Rabu, 15 Agustus 2018

Mengenal Makna Dayah dan istilah Teungku di Aceh




Penyebaran dan pertumbuhan Islam di Indonesia, salah satunya dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan Islam yang dikenal dengan Dayah di Aceh, Pesantren di Jawa, dan Surau di Minangkabau. Masing-masing lembaga kebebasan ini memiliki tokoh yang paling tepat yang biasa disebut Kiyai , Syeikh , Teungku , Romo , dan berbagai istilah lainnya tergantung dimana posisi lembaga tersebut berada.
Lembaga pendidikan khas Aceh yang disebut dayah merupakan sebuah lembaga yang pada awalnya memposisikan dirinya sebagai pusat pendidikan pengkaderan ulama. Kehadirannya sebagai pencemaran agama Islam di Aceh bisa diperkirakan hampir bersamaan tuanya dengan Islam di nusantara. Kata dayah berasal dari bahasa Arab, yaitu zawiyah , yang berarti pojok.
Istilah zawiyah , secara literal adalah sudut, Zawiyah pertama kali adalah sudut Mesjid Madinah tempat Nabi Muhammad Saw menyampaikan ilmu dan berdakwah menyampaikan islam. Pada abad pertengahan, kata zawiyah dipahami sebagai pusat agama dan kehidupan mistik dari penganut tasawuf, kerena itu, hanya diterbitkan oleh ulama perantau, yang telah diberikan ketengah-tengah masyarakat. Kadang-kadang lembaga dibangun menjadi sekolah agama dan pada saat tertentu zawiyah juga di jadikan sebagai pondok bagi pencari spiritual. Sangat mungkin bahwa disebarkan mengajar Islam di Aceh oleh para pendakwah tradisional Arab dan Sufi.
di samping itu, nama lain dari dayah adalah rangkang . Perbedaannya, eksistensi dan peran rangkang dalam kancah pembelajaran lebih kecil dibandingkan dengan dayah.
Pada awal terbentuknya masyarakat Islam di Aceh sudah dikenal tiga jenis lembaga pendidikan dasar, yaitu: Rumoh , Meunasah dan Dayah. Selanjutnya gampong-gampong yang telah menampilkan masyarakat Islam, terus meningkat. Maka, tiga atau lebih masyarakat gampong yang berkebutuhan khusus untuk melangsungkan sebuah masjid sebagai tempat shalat Jumat. Mesjid tidak hanya sebagai tempat shalat tetapi juga bekerja sebagai lembaga pendidikan Islam. Di sekeliling kampus mesjid, arah samping dan belakang, bangunan kecil yang dikenal dengan nama rangkang Tempat tinggal orang-orang muda yang sedang belajar di mesjid itu (pada saat sekarang ada yang sama sekali tidak dijumpai lagi).
Ulama dayah adalah komunitas khusus diantara ulama Aceh, mereka adalah alumni dari dayah. Oleh karena itu mereka lebih berharga dibandingkan dengan orang yang menuntut ilmu pengetahuan atau sekolah.
Setiap hariah yang ada di dalamnya ada ulama yang secara spesifik diistilahkan dengan Teungku . Teungku sebagai pusat pertumbuhan dan pengetahuan Islam yang mana dayahnya menjadi tempat komunikasi sosial.
Istilah teungku sendiri yang difungsikan sebagai tokoh nomor satu dalam satu hari telah bersinggungan dengan zaman Aceh dimana raja juga menggunakan banyak hal untuk memunuhi pendidikan rakyatnya, adapun beberapa daerah seperti Kerajaan Peureulak, Tamiang, (Aceh Timur); Samudra Pasei (Aceh Utara), Lingga (Aceh Tengah), Kerajaan Pidie (Aceh Pidie), Kerajaan Lamuri / Aceh (Aceh Besar) dan Kerajaan Daya (Lamno, pantai Barat).
Teungku tidak hanya sebagai pemimpin dayah semata, dalam beberapa bentuk juga bisa sebagai penasehat raja, ratu atau sulthan. Salah satu dari mereka adalah ulama, dan sulthan sebagai pemimpin politik bersinergi dalam konteks pemerintahan, aksi politik mereka (teungku dayah) tampil keruang politik.
Sumber: http: //aceh.net

Tidak ada komentar:

Posting Komentar