Sabtu, 28 Juli 2018

ANTARA DAYAH DAN TAMAN SISWA/SEKOLAH UMUM




Pada dasarnya, induk ilmu di Aceh dan Nusantara adalah melalui pendidikan Dayah, yang kebanyakan masyarakat sudah melupakannya atau tidak mengetahuinya.
Pada umumnya di hari pendidikan masyarakat Indonesia akan mengenang Ki Hajar Dewantara yang dianggap sebagai Bapak Pendidikan Indonesia disebabkan jasanya dalam mendirikan sekolah Taman Siswa. Sehingga ada anggapan bahwa sebelum adanya taman siswa, masyarakat belum mengenal pendidikan dan sekolah.
Padahal sebelum itu, masyarakat muslim nusantara telah banyak mendirikan lembaga pendidikan yang bernama pesantren, atau dayah.
Seminar masuknya Islam ke Indonesia memutuskan bahwa agama Islam masuk kenusantara melalui daerah Aceh . Oleh sebab itu, sejarah pendidikan Islam akan bermula dari tempat dimana agama Islam tersebut masuk pertama kali. Lembaga pendidikan Islam dalam masyarakat Aceh berawal dari pendidikan pondok yang dalam bahasa Aceh disebut dengan nama " Dayah" .
Kata-kata Dayah dipakai oleh masyarakat Aceh untuk nama lembaga pendidikan, sebab masyarakat Aceh meyakini bahwa lembaga pendidikan yang diasaskan oleh Rasulullah dan para sahabat Nabi bermula dari kelompok dan lingkaran belajar di beranda di salah satu sudut masjid nabi yang disebut dengan nama "Zawiyah". Zawiyah tersebut berasal dari bahasa arab yang bermakna sudut, dan dari kalimat "zawiyah " berubah dengan dialek Aceh menjadi "Dayah".
Menurut A. Hasymi, setelah kerajaan Islam peureulak pertama kali berdiri pada bulan Muharram tahun 255 Hijriyah (l840 Masehi) dibawah Sultan Sayyid maulana Abdul Aziz dengan gelar Sultan Alaidin Sayyid maulana Abdul Aziz Syah, dengan ibu kota Bandar Peureulak, yang dirubah nama menjadi "Bandar Khalifah ". Sultan mendirikan beberapa lembaga pendidikan Islam. Dayah pertama adalah dayah Cot Kala ( sekarang bernama kampung Bayeun di Aceh Timur ) yang dipimpin oleh seorang ulama Syekh Muhammad Amin.
Dayah Cot kala ini menjadi pusat kegiatan ilmu dan menghasilkan banyak ulama dan sarjana serta pemimpin masyarakat di kerajaan Aceh seperti Peureulak, Samudra pasai, Beunua ( Tamiang), Lingga, Daya dan lamuri.
Pengasas dayah Cot Kala ini akhirnya diangkat menjadi sulthan Pereulak yang berkuasa dari tahun 310-334 Hijriyah/922-946 Masehi dengan gelar Sultan Makhdum Alaidin Malik Muhammad Amin Syah Johan Berdaulat Untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dengan lebih hebat lagi, Sultan meminta beberapa ulama dari Arab, Persia, dan Gujarat untuk datang ke Aceh dan mengajar di dayah Cot Kala sehingga dayah tersebut dapat menghasilkan sarjana Islam yang dapat mengembangkan ajaran Islam di seluruh Aceh. Para ulama yang tamat dari lembaga ini menyebarkan Islam ke wilayah lain di Aceh, dan mendirikan dayah-dayah lain, seperti Dayah Seureuleu, Dayah Blang peuria dan lain sebagainya.
Menurut A. Hasymi, Dayah Seureuleu di Aceh tengah didirikan antara tahun 1012-1059, Dayah Blang peuria di Samudera Pasai , Aceh Utara antara tahun 1155-1233, Dayah Lam keune'euen Aceh besar antara 1196-1225. Dayah tanoh Abee, Aceh besar antara 1823-1836, dan dayah di Tiro , Aceh Piedie, antara 1781-1795.
Snouck Hurgronye menyebutkan beberapa nama dayah yang telah ada sebelum kedatangan Belanda, seperti dayah Ie Leubeue, Dayah Tiro, keduanya di Aceh Pidie, Dayah lam nyong , dayah Krueng kale, Dayah Lam seunong, Dayah Tanoh Abee di Aceh besar, namun demikian dia tidak menyebutkan tahun berdirinya dayah tersebut.
Pada awal kedatangan Islam ke Aceh . tidak terdapat lembaga pendidikan lain kecuali dayah. Lembaga ini menghasilkan beberapa sarjana terkenal dan pengarang yang produktif. Pada masa Sultan Mansur Syah ( 1570-1585 ), seorang sarjana terkenal, Abu al Kahar Ibn Syekh Ibn Hajar, pengarang kitab Shaif al Qati datang ke Aceh mengajar hukum Islam di Dayah. Pada waktu bersamaan, Syekh Yamani mengajar teologi, dan Muhammad Jailani Ibn Hasan hamid mengajar logika (mantiq) dan Ushul Fiqh. A.Hasymi menyatakan bahwa pada masa Sultan Iskandar Muda memimpin Aceh (1607-1636), terdapat 44 syeikh yang mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan seperti filsafat , politik, sejarah, dan pertanian sebagai tambahan kepada ilmu agama. Pada masa ini kerajaan Islam Aceh Darussalam menjadi pusat kegiatan intelektual. Banyak penuntut dari negeri lain datang menuntut ilmu ke dayah di Aceh. Seorang ulama terkenal Syekh Yusuf al Makassari ( 1626-1699 ) pernah belajar di Aceh. Syekh Burhanuddin dari Minang kabau yang kemudian menjadi ulama terkenal di Sumatera barat menyebarkan Islam dan mendirikan surau di Minang kabau juga pernah berguru kepada ulama Aceh, Syekh Abdur Rauf Singkil (Tgk Syiah Kuala). Syekh Daud al fathani, seorang ulama dan penulis produktif dari negeri Patani ( Thailand ) juga pernah belajar di Aceh kepada ulama Muhammad Zain al Faqih Jalaluddin al Asyi. Menurut Baihaqi, bermacam ilmu pengetahuan dan umum telah diajarkan di dayah termasuk astronomi, kesehatan dan pertanian. Hal itu berdasarkan kenyataan bahwa Abu Kuta Karang telah menulis kitab Tajul Mulk yang berhubungan dengan astronomi, dan pertanian. Kitab tersebut dicetak di Qairo dan Mekkah pada tahun 1893, terdiri dari cara menghitung waktu yang sesuai dalam musim, ramalan cuaca, pengobatan dan metode manandai waktu . Semua guru pengajar di dayah adalah ulama, dan semua orang terpelajar baik itu raja atau komandan militer adalah tamat dari dayah. Sebagai contoh, raja yang terkenal dimasa kejayaan Islam Aceh, Sultan Iskandar Muda, masa remaja adalah murid dari pada ulama Syamsuddin As Sumatrani.  dan pada waktu menjadi sultan beliau berguru kepada dua ulama dari makkah Syech Abdul Khair bin Hajar, dan Syekh Muhammad yamani, dan juga berguru dengan ulama dari Gujarat, Syekh Nuruddin Al-Raniri. Metode mengajar di Dayah pada dasarnya dengan oral dan metode hafalan. Guru dan murid biasanya duduk dalam sebuah lingkaran (halaqah). Guru menerangkan teks-teks agama kepada murid-murid yang duduk di sekitarnya atau di depannya, mendengarkan diskusi, dan ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Metode lain adalah para murid-murid datang satu persatu kepada seorang guru dengan salinan teks yang sedang mereka pelajari, kemudian guru membaca teks, memberikan komentar dan catatan dalam bacaannya tersebut, kemudian meminta murid membaca kembali teks yang dibacakan tadi. Meskipun demikian pada kelas yang paling tinggi, diskusi lebih dianjurkan dalam segala aktivitas proses belajar mengajar dan ruang kelas hampir merupakan sebuah ruang seminar. Para guru biasanya berfungsi sebagai penyelia (moderator) yang kadang-kadang berperan sebagai pengambil keputusan. Belajar di dayah biasanya memerlukan waktu yang lama, tidak ada waktu tertentu untuk belajar di suatu dayah. Maksudnya, seorang murid dapat belajar di beberapa dayah, setelah belajar berapa tahun di satu dayah, maka dia akan pindah ke dayah yang lain. Bilangan tahun yang dihabiskan oleh seorang murid tergantung dengan ketekunannya, dan pengakuan guru kepada murid tersebut. Biasanya waktu yang diperlukan belajar di satu dayah sampai 12 tahun, malah terkadang sampai 14 tahun, sebelum orang tersebut akan diakui menjadi seorang ulama. Cara yang biasanya dipakai untuk mencapai tujuan tersebut, dengan mendapatkan kepercayaan dari kelompoknya , dan kerana kemampuannya dalam menjelaskan isi kitab dan membantu murid yang lain ketika guru berhalangan. Akhirnya murid-murid akan datang kepadanya meminta penjelasan isi kitab, sampai suatu saat dimana ilmunya akan diakui oleh guru besar dayah Dalam dayah seperti ini tidak ada sijil, hanya saja biasanya setelah selesai dari belajar di dayah, dan mendapat pengakuan dari guru dayah, maka dia akan balik ke kampung mendirikan dayah, atau menjadi imam di masjid, atau guru mengaji di meunasah. Kedatangan penjajah Belanda ke Aceh mendapat perlawanan dari rakyat Aceh yang dipimpin oleh para ulama dayah. Perang tersebut telah memusnahkan beberapa dayah yang telah ada. Malahan ada beberapa dayah dibakar habis rata dengan tanah, dan bersamaan dengan itu terbakarlah kitab-kitab yang selama ini menjadi kekayaan dayah, seperti apa yang terjadi di dayah Lam bada. Dalam kesempatan lain, penjajah Belanda juga mengambil dan merampas kitab-kitab yang menjadi rujukan ulama dan pelajar dari dayah-dayah. Jika ada dayah yang dibiarkan oleh penjajah, maka kurikulum dayah tersebut akan diawasi oleh penjajah dan tidak dibenarkan lagi mengajarkan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan politik, disamping selalu mengawasi segala kegiatan di dalam dayah. Meskipun ada ulama yang membangun kembali dayah mereka, tenaga pengajar sangat terbatas, karena banyak guru yang terbunuh dalam peperangan, buku sangat kurang, kurikulum terbatas, dan dana juga sangat terbatas. Jika dayah itu tidak ingin dikawal oleh penjajah belanda, mereka mendirikannya jauh dari kota, sehingga mereka tidak dapat lagi berhubungan dengan para ulama dari luar, dan pelajaran yang diajarkan hanya berkisar masalah agama, seperti kitab fiqah, tauhid, dan tasawuf, yang merupakan ajaran inti daripada agama Islam, bukan seperti dayah di masa lalu yang mengajarkan ilmu agama, ilmu falak, ilmu pertanian, ilmu sains, ilmu kimia, ilmu perobatan, ilmu fisika, ilmu kemasyarakatan, ilmu ekonomi (muamalah) ilmu politik dan bernegara (siaysah syariyah), sebagaimana yang terdapat dalam kurikulum Dayah Jamiah Baiturrahman yang merupakan lembaga pendidikan pertama di bumi nusantara. Dengan difungsikan dayah hanya untuk agama, maka berdirilah sekolah-sekolah yang hanya mengajarkan pelajaran umum seperti sekolah Taman Siswa. Berarti Taman Siswa merupakan sekolah sekular pertama, sedangkan pendidikan pertama adalah Dayah atau pesantren.(MH)
فاعتبروا يا ألى الأبصار...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar