengawasan Allah baik saat ataupun dalam khalayak ramai.Menjaga kemuliaan ilmu sebagaimana tradisi Salafus Shalih terdahulu.Berusaha Zuhud dan Qana’ah memelihara diri dari kehinaan dunia menurut kadar kesanggupan.Membersihkan ilmu yang telah dimilikinya dari sifat Riya, Ujub, mencapai kemuliaan duniawi, supaya dijadikan panutan, karena harta, pujian, terkenal, supaya dilayani oleh manusia dan ingin lebih unggul dari penuntut ilmu lainnya.Menjauhi sifat malas yang hina, yaitu  tabi’at  yang dibenci oleh syaria ataupun kebiasaan manusia (adat)Menjaga syiar-syiar agama Islam dan hukum-hukum yang zahir seperti melakukan shalat berjamaah, memberi salam baik bagi orang biasa maupun orang yang di atas biasa serta menjaga Amar-Ma’ruf  nahi-mungkar.Menjaga segala perbuatan-perbutan sunat dalam syariat baik Qauliyah maupun Fi’liyah seperti membaca al-Quran, zikir , melakukan wirid-wirid dan shalat –shalat sunat.Bergaul dengan manusia dengan akhlak yang baik seperti manis wajah, rajin bersedekah, mencintai jiran dan lain-lain.Membersihkan sikab jelek yang lahir ataupun batin seperti sifat Ghulwu, Hasud, marah bukan karena Allah, Takabur ,Bakhil, dan lain-lain.Bersungguh-sungguh dan istiqamah dalam melakukan rutinitas seperti berfikir, menghafal, menulis dan membahas pelajaran.
Demikianlah beberapa adab dalam menuntut ilmu, semoga kita menjadi penuntut ilmu baik yang selalu mengamalkan sunnah Rasulullah saw. Wallahua'lam.
Referensi :Kitab Tazkiru Sami’ Hal.48-59
Karya : Imam Qadhi Badruddin Muhammad bin Ibrahim (639-733 H)

ADAB TERHADAP KITAB ILMU AGAMA




Adab merupakan salah satu hal yang sangat diutamakan dalam menuntut ilmu. Para ulama mengatakan ;
ما فاز من فاز الا بالادب وما سقط من سقط الا بسوء الاداب
“Tidak berhasil orang-orang yang telah berhasil kecuali dengan adanya adab, dan tidak gagal orang yang gagal kecuali karena buruknya adabnya."
Salah satu adab yang harus tanamkan dalam jiwa semua penuntut ilmu adalah adab kepada sumber ilmu. Sumber ilmu itu adalah guru dan juga kitab ilmu. Salah satu keistimewaan para santri dayah tradisional adalah adanya doktrin yang kuat untuk menghormati kedua sumber ilmu.
Namun, harus kita akui, adab kita santri semakin hari semakin pudar di kikis perkembangan zaman, terutama adab kita terhadap kitab-kitab para ulama, walaupun bila dibandingkan dengan para pelajar dari beberapa lembaga selain dayah, penghormatan santri terhadap kitab masih lebih besar.
Kitab sebagai salah satu komponen sumber ilmu juga sangat perlu dihormati dan dimuliakan. Dengan adanya penghormatan terhadap kitab, diharapkan kita akan mendapatkan keberkahan dari ilmu yang kita dapat.
Kita semua menyadari bahwa kualitas keilmuan kita semakin hari semakin rendah. Salah satu faktor penyebab ini, selain dari minat belajar yang semakin rendah, adalah kurangnya penghormatan kitab kepada ilmu. Bila kita membaca sejarah para ulama terdahulu tentang penghormatan mereka kepada ilmu, maka kita akan merasa takjub dan akan kita dapati betapa jauhnya akhlaq kita dari akhlaq mereka.
Syeikh Muhammad Awamah dalam kitabnya Ma’alim Irsyadiyah li Shin’ah Thalibil Ilm, menceritakan bahwa ketika beliau belajar di Madrasah Sya’baniyah di Kota Halab (Aleppo, Suriah), beliau membawa sebuah kitab ditangan kirinya, kemudian datang guru beliau, Syeikh Ahmad Qalasy, mengambil kitab tersebut dari tangan kiri beliau dan meletakkannya pada tangan kanan beliau, dan berkata “Allahumma atini kitabi biyamini/Ya Allah datangkanlah kitabku dari sebelah kananku’’.
Beberapa hal yang termasuk dalam penghormatan kita terhadap kitab ilmu antara lain;
1. Membaca kitab dalam keadaan suci.
Satu hal yang sangat perlu diperhatikan adalah supaya selalu dalam keadaan suci ketika membaca kitab. Ibnu Asakir mencerikan kisah Abu Ustman Ashabuni beliau berkata "saya tidak pernah sama sekali masuk kedalam kamar kitab, dan tidak pernah meriwayakan hadits, dan tidak pernah mengadakan satu majlis ilmu dan duduk mengajar kecuali dalam keadaan suci”. Imam az-Zarnuji dalam kitabnya Ta'lim al-Muta'allim mengatakan "sebagian dari memuliakan ilmu adalah memuliakan kitab, maka sepatutnya bagi pelajar ilmu tidak mengambil kitab kecuali dalam keadaan suci. Dihikayahkan dari Imam Syamsul Aimmah al-Halwani bahwa beliau berkata "hanyasanya saya capai ilmu ini dengan memuliakannya, saya tidak pernah mengambil kitab kecuali dalam keadaan suci". Syeikh Syamsul Aimmah Sarkhasi pernah sakit perut, sedangkan beliau sedang mengulang kitab, maka beliau berwudhuk dalam semalam sampai tujuh belas kali, karena beliau tidak akan mengulang pelajaran kecuali dalam keadaan suci. Hal ini karena ilmu merupakan nur, sedangkan wudhuk juga nur, maka dengan wudhuk akan menambah nur ilmuya.
2. Duduk dengan hormat di depan kitab.
Duduk dengan hormat adakala dengan bersila atau tawaruk merupakan salah satu adab terhadap kitab yang sedang kita baca. Apalagi saat berada dalam majlis pengajian, maka sangat dituntut untuk duduk dengan sopan. Jangan mendirikan kaki saat duduk. Duduk dengan tidak sopan dalam majlis ilmu berarti tidak menghormati kitab dan juga tidak hormat pada guru serta majlis ilmu tersebut. Jangan juga menjulurkan kaki ke arah kitab.
3. Meletakkan kitab di tempat yang agak tinggi.
Kitab sebagai sumber ilmu tidak boleh diletakkan ditempat yang rendah seperti di lantai, baik ketika sedang belajar atau bukan. Maka merupakan satu hal yang sangat bagus bila para santri membudayakan memakai meja kecil ketika belajar, baik ketika belajar diruang kelas maupun ketika mutha’ah sendiri. Kalaupun tidak ada meja ketika menghadiri pengajian, maka sepatutnya kitab diletakkan di pangkuan, jangan dilantai. 
4. Menjaga lembaran kitab jangan berserakan
Lembaran kitab yang sudah lusuh atau tidak digunakan lagi, jangan dibiarkan terletak dan berserakan dilantai atau tanah. Sering kita lihat kitab-kitab yang sudah tidak ada pemiliknya lagi berserakan di lantai bahkan di tanah. Ada baiknya bila masih bisa dipergunakan maka diletakkan ditempat tertentu yang lebih mulia. Bila sudah tidak mungkin dipergunakan maka sebaiknya dibakar saja untuk menjaga kehormatannya. 
5. Menjaga kertas yang bertuliskan nash kitab
Saat ini dengan kemudahan penulisan dengan komputer dan printernya maka sangat mudah nash-nash kitab kita print dalam lembaran kertas. Namun hal yang sangat disayangkan adalah lembaran-lembaran yang bertuliskan nash-nash kitab para ulama tersebut kadang dibiarkan berjatuhan atau kadang dibuang kedalam tong sampah bersama dengan kotoran lain. Hal ini juga merupakan sikap kurangnya menghormati ilmu. Termasuk juga yang harus kita jaga adalah lembaran ujian yang didalamnya tertulis nash-nash kitab para ulama.
6. Meletakkan kitab menurut kemulian ilmunya.
Bila kita meletakkan kitab diatas kitab lain, maka sangat dianjurkan untuk memperhatikan sususan tingkatan kitab yang kita letakkan tersebut. Kitab yang berisi ilmu yang paling mulia harus diletakkan paling atas, kemudian disusul dengan kitab ilmu yang mulia di bawahnya dan seterusnya. Urutan kitab menurut kemulian ilmunya adalah; mashhaf al-quran, kitab matan hadis dengan lebih mendahulukan kitab shahih Bukhari kemudian shahih Muslim, kitab tafsir al-Quran, kitab tafsir hadits, kitab ushuluddin (tauhid), kitab ushul fiqh, kitab nahu, kitab sharaf, ilmu balaghah (ma’ani, bayan dan badi’), kitab syair-syair Arab, kitab ilmu Arudh.
Bila kitab dalam ilmu yang sama, maka diletakkan menurut kemulian pengarangnya, bila mushannifnya sama-sama kemuliannya maka didahulukan kitab yang lebih dahulu dan kitab yang lebih banyak digunakan oleh para ulama shaleh.
7. Jangan melipat pinggir kitab
Terkadang untuk memberi tanda batasan pelajaran kita melipat pinggir lembaran kitab. Hal ini merupakan hal yang kurang baik, karena akan mempercepat lusuhnya lembaran kitab. Maka yang lebih baik adalah memberi tanda batasan belajar dengan lembaran kertas lain. 
8. Tidak meletakkan benda lain diatas kitab.
Kadangkala kita lihat sebagian kita meletakkan barang-barang lain diatas kitab, padahal meletakkan kitab lain yang kemuliaannya dibawahnya saja dilarang, apalagi bila meletakkan benda yang tidak punya kemuliaan sama sekali, seperti misalnya handpone, kunci kereta, rokok, korek dll
9. Memulai membaca kitab dengan membaca doa
Akan terlebih menambah barakah bila membaca kitab dimulai dengan membaca ta’awuzd, basmalah, hamdalah, shalawat kepada Rasulullah dan berdoa gurunya, mushannif kitab, orang tuanya, diri sendiri, untuk para hadirin (bila membaca kitab untuk orang lain) dan untuk seluruh kaum muslimin. Hal demikian dilakukan setiap kali kita memaca kitab, baik ketika ruang kelas, dihadapan guru, ataupun ketika muthala’ah sendiri dikamar. 
10. Menyudahi membaca kitab dengan doa
Satu hal yang sangat bagu juga, bila setelah selesai membaca kitab, kita sudahi dengan membaca doa, semoga ilmu yang baru saja kita dapatkan, menjadi ilmu yang barakah bagi kita, menetap dalam hati kita, mampu kita ingat saat kita butuhkan.
Semoga dengan menjaga adab terhadap kitab yang kita pelajari, akan menambah barakah bagi ilmu kita, terlebih lagi untuk zaman ini, minat belajar kita rendah sehingga ilmu hanya sedikit yang bisa kita dapatkan. Semoga sedikit ilmu yang kita dapatkan tersebut penuh dengan barakah sehingga betul-betul bermanfaat untuk akhirat kita. Kita juga berharap dengan adanya perhormatan kita terhadap kitab, Allah berkenan membukankan pintu ilmu bagi kita, sehingga memudahkan kita dalam belajar, cepat memahami ilmu dan setiap ilmu yang kita dapati menetap dalam hati kita. Tulisan ini kami tulis dengan mengutip dari kitab-kitab para ulama, sebagai renungan bagi penulis sendiri terhadap rendahnya penghormatan kita terhadap ilmu saat ini, semoga kita mampu menghayati hal ini dan diberi kemampuan oleh Allah untuk memperbaiki kekurangan kita sendiri. Amin Ya Rabbal Allamin.

Rabu, 22 Agustus 2018

Macam-macam Ruh dan Kondisinya



Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati hal ini sangat jelas firman Allah SWT :


كُلّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ


“Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian”. (Surat Ali `Imran: 185).

Kata  "mati" atau "kematian" tidak akan dikatakan kecuali apabila ruh telah berpisah dari jasad, namun kali ini kami akan berbagi  sedikit tentang kondisi pencabutan ruh. Di dalam Hasyiah Ianatuttalibin syeh sayyid Abu Bakar syata menyebutkan pada permasalahan shalat jenazah, segala arwah itu dapat dibagi kepada lima macam:

1,Ruh para ambiya
2.Ruh para syhada (orang-orang syahid)
3.Ruh orang-orang ta'at
4.Ruh orang-orang bermaksiat dari orang beriman
5.Ruh segala orang kafir.

Setiap kelima pembagian tersebut memiliki berbagai macam keberagamannya saat dicabut oleh Allah SWT melalui malaikat izrailnya.
Adapun ruh para ambiya keluar dari jasadnya dengan bentuk seperti  jasad disertai dengan bau miski dan kafur ( wangian yang sangat harum) ruh tersebut menuju surganya Allah memakan makanan lezat dan kenikmatan lainnya, di waktu malamnya ruh para ambiya ini menetap pada tempat yang dipenuhi lampu-lampu hias yang indah dan anggun.
 Adapun ruh para syuhada apabila keluar dari jasadnya maka Allah jadikan ruh mereka menetap diatas satu burung yang hijau yang membawa ruh-ruh tersebut mengelilingi sungai-sungai di surga Allah SWT, memakan dan minum dengan penuh kenikmatan, diwaktu malam meraka menetap disuatu tempat yang indah bola lampunya bergantungan terbuat dari emas.
Selanjutnya  ruh orang-orang ta'at dari kalangan mu'min akan Allah pertempatkan dalam kebun surganya para ruh tersebut tidak makan dan tidak bernikmat-nikmat melainkan hanya melihatnya saja, namun seperti kita ketahui melihat nikmatnya saja itu sudah merupakan nikmat terbesar bagi kita, semoga Allah memberi kebaikan kepada semua kita saat pencabutan ruh nantinya.
Keempat adalah ruh orang yang maksiat kepada Allah dari kalangan orang mukmin ruh meraka akan Allah tempatkan diantara langit dan bumi layaknya seperti kapas yang  berterbangan. Semoga Allah menjauhkan kita semua dari bahagian ini, Amin.
kelima, ruh orang-orang kafir akan ditempatkan diatas burung yang hitam dan berada dalam satu penjara di bawah bumi yang ketujuh badannya melengket dengan bumi dan mereka akan merasakan kesakitan yang luar biasa, sehingga hal ini bisa dirasakan oleh jasadnya dialam kubur sana.

Referensi : Hasyiah I'anatuttalibin Juz 2 Hal 107 Cet, Haramain

(واعلم) أن الأرواح على خمسة أقسام: أرواح الأنبياء، وأرواح الشهداء، وأرواح المطيعين، وأرواح العصاة من المؤمنين، وأرواح الكفار.

فأما أرواح الأنبياء: فتخرج عن أجسادها، وتصير على صورتها مثل المسك والكافور، وتكون في الجنة، تأكل، وتتنعم، وتأوي بالليل إلى قناديل معلقة تحت العرش.

وأرواح الشهداء: إذا خرجت من أجسادها فإن الله يجعلها في أجواف طيور خضر تدور بها في أنهار الجنة، وتأكل من ثمارها، وتشرب من مائها، وتأوي إلى قناديل من ذهب معلقة في ظل العرش، هكذا قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم -.

وأما أرواح المطيعين من المؤمنين: فهي في رياض الجنة، لا تأكل ولا تتنعم، لكن تنظر في الجنة فقط.

وأما أرواح العصاة من المؤمنين: فبين السماء والأرض في الهواء.

وأما أرواح الكفار: فهي في أجواف طيور سود في سجين، وسجين تحت الأرض السابعة، وهي متصلة بأجسادها، فتعذب أرواحها، فيتألم بذلك الجسد.

كالشمس: في السماء الرابعة، ونورها في الأرض، كما أن أرواح المؤمنين في عليين، متنعمة ونورها متصل بالجثة.

Selasa, 21 Agustus 2018

6 Karakter Perempuan yang Tidak Baik Dijadikan Sebagai Istri



Menikah merupakan jalan keluar dua insan untuk merealisasikan rasa cinta yang bergejolakl dalam hatinya, mencari kebahagiaan dan untuk melestarikan keturunan. Setiap orang pastinya menginginkan pasangan hidup yang baik dan ideal, prilakunya, agamis, dan menyenangkan  pastinya.

Imam Al-Ghazali  dalam karangan fenomenalnya kitab Ihya Ulumuddin memberikan beberapa tips agar kita tidak salah dalam memilih perempuan, karena pilihan yang baik tentu akan membawa hasil yang baik pula. Berikut ini beberapa kriteria sosok perempuan yang tidak pantas dijadikan sebagai istri.

1. Al-Ananah

أما الأنانة فهي التي تكثر الأنين والتشكي وتعصب رأسها كل ساعة

Al-Ananah (suka mengeluh) adalah perempuan yang banyak mengeluh dan mengadu, selalu membalut kepalanya sebagai tanda sakit. Ini dilakukan untuk memberitahu kepada orang-orang bahwa dia merasa terbebani dengan tugasan hariannya  karena malas atau memang sifat bawaan yang dimilikinya. Perempuan seperti ini bawaannya  suka mengeluh walaupun disebabkan perkara kecil. Perempuan tersebut berpura-pura sakit supaya suaminya tidak membebaninya dengan tugas harian. Menikahi perempuan yang sengaja buat-buat sakit tidak ada faedah sama sekali.

2. Al-Mananah

والمنانة التي تمن على زوجها فتقول فعلت لأجلك كذا وكذا

Al-Mananah yaitu perempuan yang memberikan sesuatu kepada suaminya  tetapi suka mengungkit-ungkit pemberian tersebut. Seringkali saat berbicara dia selalu mengungkitnya, lebih-lebih lagi saat terjadi suatu masalah, dia selalu merasa bahwa pemberian suaminya tidak sebanding dengan apa yang telah diberikannya.

3. Al-Hananah

والحنانة التي تحن إلى زوج آخر أو ولدها من زوج آخر وهذا أيضا مما يجب اجتنابه

Al-Hananah adalah perempuan yang suka merindui, mengungkit-ungkit dan mengingati bekas suami atau anaknya dari suaminya dulu. (Perempuan seperti ini tidak akan menghargai suaminya walaupun suaminya berusaha memuaskan segala kemauannya)

4. Al-Haddaqah

والحداقة التي ترمي إلى كل شيء بحدقتها فتشتهيه وتكلف الزوج شراءه

Al-Haddaqah yaitu perempuan yang menginginkan apa saja yang dilihatnya saat berbelanja (boros) sehingga membebankan dan memberatkan suaminya dalam ekonomi.

5. Al-Baraqah

والبراقة تحتمل معنيين أحدهما أن تكون طول النهار في تصقيل وجهها وتزيينه ليكون لوجهها بريق محصل بالصنع والثاني أن تغضب على الطعام فلا تأكل إلا وحدها

Al-Baraqah mempunyai dua makna. Pertama, suka berhias sepanjang waktu (melampau atau melebihi  batas wajar) supaya wajahnya nampak lebih anggun dan mempersona. Kedua, perempuan yang tidak mau makan dalam keramaian, dan dia tidak akan makan kecuali jika sendirian, dia juga akan menyimpan bagian tertentu untuk dirinya sendiri.

6. Al-Syaddaqah

والشداقة المتشدقة الكثيرة الكلام ومنه قَوْلَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ تعالى يبغض الثرثارين المتشدقين

Al-Syaddaqah adalah perempuan yang banyak berbicara, melebihi kadar keperluan lebih-lebih berbicara hal yang tidak penting. Suka mengupat siapa saja bahkan suaminya sendiri. Sebagaimana sabda Nabi saw, bahawa Allah murka kepada wanita yang banyak bicara hal yang tidak penting. Wallahua'lam.

Referensi: Ihya Ulumiddin juz 2 hal 61 cet I maktabah mesir tahun 2013

Biografi Syeikh Abdul Karim al-Jily



Dalam beberapa postingan kami ada beberapa postingan yang menyebut tentang Kitab Insan Kamil fi ma’rifatil al-Awakhir wal awail. sebuah kitab sufi karangan Syeikh Abdul Karim bin Ibrahim al-Jily (wafat 805 H). Maka ada baiknya juga kami membuat postingan tentang profil beliau secara singkat. 

Al-Jliy ini adalah nisbah kepada Jilam, satu kota di Iran, ada yang menyebutnya dengan al-Jily, ada juga dengan al-Jilani dan ada juga dengan al-Kailany. Dalam sejarah Islam, banyak memang tokoh yang dinisbahkan kepada Kota Jilan, dalam penisbatan tersebut ada yang menyebutnya dengan al-Jilani dan ada juga dengan al-Jily. Namun sebagian ahli sejarah membedakan kedua nisbah tersebut. Jika dinisbahkan kepada Kota Jilan maka disebut dengan Jilani namun jika dinisbahkan kepada salah seorang dari kota Jilan maka disebut dengan al-Jily. Haji Khalifah dalam kitabnya Kasyf Dhunun menyebutkan bahwa Syeikh Abdul Karim al-Jily merupakan keturunan Syeikh Abdul Qadir al-Jailani (wafat 561 H). Beliau dilahirkan tahun awal muharram tahun 767 H (1365 M) di kota Bagdad. Kemudian beliau keluar dari Bagdad dalam rangka mencari ilmu. Pengembaraan beliau ini sampai ke Zabid, Yaman dan berguru kepada salah seorang ulama Sufi terkemuka di sana, Syeikh Ismail Jabarti. Tahun 799 H beliau ke Makkah dan bertemu dengan para ulama sufi di sana. Tahun 809 H beliau mengembara ke Kota Kairo dan berkumpul dengan ulama al-Azhar. Pada tahun yang sama beliau juga menuju ke kota Gazza, Palestina. Kemudian karena kerinduan kepada sanga guru di Zabid, beliau kembali ke Zabid Yaman, menjenguk guru beliau Syeikh Islamil Jabarti pada tahun 805 H,setahun sebelum wafat guru beliau tersebut. Setelah wafat gurunya, beliau masih menetap di Zabid hingga akhirnya menyelesaikan salah satu kitab yang bernama Insan Kamil. Setelah itu beliau menziarahi beberapa kota lain di negri Yaman. Beliau juga sempat bertemu dengan mengambil faedah ilmu dari pendiri Thariqat Naqsyabandiyah, Syeikh Khawajah Bahauddin Muhammad bin Syah Naqsyabandi (wafat 827 H).

Para ahli sejarah berbeda pendapat tentang wafatnya beliau. Menurut Haji Khalifah beliau wafat tahun 805 H. Menurut Syeikh Abdaruddin al-Ahdal beliau wafat tahun 826 H. Sedangkan menurut oreantalis Inggris, Reynold A. Nicholson, beliau wafat sekitar tahun 820 H. Sedangkan menurut Louis Massignon, beliau wafat tahun 832 H/1428 M di Zabid dan dimakankan di sana. 
Kitab Karya Syeikh Abdul Karim al-Jily

Syeikh Abdul Karim al-Jili memiliki beberapa karangan, antara lain; 
1. Munadharah Ilahiyah
2. al-Kahf war Raqim
3. Jannatul Ma'arif wa Ghayah al-Murid wal 'Arif
4. Qamus al-Aqdam wan Namus al-A'dham
5. Qasidah Ainiyah
6. Quthb al-Ajaib wa Falak al-Gharaib
7. Mataib al-Wujud
8. Kamalat Ilahiyah fi Shifat al-Muhammadiyah
9. KItab Insan Kami
10. Dll