Selasa, 06 Agustus 2019

Hukum Memotong Gigi



Sudah menjadi kebiasaan bagi para Muda-mudi dalam masyarakat kita, memperbagus atau menghiasi dirinya secantik mungkin, baik itu penampilannya,, pakaiannya, tempat tinggalnya, bahkan tubuhnya sendiri rela di utak atik dengan berbagai cara untuk mendapatkan hasil sesuai yang diinginkan, baik itu operasi plastik ataupun lainnya, tanpa menghiraukan hukum didalam Agama, apakah dibolehkan atau tidak.

Begitu juga halnya dengan para pemuda ataupun para wanita, yang sangat gemar mereka kepada memperbagus gigi mereka, seperti memasang kawat Gigi, memotong gigi yang panjang, dengan tujuan untuk pamer menarik perhatian orang lain dan menampakkan kepada orang-orang.

Apa sebenarnya hukum daripada sebagian kelakuan tersebut. berikut penjelasan Abuya Syeikh H Muda Waly Al-Khalidy di dalam kitabnya Al-Fatawa.

Apa Hukumnya memotong Gigi ?

jawab:
Haram memotong gigi kalau untuk hendak
bagus(mempercantik diri), tetapi (jika) karena ada hajat seperti untuk
obat (maka hukumnya) boleh. Nashnya (ada) dalam
kitab I'aanatuth Thalibin, Juz 2 nomor 230:

ويحرم وشر الاسنان .ای تحددها وتفلیحها بمبرد .وللتحسين

Artinya. Dan diharamkan mempertajam gigi. Yaitu
membuat batas pada gigi, membelah dengan
mengukir dan (juga) untuk memperbagus gigi.


#Sumber: Kitab Al-Fatawa Abuya Syeikh H Muda Waly Al-Khalidy

Minggu, 04 Agustus 2019

ARTI KEHIDUPAN




Setiap orang Islam laki-laki dan perempuan yang baligh dan berakal, diwajibkan untuk belajar ilmu agama khususnya ilmu fardhu 'ain, yaitu ilmu Tauhid, Fiqih, dan Tasawuf(Akhlak).
Karena dengan menuntut ilmu lah kita mengetahui kewajiban kita kepada Allah SWT, kewajiban kita kepada Rasulullah SAW, kewajiban kita kepada orang tua, kewajiban kita kepada diri sendiri, kewajiban kita kepada masyarakat semua kaum muslimin muslimat.

Dan dengan ilmu juga, kita mengetahui setiap apa yang kita lakukan akan membuahkan pahala, yaitu dengan niat yang benar. seperti hari ini kita berkumpul di sini, Jika niat kita berkumpul Arisan ini untuk bersilaturahmi maka akan mendapatkan pahala, tapi kalau berkumpul kita hari ini hanya ingin berjumpa dengan seseorang, atau karena tidak enak dengan kawan, atau karena terpaksa untuk datang, ataupun yang lainnya maka tidak mendapatkan pahala.

Ilmu yang diwajibkan untuk dipelajari itu adalah ilmu Agama, bukan ilmu Dunia. Dan seandainya kita tidak bisa bahasa Inggris, maka kita tidak berdosa. tapi seandainya kita tidak bisa Shalat tidak bisa membaca Al-Qur'an, tidak bisa bersuci, maka itu yang akan berdosa.

Dan juga beribadah tanpa ilmu, ibadah itu tidak akan diterima seperti seseorang misalnya rajin Shalat tapi dia tidak belajar ilmu tentang shalat maka shalatnya tidak diterima, karena kadang-kadang orang Shalat, tapi kesalahan dalam shalat dia tidak tahu bahwa itu salah, maka Shalat nya itu tidak diterima. Dikarenakan shalat itu adalah ibadah yang sangat rumit apabila tidak belajar ilmu, maka tidak diketahui apakah selama ini Shalat kita sah atau tidak, oleh karena itulah sangat penting nya belajar ilmu Agama.

Maka selama kita masih diberikan nikmat oleh Allah Pergunakanlah nikmat itu untuk beribadah kepada Allah SWT, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw:

"Pergunakanlah yang lima sebelum datang yang lima, Pergunakanlah masa muda sebelum datangnya masa tua, Pergunakanlah waktu sehat sebelum datang waktu sakit, Pergunakanlah waktu luang sebelum datang waktu sempit, pergunakanlah waktu kaya sebelum datang waktu miskin, Pergunakanlah waktu hidup sebelum datang kematian."

Nikmat-nikmat yang diberikan oleh Allah, tidak akan terasa berguna kecuali ketika setelah nikmat itu hilang. Misalnya terasa manfaatnya gigi ketika kita sudah sakit gigi.
Terasa manfaatnya nikmat telinga ketika kita sudah tidak bisa mendengar, terasa manfaatnya nikmat mata ketika kita tidak bisa melihat.

Maka kesempatan yang masih Allah berikan kepada kita pergunakan untuk bertobat dan beribadah kepada Allah sebelum kita berpulang kepada-Nya, karena orang-orang yang telah berpulang ke Rahmatullah itu menjerit-jerit dan menangis memohon kepada Allah untuk dihidupkan sebentar saja untuk bertobat dan beribadah kepada Allah SWT.

Maka sebelum kita berpulang ke Rahmatullah sediakanlah amalan-amalan untuk dapat kita nikmati ketika kita sudah masuk ke alam Kubur.

Karena berdasarkan sebuah hadis Nabi SAW.

"Apabila meninggal seorang anak Adam terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara, yaitu ilmu yang bermanfaat, sedekah jariyah, dan anak yang Shaleh yang berdo'a kepadanya".

Maka oleh karena itu, perbanyaklah amal shaleh supaya kita dapat bahagia nanti ketika setelah berpulang ke Rahmatullah. Dan didiklah anak pada jalan kebenaran dan kebaikan yang sesuai dengan ajaran agama Islam, supaya dia menjadi anak yang shaleh/shalehah yang dapat mendo'akan kita setelah kita tiada nantinya.

#semoga bermanfaat

Oleh: Tgk Muhammad Hamli Ilyas
(Dewan Guru Dayah Raudhatul Hikmah Al-waliyyah, Pango Raya. Ulee Kareng. Banda Aceh)



Rabu, 24 Juli 2019

"ISTIQAMAH" Jalan Menuju Kesuksesan



Secara harfiah istiqamah memiliki arti lurus ,teguh dan tetap. Istiqamah secara lebih umum dapat di maknai dengan kesungguhan hati dalam semua hal yang selaras dengan jalan yang benar ataupun kelanggengan dalam mengerjakan suatu pekerjaan, baik dalam belajar, beribadah, bekerja, atau berusaha. Tekun (Istiqamah) merupakan salah satu cara untuk menggapai keberhasilan, selain dari pada belajar dan beramal,. Semua orang di dunia ini pasti ingin sukses di bidangnya masing-masing, pelajar ingin menjadi pintar, orang a’bid (orang yang beribadah kepada Allah SWT) ingin mendapat keridhaanNya. Namun sedikit dari mereka yang bersungguh-sungguh dalam menempuh sukarnya jalan menuju derajat yang tinggi (keberhasilan). Sebagaimana syair yang di gubah oleh salah seorang pujangga arab.
لكل الى شأن العلى حركات * ولكن عزيز فى الرجال ثبات
“Semua orang ingin meniti tangga keluhuran, namun jarang diantara mereka yang tekun (Istiqamah)”.
Istiqamah memiliki kualitas yang lebih tinggi dari sekedar kualitas, amalan yang dilakukan secara terus menerus lebih bernilai dari pada amalan yang dikerjakan dalam jumlah yang banyak tapi cuma dikerjakan sekali.
Nabi Muhammad SAW bersabda :
احب الأعمال الى الله أدوامها وإن قل 
“Amalan yang paling disukai Allah adalah amalan yang terus menerus, walaupun hanya sedikit.”

Allah lebih mencintai hamba-Nya yang selalu mengerjakan kebaikan secara terus menerus, walaupun amalan tersebut hanya sedikit. Satu atau dua ayat yang di baca setiap hari mempunyai kualitas yang lebih baik dari pada satu juz yang di baca satu bulan sekali, meskipun itu memiliki kualiatas yang lebih banyak. Para ulama berpendapat bahwa istiqamah lebih baik dari pada karamah.
الأستقامة خير من الف كرامة
“Istiqamah lebih baik dari seribu karamah.”.

Istiqamah dianggap lebih baik dari karamah, karena selalu akan hadir selama masih mungkin dilakukan, berbeda dengan karamah yang diberikan oleh Allah kepada hambanya yang shaleh dalam waktu tertentu, seperti para sahabat Nabi, mereka tidak dikenal dengan karamahnya, padahal tidak sedikit diantara mereka yang pernah diberi karamah oleh Allah, diantaranya adalah Khalifah Umar bin Khatab Radhiallahu'anhu, pernah pada satu ketika dia melihat musuh dari jarak satu bulan perjalanan, kemudian dia memanggil orang-orang yang sedang menaiki bukit dan mereka pun mendengarnya, kemudia sang Khalifah membawa mereka bersembunyi di bukit tersebut, ketika musuh datang Umar dan para pendaki gunung langsung menyerbu mereka sehingga mereka terselamatkan dengan sebab Karamah yang diberikan Allah kepada Umar R a.
Dalam proses belajar mengajar istiqamah sangat diperlukan, pelajar yang tekun, dalam mengikuti pelajaran setiap hari, akan mendapatkan hasil (pengetahuan) yang lebih banyak dari pada pelajar yang sering bolos. Albert Einstein, seorang fisikawan yang dinobatkan sebagai ilmuan terbesar pada abad ke 20 dengan tegas menyatakan bahwa pengetahuan yang didapatnya bukan karena kecerdasannya, melainkan berkat ketekunannya. “Bukannya saya cerdas, hanya saja saya lebih tekun “
Albert Einstein
Peraih penghargaan Nobel tahun 1921

“Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit “. Mungkin itu adalah pepatah yang sangat tepat bagi penunntut ilmu, meskipun sedikit tapi jika dilakukan secara terus menerus , maka lama kelamaan akan membukit atau menjulang tinggi. Pengetahuan yang di tambah perlahan-lahan namun pasti akan lebih luas dan dalam laksana air di lautan luas.
Bagi penunntut ilmu sebaiknya tetap (istiqamah) dalam masa belajarnya kepada empat perkara:
1.Tetap Kepada Guru
وتواضعو لمن تعلمون منه
“Dan rendah dirilah kepada orang yang kamu belajar darinya”. Islam mengajarkan umatnya untuk menghormati ahli ilmu, terlebih lagi jka ahli ilmu tersebut adalah Guru mereka sendiri, sebab para ahli ilmu adalah pewaris para Nabi dan Guru adalah yang mewariskan ilmu kepada murid-muridnya secara langsung. Salah satu bentuk penghormatan kepada Guru adalah tidak berpindah kepada Guru lain selama belum mendapatkan restu darinya, sebab itu dapat menyakiti hatinya, sehingga membuatnya tidak meridhai ilmu yang telah diberikannya.
إن المعلم والطبيب كلاهما * لا ينصحان إذا هما لم يكرما
“Sesungguhnya guru dan dokter tidak akan tulus jika mereka tidak dimuliakan.”

2. Tetap kepada kitab
Sepantasnya bagi penuntut imu tidak meninggalkan satu kitab sebelum dia menamatkannya, sehingga dia tidak meninggalkan kitab padahal dia belum habis mempelajari seluruh isi yang terkandung dalam kitab tersebut bahkan, bisa saja dia melewatkan suatu pembahasan yang tidak di bahas dalam kitab lain.

3. Tetap pada fan Ilmu
Tetap dalam fan (disiplin) ilmu, maksudnya adalah tidak berpindah pada ilmu yang lain sebelum benar-benar menguasaiya, jika seorang penuntut ilmu berpindah kepada fan ilmu yang lain sebelum sempurna menguasainya, maka tidak ada satu pun fan ilmu yang bisa dia kuasai dengan sempurna. Imam Al-Ghazzali berkata “Keterbatasan waktu yang kita miliki mengharuskan kita memilih ilmu yang harus kita dahulukan, dan setelah mendalaminya baru kita berpindah pada ilmu yang dibawahnya dan di bawahnya lagi, belajar secara berurutan adalah aturan wajib yang harus di tempuh oleh seorang pelajar.

4.Tetap pada tempat belajar
Sebelum menempuh masa belajar penuntut ilmu harus memilih tempat dimana dia akan menuntut ilmu, tempat yang dianggap aman dari bahaya dan nyaman untuk ditempati, sehinnga dia tidak berpindah ketempat yang lain, karena itu dapat menyibukkannya dan menyia-nyiakan waktunya dalam menuntut ilmu, kecuali ada faktor yang mengharuskannya untuk pindah seperti di daerah tersebut terjadi peperangan yang tidak bisa dihindari maka dia harus pindah karena perang dapat membahayakan dirinya. Ketika seseorang sudah bisa menerapkan istiqamah dalam kehidupannya, Insyaallah ia akan mendapat kesuksesan. Manusia yang selamat di Akhirat kelak adalah mereka yang dapat memegang Iman dengan Istiqamah. Tetap memegang status Muslim sampai mereka di hadapan Allah. Dalam sebuah syair disebutkan :
حيثما تستقم يقدر لك الله * رجاجا فى غابر الأزمان
“Selama kamu istiqamah, Allah akan menakdirkan keberuntungan padamu di masa depanmu.”

Referensi:
[1] Ensiklopedi islam Pt.Ikhtiar baru Van Hoeven , Jakarta, vol ii hal 281
[2] [9] Syeh Az-Zarnuji, Ta’limul Mutaallim, hal 14, 18 Cet. Haramain

[3] [5] Syeh Ibrahim Al-Bajuri , Tuhfatul Murid, hal 96 Cet. Haramain
[4] Muhammad Al-Harawi, Jamul Wasaail fi Syarhil Syamail, hal 114, Cet Maktabah DKI
[6] Scot Trop, How to think like Einstein, Inter Aksara 2002
[7] Syeh Az-Zarnuji, Taklimmul Mutaallim hal 15 Cet Haramain
[8] Sayyid Ahmad Al-Hasyyimi bik, Mukhtarul Alhadits An-Nabawiyah hal 71 Cet Maktabah Nurul Huda, Surabaya.
[10] Muhammad bin Ali As shabban , Hasyiah Sabban ala syarhil Asymuni, jilid 4 hal 11.

Anda ingin Menikah ? Jangan pilih 6 Perempuan ini



Deskripsi Masalah:
Menikah merupakan jalan keluar dua insan untuk merealisasikan rasa cinta yang bergejolak dalam hatinya, mencari kebahagiaan dan untuk melestarikan keturunan. Setiap orang pastinya menginginkan pasangan hidup yang baik dan ideal, prilakunya, agamis, dan menyenangkan  pastinya.

Imam Al-Ghazali  dalam karangan fenomenalnya kitab Ihya Ulumuddin memberikan beberapa tips agar kita tidak salah dalam memilih perempuan, karena pilihan yang baik tentu akan membawa hasil yang baik pula. Berikut ini beberapa kriteria sosok perempuan yang tidak pantas dijadikan sebagai istri.

1. Al-Ananah
أما الأنانة فهي التي تكثر الأنين والتشكي وتعصب رأسها كل ساعة
Al-Ananah (suka mengeluh) adalah perempuan yang banyak mengeluh dan mengadu, selalu membalut kepalanya sebagai tanda sakit. Ini dilakukan untuk memberitahu kepada orang-orang bahwa dia merasa terbebani dengan tugasan hariannya  karena malas atau memang sifat bawaan yang dimilikinya. Perempuan seperti ini bawaannya  suka mengeluh walaupun disebabkan perkara kecil. Perempuan tersebut berpura-pura sakit supaya suaminya tidak membebaninya dengan tugas harian. Menikahi perempuan yang sengaja buat-buat sakit tidak ada faedah sama sekali.

2. Al-Mananah

والمنانة التي تمن على زوجها فتقول فعلت لأجلك كذا وكذا
Al-Mananah yaitu perempuan yang memberikan sesuatu kepada suaminya  tetapi suka mengungkit-ungkit pemberian tersebut. Seringkali saat berbicara dia selalu mengungkitnya, lebih-lebih lagi saat terjadi suatu masalah, dia selalu merasa bahwa pemberian suaminya tidak sebanding dengan apa yang telah diberikannya.

3. Al-Hananahوالحنانة التي تحن إلى زوج آخر أو ولدها من زوج آخر وهذا أيضا مما يجب اجتنابه
Al-Hananah adalah perempuan yang suka merindui, mengungkit-ungkit dan mengingati bekas suami atau anaknya dari suaminya dulu. (Perempuan seperti ini tidak akan menghargai suaminya walaupun suaminya berusaha memuaskan segala kemauannya)
4. Al-Haddaqah
والحداقة التي ترمي إلى كل شيء بحدقتها فتشتهيه وتكلف الزوج شراءه
Al-Haddaqah yaitu perempuan yang menginginkan apa saja yang dilihatnya saat berbelanja (boros) sehingga membebankan dan memberatkan suaminya dalam ekonomi.
5. Al-Baraqahوالبراقة تحتمل معنيين أحدهما أن تكون طول النهار في تصقيل وجهها وتزيينه ليكون لوجهها بريق محصل بالصنع والثاني أن تغضب على الطعام فلا تأكل إلا وحدها
Al-Baraqah mempunyai dua makna. Pertama, suka berhias sepanjang waktu (melampau atau melebihi  batas wajar) supaya wajahnya nampak lebih anggun dan mempersona. Kedua, perempuan yang tidak mau makan dalam keramaian, dan dia tidak akan makan kecuali jika sendirian, dia juga akan menyimpan bagian tertentu untuk dirinya sendiri.

6. Al-Syaddaqah
والشداقة المتشدقة الكثيرة الكلام ومنه قَوْلَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ تعالى يبغض الثرثارين المتشدقين
Al-Syaddaqah adalah perempuan yang banyak berbicara, melebihi kadar keperluan lebih-lebih berbicara hal yang tidak penting. Suka mengupat siapa saja bahkan suaminya sendiri. Sebagaimana sabda Nabi saw, bahawa Allah murka kepada wanita yang banyak bicara hal yang tidak penting. Wallahua'lam.


Referensi: Ihya Ulumiddin juz 2 hal 61 cet I maktabah mesir tahun 2013

Rabu, 26 Juni 2019

KETIKA TASBIH TAK LAGI BERPUTAR



Hidup ini tinggal sisa dan waktu yang kita tidak tahu kapan ia akan berakhir. Oleh itu jadilah kita orang yang paling bahagia dan membahagiakan. Orang yang ceria dan menceriakan.
Jika engkau seorang Ibu, Jadilah ibu yg menjadi kedamaian pada anak-anak.

Jika engkau seorang istri, jadilah istri yg memberi kebahagiaan, keceriaan dan manfaat pada suami kita.
Karena hidup ini hanya seketika.

Siapa duga dan sangka saat bermasalah dengan kesehatan yang baik tiba-tiba kematian datang menimpa tanpa di sangka.

Pengajaran untuk kita betapa rapuhnya hidup kita. Kematian itu tidak menghitung masa dan usia. Muda maupun Tua.

"Jangan menunggu untuk menjadi anak yang baik.
Jangan menunggu untuk menjadi istri yang baik.
Jangan menunggu untuk menjadi suami yang baik.
Tapi lakukanlah dari sekarang."

Kadang-kadang kita terasa hati, kecewa, sakit hati, sedih.
Maaf kan saja. Jadilah orang yang memberi manfaat pada orang lain.
Karena kematian itu sangat dekat.

Jadilah orang yang bahagia dan membahagiakan.

Kita tidak tahu kapan tiba masa kita mengadap Allah. Orang yang kita sayang pasti akan kita tinggalkan. Dan perpisahan itu adalah dengan sebuah kematian.

Semoga bertemu kelak di Syurga.

Fahamilah 7 perkara dalam hidup kamu:

1. Apabila meninggal dunia ayah kamu, maka matilah pimpinan dan nasihatnya.

2. Apabila meninggal dunia ibu kamu, maka terpadamlah cahaya kelembutan belaian dan bimbingan nya.

3. Apabila meninggal dunia abang kamu, maka terbengkalailah cita-cita yang ingin diraih bersama.

4. Apabila meninggal dunia kakak kamu, maka hilanglah senyuman kasihnya.

5. Apabila meninggal dunia adik-adik kamu, maka hilanglah tempat curahan kasih, nakal, gurauan dan keceriaanya.

6. Apabila meninggal dunia pasangan kamu, maka pudarlah kebersamaan harapan, perasaan dan keceriaannya.

7. Apabila meninggal dunia sahabat kamu maka pudarlah sinar nasihat dan doa tulus dari bersih hatinya.

Ketahuilah, hidup ini sangat singkat untuk kedengkian, kemarahan, kebencian dan memutuskan hubungan karena esok semuanya hanya tinggal kenangan

Maka senyumlah, berlapang dadalah, maafkanlah sesiapa yang menyakitkan kamu lantaran kita tidak tahu. Kapan kita akan berangkat ' meninggalkan' dunia yang fana ini.

Andai kamu melihat anak-anak yang sedang bermain, itulah masa silam kita.

Andai kamu melihat orang tua yang berjalan menggunakan seluruh kemampuan karena tidak kuat. Maka, itulah masa depan kita.

Andai kamu melihat pula jenazah yang sedang diusung ke tanah perkuburan. Maka, ingatlah itulah nanti pengakhiran hidup kita didunia ini.
"Manfaatkanlah waktu yang mulia ini, sebelum kesempatan berlalu pergi"


*Muhammad Hamli Ilyas

Selasa, 25 Juni 2019

Biografi Syeikh Abdul Karim al-jily




Dalam beberapa postingan kami ada beberapa postingan yang menyebut tentang Kitab Insan Kamil fi ma’rifatil al-Awakhir wal awail. sebuah kitab sufi karangan Syeikh Abdul Karim bin Ibrahim al-Jily (wafat 805 H). Maka ada baiknya juga kami membuat postingan tentang profil beliau secara singkat. 

Al-Jliy ini adalah nisbah kepada Jilam, satu kota di Iran, ada yang menyebutnya dengan al-Jily, ada juga dengan al-Jilani dan ada juga dengan al-Kailany. Dalam sejarah Islam, banyak memang tokoh yang dinisbahkan kepada Kota Jilan, dalam penisbatan tersebut ada yang menyebutnya dengan al-Jilani dan ada juga dengan al-Jily. Namun sebagian ahli sejarah membedakan kedua nisbah tersebut. Jika dinisbahkan kepada Kota Jilan maka disebut dengan Jilani namun jika dinisbahkan kepada salah seorang dari kota Jilan maka disebut dengan al-Jily. Haji Khalifah dalam kitabnya Kasyf Dhunun menyebutkan bahwa Syeikh Abdul Karim al-Jily merupakan keturunan Syeikh Abdul Qadir al-Jailani (wafat 561 H). Beliau dilahirkan tahun awal muharram tahun 767 H (1365 M) di kota Bagdad. Kemudian beliau keluar dari Bagdad dalam rangka mencari ilmu. Pengembaraan beliau ini sampai ke Zabid, Yaman dan berguru kepada salah seorang ulama Sufi terkemuka di sana, Syeikh Ismail Jabarti. Tahun 799 H beliau ke Makkah dan bertemu dengan para ulama sufi di sana. Tahun 809 H beliau mengembara ke Kota Kairo dan berkumpul dengan ulama al-Azhar. Pada tahun yang sama beliau juga menuju ke kota Gazza, Palestina. Kemudian karena kerinduan kepada sanga guru di Zabid, beliau kembali ke Zabid Yaman, menjenguk guru beliau Syeikh Islamil Jabarti pada tahun 805 H,setahun sebelum wafat guru beliau tersebut. Setelah wafat gurunya, beliau masih menetap di Zabid hingga akhirnya menyelesaikan salah satu kitab yang bernama Insan Kamil. Setelah itu beliau menziarahi beberapa kota lain di negri Yaman. Beliau juga sempat bertemu dengan mengambil faedah ilmu dari pendiri Thariqat Naqsyabandiyah, Syeikh Khawajah Bahauddin Muhammad bin Syah Naqsyabandi (wafat 827 H).

Para ahli sejarah berbeda pendapat tentang wafatnya beliau. Menurut Haji Khalifah beliau wafat tahun 805 H. Menurut Syeikh Abdaruddin al-Ahdal beliau wafat tahun 826 H. Sedangkan menurut oreantalis Inggris, Reynold A. Nicholson, beliau wafat sekitar tahun 820 H. Sedangkan menurut Louis Massignon, beliau wafat tahun 832 H/1428 M di Zabid dan dimakankan di sana. 
Kitab Karya Syeikh Abdul Karim al-Jily

Syeikh Abdul Karim al-Jili memiliki beberapa karangan, antara lain; 
1. Munadharah Ilahiyah
2. al-Kahf war Raqim
3. Jannatul Ma'arif wa Ghayah al-Murid wal 'Arif
4. Qamus al-Aqdam wan Namus al-A'dham
5. Qasidah Ainiyah
6. Quthb al-Ajaib wa Falak al-Gharaib
7. Mataib al-Wujud
8. Kamalat Ilahiyah fi Shifat al-Muhammadiyah
9. KItab Insan Kami
10. Dll