Senin, 27 Agustus 2018

ULAMA KHARISMATIK ACEH, ABU PANTON


Tgk. H Ibrahim Bardan yang biasa disapa Abu Panton telah meninggal dunia, Senin (29/4) dalam usianya 70 tahun. Abu meninggal sekitar pukul 18.30 WIB di Rumah Sakit Materna Medan, setelah sebelumnya mendapat perawatan intensif karena penyakit yang diderita oleh Abu selama ini, yaitu tekanan darah tinggi.

Sebelumnya Abu juga sempat dirujuk ke Rumah Sakit di Penang, Malaysia. Almarhum Abu Panton akan dikebumikan di Panton Labu, Aceh Utara Selasa (30/4) di komplek Dayah Malikussaleh tempatnya selama ini memimpin.
KaryaTgk. H Ibrahim Bardan yang biasa disapa Abu Panton telah meninggal dunia, Senin (29/4) dalam usianya 70 tahun. Abu meninggal sekitar pukul 18.30 WIB di Rumah Sakit Materna Medan, setelah sebelumnya mendapat perawatan intensif karena penyakit yang diderita oleh Abu selama ini, yaitu tekanan darah tinggi.
Sebelumnya Abu juga sempat dirujuk ke Rumah Sakit di Penang, Malaysia. Almarhum Abu Panton akan dikebumikan di Panton Labu, Aceh Utara Selasa (30/4) di komplek Dayah Malikussaleh tempatnya selama ini memimpin.
Karya Abu Pantun
Seperti dikutip dari acehinstitute.org, Abu Panton pada masa kecilnya tidak sempat menyelesaikan Sekolah Rakyat karena rumah sekolahnya dibakar. Untung saja Abu Panton masih sempat diantarkan ke dayah sehingga telah menjadi seorang ulama dan sekaligus penulis buku “Resolusi Konflik”. Tetapi teman-teman Abu Panton, menurut keterangannya, banyak yang tidak tahu tulis baca sampai sekarang. Bayangkan bagaimana nasib bangsa kita ini jika semua penduduknya seperti teman-teman Abu Panton yang tidak dapat mengenyam pendidikan. Meminjam istilah Abu Panton kita akan menjadi “bangsa jahil”.
Pesan Abu
Dalam salah satu pengajian di Dayah Malikussaleh, Abu Panton sempat mengatakan bahwa seseorang akan kehilangan agamanya disebabkan oleh empat faktor. antara lain: tidak mengamalkan apa yang diketahui, mengamalkan apa yang tidak diketahuinya, tidak mencari tahu apa yang tidak diketahui, dan menolak seseorang yang hendak mengajari sesuatu yang tidak diketahui.
Hal ini dikarenakan manusia tidak bisa bersandar kepada diri sendiri atau pun kepada mahluk lainya, untuk mendorong hal itu manusia harus mengetahui jalan syariat serta berpegang teguh padanya, jalan syariat yang kami maksudkan disini adalah jalan yang dituntun sumbernya dari wahyu Ilahi dan sunnah Rasul. (Sulaiman Hasyim, Tgk Ibrahim Berdan (Abu Panton) Jalan Menuju Zuhud)

Jumat, 24 Agustus 2018

Adab-adab Dalam Menuntut Ilmu



Maktabah Hamzah |Adab bagi seorang penuntut ilmu adalah suatu keharusan, karena demikian merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan ilmu. Ilmu berada di tempat yang paling atas dan tinggi dan beradap adalah tangga untuk menaiki ke temapat yang berada di atas tersebut. Berikut ini kami mengutip dalam kitab Tazkirah Sami', beberapa adab dalam menuntut ilmu:
Selalu merasa dalam pengawasan Allah baik saat ataupun dalam khalayak ramai.Menjaga kemuliaan ilmu sebagaimana tradisi Salafus Shalih terdahulu.Berusaha Zuhud dan Qana’ah memelihara diri dari kehinaan dunia menurut kadar kesanggupan.Membersihkan ilmu yang telah dimilikinya dari sifat Riya, Ujub, mencapai kemuliaan duniawi, supaya dijadikan panutan, karena harta, pujian, terkenal, supaya dilayani oleh manusia dan ingin lebih unggul dari penuntut ilmu lainnya.Menjauhi sifat malas yang hina, yaitu  tabi’at  yang dibenci oleh syaria ataupun kebiasaan manusia (adat)Menjaga syiar-syiar agama Islam dan hukum-hukum yang zahir seperti melakukan shalat berjamaah, memberi salam baik bagi orang biasa maupun orang yang di atas biasa serta menjaga Amar-Ma’ruf  nahi-mungkar.Menjaga segala perbuatan-perbutan sunat dalam syariat baik Qauliyah maupun Fi’liyah seperti membaca al-Quran, zikir , melakukan wirid-wirid dan shalat –shalat sunat.Bergaul dengan manusia dengan akhlak yang baik seperti manis wajah, rajin bersedekah, mencintai jiran dan lain-lain.Membersihkan sikab jelek yang lahir ataupun batin seperti sifat Ghulwu, Hasud, marah bukan karena Allah, Takabur ,Bakhil, dan lain-lain.Bersungguh-sungguh dan istiqamah dalam melakukan rutinitas seperti berfikir, menghafal, menulis dan membahas pelajaran.
Demikianlah beberapa adab dalam menuntut ilmu, semoga kita menjadi penuntut ilmu baik yang selalu mengamalkan sunnah Rasulullah saw. Wallahua'lam.
Referensi :Kitab Tazkiru Sami’ Hal.48-59
Karya : Imam Qadhi Badruddin Muhammad bin Ibrahim (639-733 H)

ADAB TERHADAP KITAB ILMU AGAMA




Adab merupakan salah satu hal yang sangat diutamakan dalam menuntut ilmu. Para ulama mengatakan ;
ما فاز من فاز الا بالادب وما سقط من سقط الا بسوء الاداب
“Tidak berhasil orang-orang yang telah berhasil kecuali dengan adanya adab, dan tidak gagal orang yang gagal kecuali karena buruknya adabnya."
Salah satu adab yang harus tanamkan dalam jiwa semua penuntut ilmu adalah adab kepada sumber ilmu. Sumber ilmu itu adalah guru dan juga kitab ilmu. Salah satu keistimewaan para santri dayah tradisional adalah adanya doktrin yang kuat untuk menghormati kedua sumber ilmu.
Namun, harus kita akui, adab kita santri semakin hari semakin pudar di kikis perkembangan zaman, terutama adab kita terhadap kitab-kitab para ulama, walaupun bila dibandingkan dengan para pelajar dari beberapa lembaga selain dayah, penghormatan santri terhadap kitab masih lebih besar.
Kitab sebagai salah satu komponen sumber ilmu juga sangat perlu dihormati dan dimuliakan. Dengan adanya penghormatan terhadap kitab, diharapkan kita akan mendapatkan keberkahan dari ilmu yang kita dapat.
Kita semua menyadari bahwa kualitas keilmuan kita semakin hari semakin rendah. Salah satu faktor penyebab ini, selain dari minat belajar yang semakin rendah, adalah kurangnya penghormatan kitab kepada ilmu. Bila kita membaca sejarah para ulama terdahulu tentang penghormatan mereka kepada ilmu, maka kita akan merasa takjub dan akan kita dapati betapa jauhnya akhlaq kita dari akhlaq mereka.
Syeikh Muhammad Awamah dalam kitabnya Ma’alim Irsyadiyah li Shin’ah Thalibil Ilm, menceritakan bahwa ketika beliau belajar di Madrasah Sya’baniyah di Kota Halab (Aleppo, Suriah), beliau membawa sebuah kitab ditangan kirinya, kemudian datang guru beliau, Syeikh Ahmad Qalasy, mengambil kitab tersebut dari tangan kiri beliau dan meletakkannya pada tangan kanan beliau, dan berkata “Allahumma atini kitabi biyamini/Ya Allah datangkanlah kitabku dari sebelah kananku’’.
Beberapa hal yang termasuk dalam penghormatan kita terhadap kitab ilmu antara lain;
1. Membaca kitab dalam keadaan suci.
Satu hal yang sangat perlu diperhatikan adalah supaya selalu dalam keadaan suci ketika membaca kitab. Ibnu Asakir mencerikan kisah Abu Ustman Ashabuni beliau berkata "saya tidak pernah sama sekali masuk kedalam kamar kitab, dan tidak pernah meriwayakan hadits, dan tidak pernah mengadakan satu majlis ilmu dan duduk mengajar kecuali dalam keadaan suci”. Imam az-Zarnuji dalam kitabnya Ta'lim al-Muta'allim mengatakan "sebagian dari memuliakan ilmu adalah memuliakan kitab, maka sepatutnya bagi pelajar ilmu tidak mengambil kitab kecuali dalam keadaan suci. Dihikayahkan dari Imam Syamsul Aimmah al-Halwani bahwa beliau berkata "hanyasanya saya capai ilmu ini dengan memuliakannya, saya tidak pernah mengambil kitab kecuali dalam keadaan suci". Syeikh Syamsul Aimmah Sarkhasi pernah sakit perut, sedangkan beliau sedang mengulang kitab, maka beliau berwudhuk dalam semalam sampai tujuh belas kali, karena beliau tidak akan mengulang pelajaran kecuali dalam keadaan suci. Hal ini karena ilmu merupakan nur, sedangkan wudhuk juga nur, maka dengan wudhuk akan menambah nur ilmuya.
2. Duduk dengan hormat di depan kitab.
Duduk dengan hormat adakala dengan bersila atau tawaruk merupakan salah satu adab terhadap kitab yang sedang kita baca. Apalagi saat berada dalam majlis pengajian, maka sangat dituntut untuk duduk dengan sopan. Jangan mendirikan kaki saat duduk. Duduk dengan tidak sopan dalam majlis ilmu berarti tidak menghormati kitab dan juga tidak hormat pada guru serta majlis ilmu tersebut. Jangan juga menjulurkan kaki ke arah kitab.
3. Meletakkan kitab di tempat yang agak tinggi.
Kitab sebagai sumber ilmu tidak boleh diletakkan ditempat yang rendah seperti di lantai, baik ketika sedang belajar atau bukan. Maka merupakan satu hal yang sangat bagus bila para santri membudayakan memakai meja kecil ketika belajar, baik ketika belajar diruang kelas maupun ketika mutha’ah sendiri. Kalaupun tidak ada meja ketika menghadiri pengajian, maka sepatutnya kitab diletakkan di pangkuan, jangan dilantai. 
4. Menjaga lembaran kitab jangan berserakan
Lembaran kitab yang sudah lusuh atau tidak digunakan lagi, jangan dibiarkan terletak dan berserakan dilantai atau tanah. Sering kita lihat kitab-kitab yang sudah tidak ada pemiliknya lagi berserakan di lantai bahkan di tanah. Ada baiknya bila masih bisa dipergunakan maka diletakkan ditempat tertentu yang lebih mulia. Bila sudah tidak mungkin dipergunakan maka sebaiknya dibakar saja untuk menjaga kehormatannya. 
5. Menjaga kertas yang bertuliskan nash kitab
Saat ini dengan kemudahan penulisan dengan komputer dan printernya maka sangat mudah nash-nash kitab kita print dalam lembaran kertas. Namun hal yang sangat disayangkan adalah lembaran-lembaran yang bertuliskan nash-nash kitab para ulama tersebut kadang dibiarkan berjatuhan atau kadang dibuang kedalam tong sampah bersama dengan kotoran lain. Hal ini juga merupakan sikap kurangnya menghormati ilmu. Termasuk juga yang harus kita jaga adalah lembaran ujian yang didalamnya tertulis nash-nash kitab para ulama.
6. Meletakkan kitab menurut kemulian ilmunya.
Bila kita meletakkan kitab diatas kitab lain, maka sangat dianjurkan untuk memperhatikan sususan tingkatan kitab yang kita letakkan tersebut. Kitab yang berisi ilmu yang paling mulia harus diletakkan paling atas, kemudian disusul dengan kitab ilmu yang mulia di bawahnya dan seterusnya. Urutan kitab menurut kemulian ilmunya adalah; mashhaf al-quran, kitab matan hadis dengan lebih mendahulukan kitab shahih Bukhari kemudian shahih Muslim, kitab tafsir al-Quran, kitab tafsir hadits, kitab ushuluddin (tauhid), kitab ushul fiqh, kitab nahu, kitab sharaf, ilmu balaghah (ma’ani, bayan dan badi’), kitab syair-syair Arab, kitab ilmu Arudh.
Bila kitab dalam ilmu yang sama, maka diletakkan menurut kemulian pengarangnya, bila mushannifnya sama-sama kemuliannya maka didahulukan kitab yang lebih dahulu dan kitab yang lebih banyak digunakan oleh para ulama shaleh.
7. Jangan melipat pinggir kitab
Terkadang untuk memberi tanda batasan pelajaran kita melipat pinggir lembaran kitab. Hal ini merupakan hal yang kurang baik, karena akan mempercepat lusuhnya lembaran kitab. Maka yang lebih baik adalah memberi tanda batasan belajar dengan lembaran kertas lain. 
8. Tidak meletakkan benda lain diatas kitab.
Kadangkala kita lihat sebagian kita meletakkan barang-barang lain diatas kitab, padahal meletakkan kitab lain yang kemuliaannya dibawahnya saja dilarang, apalagi bila meletakkan benda yang tidak punya kemuliaan sama sekali, seperti misalnya handpone, kunci kereta, rokok, korek dll
9. Memulai membaca kitab dengan membaca doa
Akan terlebih menambah barakah bila membaca kitab dimulai dengan membaca ta’awuzd, basmalah, hamdalah, shalawat kepada Rasulullah dan berdoa gurunya, mushannif kitab, orang tuanya, diri sendiri, untuk para hadirin (bila membaca kitab untuk orang lain) dan untuk seluruh kaum muslimin. Hal demikian dilakukan setiap kali kita memaca kitab, baik ketika ruang kelas, dihadapan guru, ataupun ketika muthala’ah sendiri dikamar. 
10. Menyudahi membaca kitab dengan doa
Satu hal yang sangat bagu juga, bila setelah selesai membaca kitab, kita sudahi dengan membaca doa, semoga ilmu yang baru saja kita dapatkan, menjadi ilmu yang barakah bagi kita, menetap dalam hati kita, mampu kita ingat saat kita butuhkan.
Semoga dengan menjaga adab terhadap kitab yang kita pelajari, akan menambah barakah bagi ilmu kita, terlebih lagi untuk zaman ini, minat belajar kita rendah sehingga ilmu hanya sedikit yang bisa kita dapatkan. Semoga sedikit ilmu yang kita dapatkan tersebut penuh dengan barakah sehingga betul-betul bermanfaat untuk akhirat kita. Kita juga berharap dengan adanya perhormatan kita terhadap kitab, Allah berkenan membukankan pintu ilmu bagi kita, sehingga memudahkan kita dalam belajar, cepat memahami ilmu dan setiap ilmu yang kita dapati menetap dalam hati kita. Tulisan ini kami tulis dengan mengutip dari kitab-kitab para ulama, sebagai renungan bagi penulis sendiri terhadap rendahnya penghormatan kita terhadap ilmu saat ini, semoga kita mampu menghayati hal ini dan diberi kemampuan oleh Allah untuk memperbaiki kekurangan kita sendiri. Amin Ya Rabbal Allamin.

Rabu, 22 Agustus 2018

Macam-macam Ruh dan Kondisinya



Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati hal ini sangat jelas firman Allah SWT :


كُلّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ


“Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian”. (Surat Ali `Imran: 185).

Kata  "mati" atau "kematian" tidak akan dikatakan kecuali apabila ruh telah berpisah dari jasad, namun kali ini kami akan berbagi  sedikit tentang kondisi pencabutan ruh. Di dalam Hasyiah Ianatuttalibin syeh sayyid Abu Bakar syata menyebutkan pada permasalahan shalat jenazah, segala arwah itu dapat dibagi kepada lima macam:

1,Ruh para ambiya
2.Ruh para syhada (orang-orang syahid)
3.Ruh orang-orang ta'at
4.Ruh orang-orang bermaksiat dari orang beriman
5.Ruh segala orang kafir.

Setiap kelima pembagian tersebut memiliki berbagai macam keberagamannya saat dicabut oleh Allah SWT melalui malaikat izrailnya.
Adapun ruh para ambiya keluar dari jasadnya dengan bentuk seperti  jasad disertai dengan bau miski dan kafur ( wangian yang sangat harum) ruh tersebut menuju surganya Allah memakan makanan lezat dan kenikmatan lainnya, di waktu malamnya ruh para ambiya ini menetap pada tempat yang dipenuhi lampu-lampu hias yang indah dan anggun.
 Adapun ruh para syuhada apabila keluar dari jasadnya maka Allah jadikan ruh mereka menetap diatas satu burung yang hijau yang membawa ruh-ruh tersebut mengelilingi sungai-sungai di surga Allah SWT, memakan dan minum dengan penuh kenikmatan, diwaktu malam meraka menetap disuatu tempat yang indah bola lampunya bergantungan terbuat dari emas.
Selanjutnya  ruh orang-orang ta'at dari kalangan mu'min akan Allah pertempatkan dalam kebun surganya para ruh tersebut tidak makan dan tidak bernikmat-nikmat melainkan hanya melihatnya saja, namun seperti kita ketahui melihat nikmatnya saja itu sudah merupakan nikmat terbesar bagi kita, semoga Allah memberi kebaikan kepada semua kita saat pencabutan ruh nantinya.
Keempat adalah ruh orang yang maksiat kepada Allah dari kalangan orang mukmin ruh meraka akan Allah tempatkan diantara langit dan bumi layaknya seperti kapas yang  berterbangan. Semoga Allah menjauhkan kita semua dari bahagian ini, Amin.
kelima, ruh orang-orang kafir akan ditempatkan diatas burung yang hitam dan berada dalam satu penjara di bawah bumi yang ketujuh badannya melengket dengan bumi dan mereka akan merasakan kesakitan yang luar biasa, sehingga hal ini bisa dirasakan oleh jasadnya dialam kubur sana.

Referensi : Hasyiah I'anatuttalibin Juz 2 Hal 107 Cet, Haramain

(واعلم) أن الأرواح على خمسة أقسام: أرواح الأنبياء، وأرواح الشهداء، وأرواح المطيعين، وأرواح العصاة من المؤمنين، وأرواح الكفار.

فأما أرواح الأنبياء: فتخرج عن أجسادها، وتصير على صورتها مثل المسك والكافور، وتكون في الجنة، تأكل، وتتنعم، وتأوي بالليل إلى قناديل معلقة تحت العرش.

وأرواح الشهداء: إذا خرجت من أجسادها فإن الله يجعلها في أجواف طيور خضر تدور بها في أنهار الجنة، وتأكل من ثمارها، وتشرب من مائها، وتأوي إلى قناديل من ذهب معلقة في ظل العرش، هكذا قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم -.

وأما أرواح المطيعين من المؤمنين: فهي في رياض الجنة، لا تأكل ولا تتنعم، لكن تنظر في الجنة فقط.

وأما أرواح العصاة من المؤمنين: فبين السماء والأرض في الهواء.

وأما أرواح الكفار: فهي في أجواف طيور سود في سجين، وسجين تحت الأرض السابعة، وهي متصلة بأجسادها، فتعذب أرواحها، فيتألم بذلك الجسد.

كالشمس: في السماء الرابعة، ونورها في الأرض، كما أن أرواح المؤمنين في عليين، متنعمة ونورها متصل بالجثة.

Selasa, 21 Agustus 2018

6 Karakter Perempuan yang Tidak Baik Dijadikan Sebagai Istri



Menikah merupakan jalan keluar dua insan untuk merealisasikan rasa cinta yang bergejolakl dalam hatinya, mencari kebahagiaan dan untuk melestarikan keturunan. Setiap orang pastinya menginginkan pasangan hidup yang baik dan ideal, prilakunya, agamis, dan menyenangkan  pastinya.

Imam Al-Ghazali  dalam karangan fenomenalnya kitab Ihya Ulumuddin memberikan beberapa tips agar kita tidak salah dalam memilih perempuan, karena pilihan yang baik tentu akan membawa hasil yang baik pula. Berikut ini beberapa kriteria sosok perempuan yang tidak pantas dijadikan sebagai istri.

1. Al-Ananah

أما الأنانة فهي التي تكثر الأنين والتشكي وتعصب رأسها كل ساعة

Al-Ananah (suka mengeluh) adalah perempuan yang banyak mengeluh dan mengadu, selalu membalut kepalanya sebagai tanda sakit. Ini dilakukan untuk memberitahu kepada orang-orang bahwa dia merasa terbebani dengan tugasan hariannya  karena malas atau memang sifat bawaan yang dimilikinya. Perempuan seperti ini bawaannya  suka mengeluh walaupun disebabkan perkara kecil. Perempuan tersebut berpura-pura sakit supaya suaminya tidak membebaninya dengan tugas harian. Menikahi perempuan yang sengaja buat-buat sakit tidak ada faedah sama sekali.

2. Al-Mananah

والمنانة التي تمن على زوجها فتقول فعلت لأجلك كذا وكذا

Al-Mananah yaitu perempuan yang memberikan sesuatu kepada suaminya  tetapi suka mengungkit-ungkit pemberian tersebut. Seringkali saat berbicara dia selalu mengungkitnya, lebih-lebih lagi saat terjadi suatu masalah, dia selalu merasa bahwa pemberian suaminya tidak sebanding dengan apa yang telah diberikannya.

3. Al-Hananah

والحنانة التي تحن إلى زوج آخر أو ولدها من زوج آخر وهذا أيضا مما يجب اجتنابه

Al-Hananah adalah perempuan yang suka merindui, mengungkit-ungkit dan mengingati bekas suami atau anaknya dari suaminya dulu. (Perempuan seperti ini tidak akan menghargai suaminya walaupun suaminya berusaha memuaskan segala kemauannya)

4. Al-Haddaqah

والحداقة التي ترمي إلى كل شيء بحدقتها فتشتهيه وتكلف الزوج شراءه

Al-Haddaqah yaitu perempuan yang menginginkan apa saja yang dilihatnya saat berbelanja (boros) sehingga membebankan dan memberatkan suaminya dalam ekonomi.

5. Al-Baraqah

والبراقة تحتمل معنيين أحدهما أن تكون طول النهار في تصقيل وجهها وتزيينه ليكون لوجهها بريق محصل بالصنع والثاني أن تغضب على الطعام فلا تأكل إلا وحدها

Al-Baraqah mempunyai dua makna. Pertama, suka berhias sepanjang waktu (melampau atau melebihi  batas wajar) supaya wajahnya nampak lebih anggun dan mempersona. Kedua, perempuan yang tidak mau makan dalam keramaian, dan dia tidak akan makan kecuali jika sendirian, dia juga akan menyimpan bagian tertentu untuk dirinya sendiri.

6. Al-Syaddaqah

والشداقة المتشدقة الكثيرة الكلام ومنه قَوْلَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ تعالى يبغض الثرثارين المتشدقين

Al-Syaddaqah adalah perempuan yang banyak berbicara, melebihi kadar keperluan lebih-lebih berbicara hal yang tidak penting. Suka mengupat siapa saja bahkan suaminya sendiri. Sebagaimana sabda Nabi saw, bahawa Allah murka kepada wanita yang banyak bicara hal yang tidak penting. Wallahua'lam.

Referensi: Ihya Ulumiddin juz 2 hal 61 cet I maktabah mesir tahun 2013

Biografi Syeikh Abdul Karim al-Jily



Dalam beberapa postingan kami ada beberapa postingan yang menyebut tentang Kitab Insan Kamil fi ma’rifatil al-Awakhir wal awail. sebuah kitab sufi karangan Syeikh Abdul Karim bin Ibrahim al-Jily (wafat 805 H). Maka ada baiknya juga kami membuat postingan tentang profil beliau secara singkat. 

Al-Jliy ini adalah nisbah kepada Jilam, satu kota di Iran, ada yang menyebutnya dengan al-Jily, ada juga dengan al-Jilani dan ada juga dengan al-Kailany. Dalam sejarah Islam, banyak memang tokoh yang dinisbahkan kepada Kota Jilan, dalam penisbatan tersebut ada yang menyebutnya dengan al-Jilani dan ada juga dengan al-Jily. Namun sebagian ahli sejarah membedakan kedua nisbah tersebut. Jika dinisbahkan kepada Kota Jilan maka disebut dengan Jilani namun jika dinisbahkan kepada salah seorang dari kota Jilan maka disebut dengan al-Jily. Haji Khalifah dalam kitabnya Kasyf Dhunun menyebutkan bahwa Syeikh Abdul Karim al-Jily merupakan keturunan Syeikh Abdul Qadir al-Jailani (wafat 561 H). Beliau dilahirkan tahun awal muharram tahun 767 H (1365 M) di kota Bagdad. Kemudian beliau keluar dari Bagdad dalam rangka mencari ilmu. Pengembaraan beliau ini sampai ke Zabid, Yaman dan berguru kepada salah seorang ulama Sufi terkemuka di sana, Syeikh Ismail Jabarti. Tahun 799 H beliau ke Makkah dan bertemu dengan para ulama sufi di sana. Tahun 809 H beliau mengembara ke Kota Kairo dan berkumpul dengan ulama al-Azhar. Pada tahun yang sama beliau juga menuju ke kota Gazza, Palestina. Kemudian karena kerinduan kepada sanga guru di Zabid, beliau kembali ke Zabid Yaman, menjenguk guru beliau Syeikh Islamil Jabarti pada tahun 805 H,setahun sebelum wafat guru beliau tersebut. Setelah wafat gurunya, beliau masih menetap di Zabid hingga akhirnya menyelesaikan salah satu kitab yang bernama Insan Kamil. Setelah itu beliau menziarahi beberapa kota lain di negri Yaman. Beliau juga sempat bertemu dengan mengambil faedah ilmu dari pendiri Thariqat Naqsyabandiyah, Syeikh Khawajah Bahauddin Muhammad bin Syah Naqsyabandi (wafat 827 H).

Para ahli sejarah berbeda pendapat tentang wafatnya beliau. Menurut Haji Khalifah beliau wafat tahun 805 H. Menurut Syeikh Abdaruddin al-Ahdal beliau wafat tahun 826 H. Sedangkan menurut oreantalis Inggris, Reynold A. Nicholson, beliau wafat sekitar tahun 820 H. Sedangkan menurut Louis Massignon, beliau wafat tahun 832 H/1428 M di Zabid dan dimakankan di sana. 
Kitab Karya Syeikh Abdul Karim al-Jily

Syeikh Abdul Karim al-Jili memiliki beberapa karangan, antara lain; 
1. Munadharah Ilahiyah
2. al-Kahf war Raqim
3. Jannatul Ma'arif wa Ghayah al-Murid wal 'Arif
4. Qamus al-Aqdam wan Namus al-A'dham
5. Qasidah Ainiyah
6. Quthb al-Ajaib wa Falak al-Gharaib
7. Mataib al-Wujud
8. Kamalat Ilahiyah fi Shifat al-Muhammadiyah
9. KItab Insan Kami
10. Dll

Bagaimanakah yang dikatakan Haji yang Mabrur,? Berikut ciri-cirinya

Deskripsi Masalah



Haji salah rukun islam yang pelaksanaannya membutuhkan energi, harta yang banyak dan kesabaran yang tinggi karena dilakukan di sebuah lokasi yang telah ditentukan yaitu Mekkah Al-Mukarramah dengan suhu puluhan derajat celcius. Walaupun tantangan dan modal besar tidak mengurangi minat kaum muslimin di seluruh dunia untuk melengkapi rukun Islam kelima itu. Bahkan yang sudah berhaji satu kali ingin menambah kali yang kedua dan yang sudah dua kali ingin ketiga kali begitu seterusnya. Akan tetapi tidak semua haji itu mabrur berdasarkan hadits nabi SAW yang diriwayat oleh Khatib Al-Baghdadi dari Anas berkata:

يأتي على الناس زمان يحج أغنياءهم للنزهة وأوساطهم للتجارة وقراؤهم للرياء والسمعة وفقراؤهم للمسئلة.ولذا كان عمر يقول الوفد كثير والحج قليل

"Akan datang satu masa dimana orang-orang kaya berhaji tujuan mereka piknik dan orang sederhana untuk berniaga, para qari buat riya dan sum’ah (memperdengar), orang-orang fakir karena ada masalah. Oleh karena itu Sayyidina Umar berkata: kloter itu banyak dan haji itu sedikit.

Pertanyaan

Bagaimakah Ciri-ciri Haji Mabrur ?

Jawaban

Ciri-ciri Haji Mabrur:

  1. Pulang dari haji ia bertingkah laku dengan akhlak terpuji dan tidak terjerumus ke dalam dosa.
  2. Tidak menilai dirinya melebihi atas orang lain.
  3. Tidak berlomba-lomba pada perkara dunia hingga wafat.

Ciri-ciri haji tidak mabrur:

  1. Kembali kepada perilaku seperti sebelum haji .
  2. Melihat hajinya lebih diterima dari haji orang lain karena dia sempurna menunaikan manasik dan keluarnya dalam manasik dari khilaf ulama.
Referensi

Bughyatul Mustarsyidin, Cet. Darul Fikri, Hal 73

Syarkawi ‘ala Tahrir, Cet. Haramain, Hal 459

فائدة : قال الخوّاص رحمه الله : من علامات قبول حج العبد وأنه خلع عليه خلعة الرضا عنه أنه يرجع من الحج وهو متخلق بالأخلاق المحمدية ، لا يكاد يقع في ذنب ، ولا يرى نفسه على أحد من خلق الله ، ولا يزاحم على شيء من أمور الدنيا حتى يموت ، وعلامة عدم قبول حجه أن يرجع على ما كان عليه قبل الحج ، كما أن من علامات مقته أن يرجع وهو يرى أن مثل حجه أولى بالقبول من حج غيره ، لما وقع فيه من الكمال في تأديه المناسك وخروجه فيها من خلاف العلماء ، لكن لا يدرك هذا المقت إلا أهل الكشف اهـ من خاتمة الميزان للشعراني

FAdhilah Puasa Hari Arafah



Hari arafah adalah hari dimana para jama’ah haji berkumpul di padang arafah untuk melaksanakan ibadah wukuf. Bagi ummat islam yang tidak melaksanakan ibadah haji sangat di anjurkan untuk melaksanakan ibadah puasa pada hari tersebut.
Hal ini dikarenakan besarnya fadhilah atau keutamaan yang diberikan Allah kepada orang yang berpuasa pada hari arafah. Bahkan fadhilah yang terkandung dalam puasa arafah lebih besar bila dibandingkan dengan puasa asyura.
Sebagaimana dijelaskan oleh imam al-nawawy dalam kitab beliau majmu’ syarah al-muhazzab, juz. 6, hal. 379, cet. Darul fikri;
ويستحب لغير الحاج ان يصوم يوم عرفة لما روى أبو قتادة قال " قال رسول الله صلى الله عليه وسلم صوم عاشوراء كفارة سنة وصوم يوم عرفة كفارة سنتين سنة قبلها ماضية وسنة بعدها مستقبلة "

Artinya: dan disunnahkan bagi orang yang tidak melaksanakan ibadah haji untuk berpuasa pada hari arafah. Karena landasan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Qatadah, beliau berkata: Rasulullah SAW bersabda:”puasa asyura menjadi penebus dosa setahun, dan puasa hari arafah menjadi penebus dosa dua tahun, tahun yang telah lewat dan tahun yang akan datang”.

Adapun bagi orang yang melakukan ibadah haji, maka tidak disunnahkan, salah satu alasannya adalah karena pada hari tersebut disunnahkan untuk memperbanyak berdo’a, sementara berpuasa akan menyebabkan kita lemah. Sebagaimana tercantum dalam kitab majmu’ syarah al-muhazzab, juz. 6, hal. 379, cet. Darul fikri;
ولا يستحب ذلك للحاج لما روت ام الفضل بنت الحارث " ان اناسا اختلفوا عندها في يوم عرفة في رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال بعضهم هو صائم وقال بعضهم ليس بصائم فارسلت إليه بقدح من لبن وهو واقف علي بعيره بعرفة فشرب " ولان الدعاء في هذا اليوم يعظم ثوابه والصوم يضعفه فكان الفطر افضل

Artinya: dan tidak disunnahkan demikian (puasa hari arafah) bagi orang yang melaksanakan ibadah haji. Karena hadits yang diriwayatkan dari Ummu al-Fadhl binti Harits:”sesungguhnya manusia berbeda pendapat pada hari arafah tentang Rasulullah. Sebahagian mereka berkata bahwa Rasul berpuasa, dan sebahagian yang lain mengatakan Rasul tidak berpuasa. Maka aku mengirimkan semangkuk susu kepada Rasulullah, saat itu beliau berada di atas unta beliau di padang arafah, kemudian Rasul meminumnya”. Dan karena bahwa sesungguhnya berdo’a pada hari ini (arafah) dapat melipat gandakan fahala, sementara berpuasa menyebabkannya lemah (sehingga tidak sanggup berdo’a). Maka tidak bepuasa (hukumnya) lebih afdhal.

Dalil lain yang menjelaskan kelebihan berpuasa pada hari arafah adalah hadits riwayat imam Ahmad;
صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ يُكَفِّرُ سَنَتَيْنِ مَاضِيَةً وَمُسْتَقْبَلَةً وَصَوْمُ عَاشُوْرَاَء يُكَفِّرُ سَنَةً مَاضِيَةً

artinya: Puasa hari Arafah menebus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang dan puasa Asyura (10 Muharram) menebus dosa setahun yang telah lewat. (HR Ahmad, Muslim dan Abu Daud dari Abi Qotadah)

Selain itu, memang pada hari-hari pada sepersepuluh bulan Dzulhijjah adalah hari-hari yang istimewa untuk menjalankan ibadah seperti puasa dan lain sebagainya. Abdullah Ibnu Abbas RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
عبد الله بن عباس - رضي الله عنهما - قال : قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم- : «ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه الأيام العشر، فقالوا : يا رسول الله ، ولا الجهاد ؟ قال : ولا الجهاد ، إلا رجل خرج يخاطر بنفسه وماله ، فلم يرجع بشيء»

Artinya: “Diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Abbas RA, beliau berkata:” Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada perbuatan yang lebih disukai oleh Allah SWT, dari pada perbuatan baik yang dilakukan pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: Ya Rasulallah, walaupun jihad di jalan Allah? Rasulullah bersabda: Walau jihad pada jalan Allah kecuali seorang lelaki yang keluar mempertaruhkan dirinya dan harta bendanya, kemudian tidak kembali selama-lamanya atau menjadi syahid”. (HR Bukhari)

Risalah Qurban Idul Adha



Qurban dalam bahasa arab disebut Udhiyyah, yaitu sebutan kepada hewan yang akan dikurbankan. Kurban disyariatkan pada tahun ke dua hijriah sama seperti Idul Adha, zakat harta dan Fitrah. Penamaan Udhiyyah diambil dari awal waktu pelaksanaannya yaitu saat waktu Dhuha. Kurban atau Udhiyyah adalah nama hewan yang disembelih pada hari raya atau hari Tasyrik (hari ke 11, 12, dan 13 Zulhijjah dan diharamkan puasa) karena untuk mendekatkan diri kepada Allah swt (Taqarrub), jika tidak dimaksudkan untuk Taqarrub kepada Allah, tetapi hanya untuk di makan misalnya, maka tidak digolongkan sebagai kurban walau dilakukan pada hari raya Idul Adha dan hari Tasyrik.

Hukum berkurban adalah sunnah Muakkad dan Kifayah bagi satu rumah, maksudnya saat telah dikerjakan oleh seseorang dari satu keluarga yang nafakahnya dibawah tanggungan orang yang sama, baik dikerjakan oleh orang yang memberi nafakah atau yang diberi nafakah, maka gugurlah tuntutan pengerjaannya kepada anggota keluarga lain. Gugur tuntutan di sini adalah hilang hukum makruh bagi mereka semua, karena makruh hukumnya jika tidak ada satu orangpun yang mengerjakannya. Sedangkan pahalanya khusus kepada orang yang berkurban, Ketentuan kurban sunat kifayah jika dalam satu keluarga tersebut ada beberapa orang, adapun jika dalam rumah tersebut hanya ada satu orang maka hukumnya sunat Ain kepada orang tersebut.

Hukum sunat berkurban berlaku bagi umat nabi saw, kepada beliau sendiri hukumnya wajib dan itupun sekali. Maksudnya, kewajiban berkurban kepada nabi saw hanya sekali seumur hidup, selebihnya adalah kurban sunat. Maka, hadis yang menyatakan nabi memakan hewan kurbannya dihamalkan kepada kurban sunat bukan wajib.

Kurban disunatkan kepada setiap orang islam yang telah taklif, merdeka dan Rasyid (terpelihara agama dan harta) dan tentunya mampu, juga disunatkan kepada hamba sahaya yang berstatus Mub’ad (hamba sahaya yang telah merdeka setengah) jika memang memiliki harta dengan statusnya yang setengah merdekanya.

Hukum sunat Muakad berlaku bagi semua orang, terutama bagi yang mampu untuk berkurban. Jika mereka mampu dan tidak berkurban, hukumnya makruh. adapun orang yang tidak mampu tetap disuntkan berkurban, hanya saja saat mereka tidak mengerjakannya, maka tidak dihukumi kepada makruh. Orang mampu adalah orang yang punya harta melebihi keperluan untuk dirinya sendiri dan orang-orang yang wajib dinafkahinya mulai hari idul adha hingga berakhirnya hari Tasyrik. Kebutuhan yang dimaksudkan di sini mencakup kepada nafakah, pakaian dan keperluan-keperluan pokok lainnya. Sama seperti kewajiban mengeluarkan zakat fitrah, yaitu jika seseorang punya harta melebihi kebutuhannya sendiri dan orang-orang yang wajib dinafkahinya, mulai malam hari raya hingga esok harinya. Kewajiban zakat fitrah hanya malam dan hari raya, maka harta lebih yang dijadikan pijakan adalah melebihi malam dan hari raya saja. Begitu juga kurban, kesunahannya mulai hari raya sampai hari Tasyrik ke tiga, maka harta lebih yang dijadikan pijakan adalah harta yang lebih dari empat hari tersebut.
Ibnu hajar Al-Haitami berpendapat jika batasan kesanggupan seseorang berkurban adalah harta yang melebihi malam dan hari raya saja bukan sampai tiga hari Tasyrik, menurut beliau karena kurban merupakan bagian dari sedekah Tatawu’(sedekah sunat) sehingga sama ketentuannya seperti sedekah Tatawu’ pada umumnya yaitu disunatkan bersedekah jika mempunyai harta lebih dari keperluan sehari dan semalam. Kurban adalah sebaik-baik harta Tatawu’.
Kesunahan berkurban berlaku bagi semua orang, baik orang pedalaman, perkotaan, orang yang mukim, musafir juga berlaku kepada orang yang berhaji, karena nabi saw pernah berkurban untuk istri-istrinya saat tengah berhaji, sebagaimana dalam satu hadis yang telah merawi oleh Imam Bukhari dan Muslim.

Binatang yang Dijadikan Kurban

Binatang yang sah dijadikan sebagai kurban adalah dari golongan unta, sapi dan kambing atau kebiri. Ditambah lagi, unta tersebut sudah harus yang berumur genap lima tahun dan masuk tahun ke enam, sapi dan kambing harus berumur genap dua tahun dan masuk masuk tahun ke tiga, sedangkan biri-biri dibolehkan yang baru berumur genap satu tahun dan masuk tahun ke dua. Kesemuanya, tidak ada dibedakan antara yang berjenis kelamin jantan atau betina, dan baik yang telah dikebiri atau tidak. Dan juga tidak boleh ada cacat yang tidak ditoleransi syara’, seperti buta yang nyata. Satu unta atau sapi cukup untuk tujuh orang, sedangkan satu kambing atau biri-biri hanya mencukupi satu orang saja. Hewan yang lahir dari perkawinan sapi dan unta hanya memada untuk satu orang saja, sama seperti hewan yang lahir dari kambing dan biri-biri. Tujuh orang tersebut apakah dalam satu rumah atau tidak. Setiap dari mereka harus menyedekahkan daging kurban tersebut kepada fakir miskin.

Sebagaimana yang telah disebutkan, saat dikerjkan oleh osalah seorang dari anggota keluarga, maka gugurlah hukum makruh pada anggota keluarga lain, maksud anggota keluarga di sini adalah yang wajib menafkahi atau dinafkahi. Adapun pahala maka terkhusus kepada orang yang berkurban. Di antara beberapa jenis hewan yang dijadikan kurban, yang paling baik (banyak pahala) adalah unta, berturut-turut kemudian sapi, biri-biri dan kambing. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, memadalah untuk berkurban dengan menumpahkan darah hewan pada hari raya Idul Adha, sehingga beliau membolehkan untuk berkurban dengan seekor ayam atau angsa. Imam Syarkawi menegaskan tidak boleh bagi kita untuk Taklid atau berpegang kepada pendapat beliau, karena tidak ada yang membukukan mazhab tersebut, karena bisa jadi ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi sebelum berkurban dengan ayam atau angsa. Namun demikian, Syaikhuna dalam kitab Hasyiyah bajuri membolehkan fakir miskin untuk beramal dan Taklid kepada mazhab Ibnu Abbas, sama halnya dengan Aqiqah, beliau membolehkan fakir miskin untuk ber-Aqiqah dengan ayam ataupun angsa karena keterbatasan ekonomi yang dimiliki oleh fakir miskin.

Hal-hal yang sunat dilakukan saat Berkurban

Sebagian dari hal-hal yang paling disunatkan kepada orang yang berkurban adalah supaya hewan tersebut disembelih sendiri jika ia mampu, atau diwakilkan kepada orang lain walaupun orang yang berkurban tersebut belum baligh segaimana yang dilakukan oleh rasulullah saw. Sedangkan bagi perempuan dan Khunsa, maka disunatkan untuk mewakilkan sembelihan kepada orang lain. Jika ia mewakilkan kepada orang lain, maka disunatkan baginya untuk hadir saat peristiwa penyembelihan itu terjadi. Dengan demikian, jika orang yang berkurban buta, maka tetap disunatkan untuk hadir walaupun tidak bisa melihat. Mewakilkan sembelihan kepada kafir, anak kecil dan orang buta sah hukumnya tetapi makruh.

Hal sunat lainnya adalah supaya orang yang berkurban tidak menghilangkan bulu, kuku dan lainnya saat hendak berkurban terhitung sejak masuk bulan Zulhijjah hingga saat pelaksaan kurban walaupun hari itu adalah hari jumat. Hikmahnya, supaya pengampunan dosa dari Allah swt dan merdeka dari api neraka juga mencakup kepada kuku dan rambut yang tidak dipotong tadi.

Tujuh ekor kambing untuk tujuh orang adalah lebih baik daripada se ekor unta atau sapi yang juga untuk tujuh orang, karena lebih banyak tumpahan darah dari banyak nyawa. Dan satu kambing yang disembelih sendiri lebih baik dari pada bergabung dengan orang lain pada se ekor unta. Satu ekor unta untuk enam orang ke bawah lebih baik dari satu ekor unta untuk tujuh orang. Satu kambing yang harganya lebih mahal dari dua kambing adalah lebih utama dan baik. Daging hewan kurban lebih baik dari lemak, hewan yang lebih tua lebih baik dari lainnya. Dalam berkurban pemilihan warna hewan kurban juga dipertimbangkan, warna binatang terbaik secara berturut-turut yang dijadikan kurban adalah putih, kuning, kemudian yang berwarna seperti debu, kemudian yang berwarna belang, merah dan terakhir hitam. Ada beberapa alasan kenapa warna hewan juga menjadi pertimbangan, yang paling kuat adalah karena Ta’abbud, ada juga yang mengatakan pemilihan warna penting karena bagus pandangan orang yang melihat dan alasan terakhir adalah karena dagingya lebih bagus. Binatang yang sedang mengandung juga tidak boleh dijadikan sebagai kurban, karena maksud kurban adalah dagingnya sedangkan hewan yang sedang mengandung dagingya kurang, berbeda dengan mengeluarkan zakat, karena maksud dari zakat adalah keturunan. Namun, Ibnu Ruf’ah membolehkan berkurban dengan hewan yang hamil karena kekurangan dagingnya akan ditutupi oleh janin.

Hal lainnya yang disunatkan dalam berkurban adalah membaca Basmallah saat hendak menyembelih, membaca shalawat kepada nabi saw, menghadap kiblat, takbir tiga kali sebelum dan sesudah penyembelihan, dan terakhir berdoa supaya diterima, misalnya berdoa: “ Ya Allah ya tuhanku, ini kurban dari engkau dan kepada engkau pula, maka terima olehmu”.

Memakan daging Kurban

Bagi orang yang berkurban (Tabarru’, bukan nazar) dibolehkan untuk memakan daging kurbannya sendiri, dan boleh memberi makan orang kaya tapi tidak memilikkannya. Berbeda dengan orang miskin maka boleh untuk memiliki daging kurban tersebut, sehingga boleh dibawa kemana saja termasuk dijual. Daging kurban yang boleh dimakan oleh pemiliknya adalah sepertiga dari keseluhannya, sedangkan dua pertiga lainnya disedakahkan bagi orang lain, baik kepada orang miskin atau orang kaya. Ada yang berpendapat, orang berkurban boleh untuk memakan setengah dari daging kurban tersebut. Satu pendapat lainnya adalah, orang yang berkurban mengambil sepertiga, disedekahkan sepertiga kepada fakir miskin dan dihadiahkan sepertiga lainnya kepada orang kaya.
Dari ke tiga pendapat tersebut, mereka sepakat untuk membagikan daging kurban. Lalu bagaimanakah sebenarnya status daging kurban tersebut? Apakah wajib disedekahkan kepada fakir miskin sebagaimana pendapat di atas. Pendapat kuat untuk sah sebagai kurban, maka wajib disedekahkan minimalnya kadar ukuran yang dinamakan daging pada ‘uruf, tidak boleh kulit, telinga atau lainnya. Dan boleh untuk disedekahkan kepada satu orang miskin saja dan kondisi daging kurban tersebut harus mentah tidak boleh dimasak. Memasak daging kurban kemudian baru di sedekahkan memang dibolehkan, tapi tidak boleh semuanya harus tetap ada daging kurban yang di sedekahkan dalam kondisi mentah. Pendapat ke dua memebolehkan untuk memakan semua daging kurban tanpa bersedekah sedikitpun, orang tersebut tetap mendapat pahala karena telah menyembelih dan mengalirkan darah kurban di hari Idul Adha dengan niat Taqarrub kepada Allah swt.

Yang paling Baik (Afdhal) adalah menyedekahkan semua daging kurban tersebut, kecuali satu suapan yang diambil berkah dengan memakannya, dan demikian merupakan sunnah nabi saw. Bagian yang paling baik untuk dimakan adalah hatinya, karena mengikut nabi saw, dalam hadis disebutkan jika nabi memakan hati hewan yang dikurbankannya. Hikmahknya adalah untuk Tafaul dengan hati hewan kurban tersebut, berdoa agar Allah memasukkan orang yang berkurban ke dalam surga dan mendapat penghormatan dari Allah swt, karena warid dalam satu hadis jika penghormatan pertama kali Allah swt kepada ahli surga adalah dengan hidangan hati ikan paus yang menanggung bumi (seperti yang diceritakan dalam satu hadis bahwa bumi berada di atas punggung ikan paus). Adapun kulit dari hewan kurban tersebut maka juga disedekahkan atau diambil manfaat untuk dirinya sendiri atau dipinjamkan kepada orang lain, yang tidak boleh adalah menjual atau menyewakannya.

Permasalahan Kurban Nazar

Kurban yang dinazarkan tidak boleh di makan oleh orang yang bernazar, tetapi harus di sedekahkan semua termasuk kulit dan tulangnya, berbeda dengan kurban Taqarrub yang memebolehkan si pemilik untuk memanfaatkan sendiri tulang dan kulit tersebut. Kurban yang di nazar tidak boleh ditunda-tunda penyembelihannya dengan tanpa ozor, sehingga jika dilakukan dan ternyata hilang maka wajib menggantinya. Jika ada ozor maka boleh ditunda, seperti tidak adanya fakir-miskin pada hari itu.
Kurban wajib seperti misalnya seseorang berkata ”lazim atasku berkurban dengan satu kambing”. Jika seseorang berkata “ini adalah kurbanku” , maka binatang tersebut telah menjadi kurban wajib, walaupun ia tidak meniatkan kurban. Dan jika ia meniatkan saja tanpa mengucapkan, maka juga tidak menjadi kurban wajib.
Perkataan “ini adalah kurban ku” menjadi wajib/nazar jika tidak diniatkan mengabarkan kepada orang lain, adapun jika diniatkan untuk memberitahu orang lain, maka tidak menjadi wajib. Sedangakan menurut Ibnu Hajar dan Imam Ramli tidak seperti demikian, maksudnya perkataan tersebut tetap menjadi kurban wajib sekalipun dia meniatkan untuk memberi tahu orang lain. kasus ini banyak terjadi di kalangan orang awam, yang ketika ditanyakan kepadanya ”ini apa?”. Maka dijawab ”ini aku simpan untuk kurban”. Maka dengan ini dia telah bernazar dengan kurban.

Berkurban Untuk Orang lain

Tidak boleh berkurban untuk orang lain yang masih hidup dengan tanpa izinnya dan tidak untuk orang yang sudah meninggal jika tidak diwasiatkan kecuali kurban wali dari hartanya sendiri untuk orang-orang yang berada dibawah tanggungannya, maka ini hukumnya sah. Pengecualian lain adalah kurban dari seorang imam dari harta baitil mal untuk kaum muslimin. Adapun dengan adanya izin, maka hukumnya boleh. Kenapa demikian? Karena kurban adalah ibadah, maka tidak boleh tanpa disertai dengan dalil. Berbeda dengan membayar utang orang lain yang tetap akan sah walaupun tanpa izin. Wallahua’alam.

Daftar Pustaka:
1. Al-Bakri al-Damyathi, I’anah al-Thalibin
2. Qalyubi, Hasyiah Qalyubi wa Umairah
3. An-Nawawi, Minhaj al-Thalibin
4. Khatib Syarbaini, Mughni Muhtaj,
5. Ibrahim al-Bajury, Hasyiah al-Bajury
6. Ibnu Hajar al-Haitamy, Tuhfah al-Muhtaj
7. Muhammad nawawi al-banteni, Tsamarul Yani’ah.