Minggu, 12 Agustus 2018

MEURAH MULIA SEJARAH ACEH PASUKAN BERGAJAH




Meurah Mulia dan Hubungan Kekerabatan dengan Samudera Pasai
Meurah Mulia sebenarnya layak ditulis menjadi sebuah kisah sejarah yang terabaikan dari catatan para penulis. Meurah Mulia kini menjadi sebuah kecamatan yang terletak di kawasan agak pedalaman, ke arah selatan Aceh Utara. Jika melihat kilas balik sejarah, sebenarnya Meurah Mulia merupakan bagian dari anak kerajaan Samudera Pasai (wilayah sagoe) yang sering luput dari perhatian peneliti sejarah. Padahal di bekas anak kerajaan ini banyak menyimpan sejarah yang mengharukan. Seperti namanya yang unik ; meurah dalam bahasa Aceh berarti: gajah (pomeurah), dan mulia berarti: ramah, baik, dan luhur. Konon di kawasan Jungka Gajah yang menjadi ibukota kecamatan ini dulukala ditemukan seekor gajah mati. Lalu legenda itu menjadi cikal bakal nama ibukota kecamatan sampai sekarang, yang pada dasarnya; jungka (bahasa Aceh) berarti: kepala atau muka, dan gajah berarti: meurah. Dengan demikian Jungka Gajah mengandung pengertian : kepala atau muka gajah. Maka serasilah antara nama Meurah Mulia dengan ibukotanya Jungka Gajah.
Dalam masyarakat Aceh, gajah (meurah) merupakan simbol keperkasaan. Dalam dunia kemiliteran Aceh, gajah menjadi lambang patriotisme dan ketangkasan. Maka tak pelak, jika masa kesultanan Aceh dan Samudera Pasai juga dibentuk barisan pasukan tentara bergajah. Dari logika semacam ini dapat diprediksikan bahwa Meurah Mulia sangat intim dan merupakan bagian yang sangat tersohor dalam mempertahankan dan memajukan kerajaan Samudera Pasai. Nama asli Sultan Malikussaleh pun, bersal dari nama gajah yaitu Meurah Silue. Dengan demikian kata meurah: gajah, sangat populer dikalangan istana raja Pasai.
Bukti lain bahwa Meurah Mulia adalah bagian dari kekerabatan samudera Pasai jika dilihat dari segi geografis, adat istiadat, dan kebudayaan. Antara Meurah Mulia dengan Samudera merupakan suatu kesatuan utuh yang sama sekali tidak dapat dipisahkan. Selain itu, di Meurah Mulia di Gampong Paya Bili juga terdapat kuburan keturunan bangsawan yang layak disebut pahlawan Aceh, bernama Pang Husen. Meurah Mulia juga menjadi pusatnya perguruan tinggi agama Islam, karena dikawasan Gampong Paya Kambuek merupakan pusatnya persatuan majelis ulama. Salah seorang keturunan ulama termasyhur dari Meurah Mulia adalah Tgk. Abdul Jalil bin Hamzah atau Tgk. Samakurok (Tgk. Kurok), seorang ulama kharismatik yang memiliki karamah.
Bila sejarawan mengkaji histori sejarah Pasai dengan metode kekinian. Pada perbatasan antara kecamatan Samudera Geudong dengan Meurah Mulia disitu terdapat sebuah areal kuburan tepatnya di desa Bluek dan disitulah Putroe Beutong anak angkat Sultan Malikussaleh dikebumikan. Dalam buku Kronik Raja-Raja Pasai ditulis nama Putri Beutung, anak angkat Sultan Malikussaleh yang ditemukan di hutan rimba ketika sultan berburu. Manuskrip asli Kronik Raja-Raja Pasai tersebut hanya ada di meusium sejarah di Belanda satu-satunya saat ini. Pada perbatasan Samudera-Meurah Mulia juga terdapat sebuah desa bernama Blang Peuria. Saya memprediksikan, jika Blang Peuria itu merupakan warisan kepunyaan Mahdum Peuria, anak kandung Putri Nahrisyah. Blang (bahasa Aceh): sawah, dan peuria berasal dari nama Mahdum Peuria. Dengan demikian dapat ditapsirkan bahwa Blang Peuria berarti sawah milik Mahdum Peuria.
Kerajaan Islam Pertama di Samudera Pasai
Kerajaan Islam pertama dan tertua di adalah kerajaan Samudera Pasai atau Samudera Pasee. Walaupun penyanyi Aceh, Armawati AR dalam lagunya yang berjudul “Islam u Aceh”, memaparkan dalam syair lagunya bahwa Islam pertama masuk ke Aceh disambut oleh raja Perlak, karena sebagian ahli sejarah menganggap masuk Islam pertama ke Aceh adalah ke Perlak, Aceh Timur.
Namun yang pasti masuknya Islam pertama ke Indonesia adalah ditandai dengan berdirinya sebuah kerajaan Islam yang termasyhur namanya sampai saat ini dan terukir dalam buku sejarah peradaban dunia yaitu kerajaan Samudera Pasai. Bukti ini penulis dapatkan dari hasil petualangan si penjelajah “penemu benua Amerika”, Marcopollo mencatat bahwa ada sebuah kerajaan yang sangat megah dan disegani dikawasan Asia Tenggara waktu itu bernama Samudera Pasai, seperti yang tertulis dalam buku Aceh Sepanjang Abad karya Muhammad Said.
Tgk. Taqiyuddin pencerita dan sejarawan sekaligus kerabat penjaga makan keluarga Sultan Malikussaleh memaparkan bahwa benar memang Islam pertama masuk ke Perlak, tetapi waktu itu masuknya Islam ke Perlak sifatnya masih dalam jalur perdagangan. Namun, waktu Islam tersebar dan sampai ke Samudera Pasai, Sultan Malikussaleh memproklamirkan Islam sebagai agama bagi semua masyarakat yang berada di bawah naungan kerajaan ini.
Ada sebagian sejarawan beranggapan bahwa kata samudera itu bersal dari kata (sambotdrah; bahasa Aceh) yang berarti menyambut atau menerima sesuatu yang baru. Dalam sejarah ini sesuatu yang baru itu adalah agama Islam beserta Al-Quran. Lain dari itu, saya sangat setuju jika samudera itu berasal dari nama lautan atau selat. Jika kita tinjau dari segi bahasa Melayu lama maupun bahasa Indonesia, samudera itu berarti lautan. Sedangkan Pasai (pasee) berasal dari kata pasie yang berarti: pinggir laut, pantai atau pesisir. Sudah jelas fakta membuktikan bahwa memang benar kerajaan Samudera Pasai berada di kawasan utara Sumatera atau tepatnya di semenanjung selat Malaka. (Menurut sejarahwan penjaga makam Sultan Malikussaleh yang penulis wawancarai tahun 2005).
Sementara itu penulis sejarah, Johan Peusangan mencatat bahwa masuknya Islam ke Aceh pertama, ke kerajaan Peusangan (sekarang kecamatan Jeumpa, kabupaten Bireuen). Pendapat ini saya tolak, karena tulisan Johan Peusangan tersebut tidak didukung oleh referensi yang akurat. Jikapun ada para sejarawan yang mengakui kebenaran tulisannya, mungkin sama halnya dengan kasus anggapan masuknya Islam pertam ke Atjeh, ke perlak, Aceh Timur. Tidak ada tawar-menawar lagi bahwa sejarawan hebat dalam buku-buku menuliskan bahwa masuknya Islam pertama ke Indonesia adalah ke Aceh, yaitu di kerajaan Samudera Pasai yang dibawa oleh Maulana Malik Ibrahim seorang ulama dari Arab. Kemudian Islam meluwas sampai ke pulau Jawa yang dibawa oleh ulama dari Aceh bersama Maulana Malik Ibrahim. Lalu Islam pun berkembang dengan pesat di pulau Jawa yang ditandai dengan lahirnya para walisongo (wali sembilan).
Para ulama dari Aceh juga yang menyebarkan Islam ke Padang (Minangkabau), Sumatera Barat, dan kebanyakan ulama Padang merupakan alumni pesantren (dayah) Aceh. Setelah sekian lama para ulama Padang menuntut ilmu di Aceh, mereka kembali ke Padang untuk menyebarkan syiar Islam. Untuk selanjutnya para ulama dari Padang ini mengajak beberapa ulama Aceh untuk menyebarkan Islam sampai ke Gorontalo, Sulewesi, (Berita jejak ulama RCTI tahun 2007).
Jika anda sekarang ingin melihat jejak kerajaan dan makam raja-raja Samudera Pasai sembari berwisata islami. Anda dapat menempuh perjalanan kira-kira berjarak 10 km ke arah utara kota Samudera Geudong, sebuah kota kecil di Aceh Utara. Pada bulan Maret 2009 peneliti sejarah kerajaan Samudra Pasai Tgk. Taqiyuddin telah menemukan reruntuhan (fondasi) pusat istana kerajaan Samudera Pasai di kawasan desa Beuringen yang sudah ratusan tahun tertimbun tanah. Tgk. Taqiyuddin sebelumnya juga menemukan satu stempel (cap) yang diperkirakan merupakan peninggalan kerajaan Samudera Pasai. Pada bulan April 2009 Tgk. Taqiyuddin juga telah melakukan survei di kawasan desa Mesjid Bluek, Kec. Meurah Mulia (bekas wilayah sagoe Samudera Pasai), dan hasilnya membuktikan bahwa makam Sultan Johor berada di Aceh. Berita tersebut disiarkan oleh harian ternama terbitan Aceh Serambi Indonesia, dan penemuan saksi sejarah tersebut telah menolak pendapat Marcopollo dalam buku Aceh Sepanjang Abad karya Muhammad Said, yang memaparkan bahwa Sultan Johor tewas ditangan Belanda dalam peperangan bersama masyarakat Aceh dan tidak diketahui dimana kuburannnya.
Dengan demikian berarti antara wilayah sagoe Meurah Mulia dengan Samudera Pasai memiliki hubungan hirarki yang sangat erat. Meurah Mulia merupakan suatu kesatuan integrasi dari kerajaan Samudera Pasai yang menjadi ujung tombak pertahanan wilayah kekuasaan raja Pasai dengan Pasukan berkenderaan gajah: meurah mulia. Selain Meurah Mulia beberapa wilayah lain yang sangat berperan dalam memajukan kerajaan Pasai. Antara lain Blang Jruen dan Matang Kuli (desa Pirak), di desa tersebut tercatat nama seorang pahlawan nasional Cut Nyak Meutia yang merupakan keturunan darah biru, kerabat dekat sultan Samudera Pasai. Selain itu, di kawasan Nibong (Simpang Paya) juga sangat santer dengan legenda Paya Terbang, kisah terbangnya satu perkampungan untuk menyelamatkan seorang ulama yang diancam bunuh oleh seseorang. Lalu Paya Terbang menjadi rawa-rawa. Konon legenda Paya Terbang ada hubungan erat dengan sejarah Raja Bakoi yang ingin menikahi anak kandungnya sendiri setelah isteri Raja Bakoi meninggal dengan alasan nazar (kaul). Raja Bakoi adalah suami dari Putri Nahrisyah, ratu Samudera Pasai yang terakhir, dan legenda tersebut juga berhubungan erat dengan kisah kuburan Tgk. 44, ulama 44 orang yang terbunuh oleh kebiadaban orang zalim.
Asal Mula Nama Sultan Malikussaleh
Nama asli dari Sultan Malikussaleh, raja pertama kerajaan Samudera Pasai adalah Meurah Silue. Sedangkan Malikussaleh merupakan nama lakap atau nama kehormatan, pangkat atau nama yang dipertuan-agungkan dalam jabatan kerajaan. Malikussaleh berasal dari kata bahasa Arab, yaitu; Malik: raja, saleh: salih, taat, atau baik budi. Jadi, Sultan Malikussaleh berarti raja yang taat dan salih serta sangat mencintai rakyat dan disenangi oleh rakyatnya. Memang demikian alkisah sejarah membuktikan bahwa Sultan Malikussaleh seorang raja yang adil. Di bawah kekuasaannnya Samudera Pasai bahkan menguasai sampai ke semenanjung Malaka. Pahang (Malaysia) pernah ditaklukan dan berada dibawah kekuasaan Samudera Pasai. Antara Pahang dan Pasai pernah menjadi sebuah kerajaan yang padu dalam bidang kerjasama bilateral kedua negara. Dari itulah sejarawan memprediksikan bahwa kenyataannya Sultan Johor meninggal dan kuburannya berada di Meurah Mulia, Aceh Utara.
Ketika Pasai berjaya kerjasama yang dijalin dengan negara-negara luar bukan hanya dengan kerajaan jiran saja, tetapi juga dengan negara eropa dan timur tengah. Buktinya, kerja sama bidang kemiliteran Samudera Pasai pernah dipimpin oleh seorang panglima perang yang berasal dari Gujarat. Selain itu, untuk bidang hukum Pasai banyak mengangkat pakar hukum (kadhi) yang berasal dari Arab.
Aceh Dijuluki Serambi Mekkah
Banyak orang bertanya kenapa Aceh disebut Serambi Mekkah ?. Kenapa bukan Turki atau Afganistan yang diberi julukan sebagai Serambi Mekkah. Padahal sebelum Islam masuk ke Aceh, Islam sudah tersebar ke negeri China. Bahkan kita sering mendengar hadist Nabi Muhammad S.a.w yang artinya “ Tuntutlah ilmu walaupun ke negeri China”, selama ilmu itu bermanfaat.
Aceh disebut serambi Mekkah, karena di Aceh Islam berkembang sangat cepat dan pesat. Jika Mekkah menjadi ruang utama tempatnya syariat Islam ditegakkan, maka Aceh menjadi ruang serambi (seuramoe) bagi perkembangan Islam. Sedangkan indatu (grand father) orang Aceh mengatakan Aceh dijuluki Serambi Mekkah, karena kuatnya Islam di Aceh sama seperti Islam di Arab. Hal itu terbukti dengan tersohornya para ulama dari Aceh tempo dulu. Banyak ulama Aceh yang berguru dan menuntut ilmu agama ke Mekkah, seperti ulama sekaliber Tgk. Awee Geutah, Syaikh Nurdin As-Sumatrani, dan Tgk. Abuya Muda Wali Al-Khalidy. Bahkan pada masa kerajaan Aceh Darusslam banyak ulama dari Arab yang bolak-balik dari Mekkah ke Aceh, dan sebaliknya. Untuk menimba ilmu agama sekaligus untuk menyebarkan Islam ke Aceh. Beberapa nama ulama terkemuka hebat antara lain Syaikh Abdul Rauf (Syiah Kuala) dan Syaikh Nuruddin Ar-Raniry yang merupakan keturunan ulama yang berasal dari Arab. Aceh juga terkenal dan harum dengan beberapa ulama yang berpengaruh dalam peradaban keagamaan dunia Islam seperti ulama sufistik sekaligus sastrawan hebat dan penulis handal Syaikh Hamzah Fansuri dan Teungku Syiek Pantee Kulu. Dalam konteks ke-Indonesia-an, Aceh merupakan daerah yang bercorak kebudayaan Islam dalam segala aspek kehidupan kemasyarakatan. Aceh juga menjadi gudang para ulama.
Cut Nyak Dhien pahlawan nasional dari Aceh ketika dibuang dan diasingkan oleh Belanda ke Sumedang, Jawa Barat, pernah menjadi guru agama dibalai pengajian disebuah desa kecil di sumedang kala itu. Wanita-wanita Sumedang waktu itu belajar ilmu agama kepada cut Nyak Dhien, yang konon saat itu orang-orang Jawa dan Sunda tidak mengetahui bahwa guru agama tersebut adalah Cut nyak Dhien. Orang Sumedang kala itu memanggilnya Nyi Guru Aceh (Bu Guru Aceh). Setelah 2 tahun Cut Nyak Dhien menjadi guru agama bagi orang Sumedang, Cut Nyak Dhien wafat dan dikebumikan di Sumedang. Itulah keterharuan saya ketika mengenang Cut Nyak Dhien yang sangat berjasa dalam mengusir penjajah dari negeri tercita. Cut nyak Dhien lahir di Aceh Besar, dibesarkan dilingkungan para pahlawan, dewasa dalam peperangan melawan Belanda , kerja bergerilya masuk-keluar hutan dan akhirnya wafat di Sumedang, Jawa Barat, (Berita sejarah pahlawan nasional RCTI tahun 2007).
Sosok seorang Ibu yang patut ditiru oleh siapapun. Cut Nyak Dhien seorang Ibu yang Berhati lembut, namun berjiwa baja. Saya tuliskan sebuah syair (puisi) sebagai hadiah dan doa terindah kepada “Ibuku Yang Anggun Cut Nyak Dhien” :
IBUKU YANG ANGGUN “Cut Nyak Dhien”
Karya : Hamdani Mulya, S.Pd
Rinduku pada ibu
Laksana gerahku mata air
Mengumbar selaksa cinta
Yang aku tanam lewat
Curahan kasihmu di igauwanku
Betapa aku tlah jadi bara kagummu ibu
Dalam detak jantung adalah doamu
Biarkan cinta yang anggun berpayung sutra
Dan cintapun berlabuh di pangkuanmu
Aku anakmu yang slalu menjerit
“Aku merdeka karenamu Ibu”
Merdeka di setiap jengkal tanahmu
Ibuku yang anggun “Cut Nyak Dhien”
Aku merindukanmu di hamparan Ali Hasymi
Tlah berbuah budi cinta yang engkau taburi
Di negeri angin cinta tlah berbuah budi
Api terpadam air
Disini aku rindu ibuku “Cut Nyak Dhien”
Lhokseumawe, 28 Desember 2008
Demikianlah riwayat ringkas ini sebagai pelajaran dan kenangan bagi anak cucu kita. Betapa eloknya dan termasyhur sejarah peradaban masa lampau yang telah menggugah hati dan menginspirasi kita untuk terus mempertahankan sesuatu yang telah diraih oleh nenek moyang kita dengan susah payah. Saya ingin mengajari anak cucu kita sejarah, adat istiadat, kesetiaan, agama, dan berperangai santun seperti kaumnya sendiri. Dalam tulisan ini saya tidak berniat untuk membanggakan suatu kaum, namun demikianlah kenyataan Aceh telah menjadi perhatian sejarah dunia. Jika dalam tulisan ini terdapat kesalahan dan kekeliruan. Saya berharap pembaca dan sejarawan untuk memperbaikinya. Agar tulisan ini menjadi sebuah tulisan yang bagus dan layak untuk dibaca oleh semua orang. Selamat membaca dan berkarya. Kaum intelektual jangan hanya pintar bicara dan “menyanyi” saja, tetapi juga harus gemar menulis.(MH)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar