Rabu, 24 Juli 2019

"ISTIQAMAH" Jalan Menuju Kesuksesan



Secara harfiah istiqamah memiliki arti lurus ,teguh dan tetap. Istiqamah secara lebih umum dapat di maknai dengan kesungguhan hati dalam semua hal yang selaras dengan jalan yang benar ataupun kelanggengan dalam mengerjakan suatu pekerjaan, baik dalam belajar, beribadah, bekerja, atau berusaha. Tekun (Istiqamah) merupakan salah satu cara untuk menggapai keberhasilan, selain dari pada belajar dan beramal,. Semua orang di dunia ini pasti ingin sukses di bidangnya masing-masing, pelajar ingin menjadi pintar, orang a’bid (orang yang beribadah kepada Allah SWT) ingin mendapat keridhaanNya. Namun sedikit dari mereka yang bersungguh-sungguh dalam menempuh sukarnya jalan menuju derajat yang tinggi (keberhasilan). Sebagaimana syair yang di gubah oleh salah seorang pujangga arab.
لكل الى شأن العلى حركات * ولكن عزيز فى الرجال ثبات
“Semua orang ingin meniti tangga keluhuran, namun jarang diantara mereka yang tekun (Istiqamah)”.
Istiqamah memiliki kualitas yang lebih tinggi dari sekedar kualitas, amalan yang dilakukan secara terus menerus lebih bernilai dari pada amalan yang dikerjakan dalam jumlah yang banyak tapi cuma dikerjakan sekali.
Nabi Muhammad SAW bersabda :
احب الأعمال الى الله أدوامها وإن قل 
“Amalan yang paling disukai Allah adalah amalan yang terus menerus, walaupun hanya sedikit.”

Allah lebih mencintai hamba-Nya yang selalu mengerjakan kebaikan secara terus menerus, walaupun amalan tersebut hanya sedikit. Satu atau dua ayat yang di baca setiap hari mempunyai kualitas yang lebih baik dari pada satu juz yang di baca satu bulan sekali, meskipun itu memiliki kualiatas yang lebih banyak. Para ulama berpendapat bahwa istiqamah lebih baik dari pada karamah.
الأستقامة خير من الف كرامة
“Istiqamah lebih baik dari seribu karamah.”.

Istiqamah dianggap lebih baik dari karamah, karena selalu akan hadir selama masih mungkin dilakukan, berbeda dengan karamah yang diberikan oleh Allah kepada hambanya yang shaleh dalam waktu tertentu, seperti para sahabat Nabi, mereka tidak dikenal dengan karamahnya, padahal tidak sedikit diantara mereka yang pernah diberi karamah oleh Allah, diantaranya adalah Khalifah Umar bin Khatab Radhiallahu'anhu, pernah pada satu ketika dia melihat musuh dari jarak satu bulan perjalanan, kemudian dia memanggil orang-orang yang sedang menaiki bukit dan mereka pun mendengarnya, kemudia sang Khalifah membawa mereka bersembunyi di bukit tersebut, ketika musuh datang Umar dan para pendaki gunung langsung menyerbu mereka sehingga mereka terselamatkan dengan sebab Karamah yang diberikan Allah kepada Umar R a.
Dalam proses belajar mengajar istiqamah sangat diperlukan, pelajar yang tekun, dalam mengikuti pelajaran setiap hari, akan mendapatkan hasil (pengetahuan) yang lebih banyak dari pada pelajar yang sering bolos. Albert Einstein, seorang fisikawan yang dinobatkan sebagai ilmuan terbesar pada abad ke 20 dengan tegas menyatakan bahwa pengetahuan yang didapatnya bukan karena kecerdasannya, melainkan berkat ketekunannya. “Bukannya saya cerdas, hanya saja saya lebih tekun “
Albert Einstein
Peraih penghargaan Nobel tahun 1921

“Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit “. Mungkin itu adalah pepatah yang sangat tepat bagi penunntut ilmu, meskipun sedikit tapi jika dilakukan secara terus menerus , maka lama kelamaan akan membukit atau menjulang tinggi. Pengetahuan yang di tambah perlahan-lahan namun pasti akan lebih luas dan dalam laksana air di lautan luas.
Bagi penunntut ilmu sebaiknya tetap (istiqamah) dalam masa belajarnya kepada empat perkara:
1.Tetap Kepada Guru
وتواضعو لمن تعلمون منه
“Dan rendah dirilah kepada orang yang kamu belajar darinya”. Islam mengajarkan umatnya untuk menghormati ahli ilmu, terlebih lagi jka ahli ilmu tersebut adalah Guru mereka sendiri, sebab para ahli ilmu adalah pewaris para Nabi dan Guru adalah yang mewariskan ilmu kepada murid-muridnya secara langsung. Salah satu bentuk penghormatan kepada Guru adalah tidak berpindah kepada Guru lain selama belum mendapatkan restu darinya, sebab itu dapat menyakiti hatinya, sehingga membuatnya tidak meridhai ilmu yang telah diberikannya.
إن المعلم والطبيب كلاهما * لا ينصحان إذا هما لم يكرما
“Sesungguhnya guru dan dokter tidak akan tulus jika mereka tidak dimuliakan.”

2. Tetap kepada kitab
Sepantasnya bagi penuntut imu tidak meninggalkan satu kitab sebelum dia menamatkannya, sehingga dia tidak meninggalkan kitab padahal dia belum habis mempelajari seluruh isi yang terkandung dalam kitab tersebut bahkan, bisa saja dia melewatkan suatu pembahasan yang tidak di bahas dalam kitab lain.

3. Tetap pada fan Ilmu
Tetap dalam fan (disiplin) ilmu, maksudnya adalah tidak berpindah pada ilmu yang lain sebelum benar-benar menguasaiya, jika seorang penuntut ilmu berpindah kepada fan ilmu yang lain sebelum sempurna menguasainya, maka tidak ada satu pun fan ilmu yang bisa dia kuasai dengan sempurna. Imam Al-Ghazzali berkata “Keterbatasan waktu yang kita miliki mengharuskan kita memilih ilmu yang harus kita dahulukan, dan setelah mendalaminya baru kita berpindah pada ilmu yang dibawahnya dan di bawahnya lagi, belajar secara berurutan adalah aturan wajib yang harus di tempuh oleh seorang pelajar.

4.Tetap pada tempat belajar
Sebelum menempuh masa belajar penuntut ilmu harus memilih tempat dimana dia akan menuntut ilmu, tempat yang dianggap aman dari bahaya dan nyaman untuk ditempati, sehinnga dia tidak berpindah ketempat yang lain, karena itu dapat menyibukkannya dan menyia-nyiakan waktunya dalam menuntut ilmu, kecuali ada faktor yang mengharuskannya untuk pindah seperti di daerah tersebut terjadi peperangan yang tidak bisa dihindari maka dia harus pindah karena perang dapat membahayakan dirinya. Ketika seseorang sudah bisa menerapkan istiqamah dalam kehidupannya, Insyaallah ia akan mendapat kesuksesan. Manusia yang selamat di Akhirat kelak adalah mereka yang dapat memegang Iman dengan Istiqamah. Tetap memegang status Muslim sampai mereka di hadapan Allah. Dalam sebuah syair disebutkan :
حيثما تستقم يقدر لك الله * رجاجا فى غابر الأزمان
“Selama kamu istiqamah, Allah akan menakdirkan keberuntungan padamu di masa depanmu.”

Referensi:
[1] Ensiklopedi islam Pt.Ikhtiar baru Van Hoeven , Jakarta, vol ii hal 281
[2] [9] Syeh Az-Zarnuji, Ta’limul Mutaallim, hal 14, 18 Cet. Haramain

[3] [5] Syeh Ibrahim Al-Bajuri , Tuhfatul Murid, hal 96 Cet. Haramain
[4] Muhammad Al-Harawi, Jamul Wasaail fi Syarhil Syamail, hal 114, Cet Maktabah DKI
[6] Scot Trop, How to think like Einstein, Inter Aksara 2002
[7] Syeh Az-Zarnuji, Taklimmul Mutaallim hal 15 Cet Haramain
[8] Sayyid Ahmad Al-Hasyyimi bik, Mukhtarul Alhadits An-Nabawiyah hal 71 Cet Maktabah Nurul Huda, Surabaya.
[10] Muhammad bin Ali As shabban , Hasyiah Sabban ala syarhil Asymuni, jilid 4 hal 11.

Anda ingin Menikah ? Jangan pilih 6 Perempuan ini



Deskripsi Masalah:
Menikah merupakan jalan keluar dua insan untuk merealisasikan rasa cinta yang bergejolak dalam hatinya, mencari kebahagiaan dan untuk melestarikan keturunan. Setiap orang pastinya menginginkan pasangan hidup yang baik dan ideal, prilakunya, agamis, dan menyenangkan  pastinya.

Imam Al-Ghazali  dalam karangan fenomenalnya kitab Ihya Ulumuddin memberikan beberapa tips agar kita tidak salah dalam memilih perempuan, karena pilihan yang baik tentu akan membawa hasil yang baik pula. Berikut ini beberapa kriteria sosok perempuan yang tidak pantas dijadikan sebagai istri.

1. Al-Ananah
أما الأنانة فهي التي تكثر الأنين والتشكي وتعصب رأسها كل ساعة
Al-Ananah (suka mengeluh) adalah perempuan yang banyak mengeluh dan mengadu, selalu membalut kepalanya sebagai tanda sakit. Ini dilakukan untuk memberitahu kepada orang-orang bahwa dia merasa terbebani dengan tugasan hariannya  karena malas atau memang sifat bawaan yang dimilikinya. Perempuan seperti ini bawaannya  suka mengeluh walaupun disebabkan perkara kecil. Perempuan tersebut berpura-pura sakit supaya suaminya tidak membebaninya dengan tugas harian. Menikahi perempuan yang sengaja buat-buat sakit tidak ada faedah sama sekali.

2. Al-Mananah

والمنانة التي تمن على زوجها فتقول فعلت لأجلك كذا وكذا
Al-Mananah yaitu perempuan yang memberikan sesuatu kepada suaminya  tetapi suka mengungkit-ungkit pemberian tersebut. Seringkali saat berbicara dia selalu mengungkitnya, lebih-lebih lagi saat terjadi suatu masalah, dia selalu merasa bahwa pemberian suaminya tidak sebanding dengan apa yang telah diberikannya.

3. Al-Hananahوالحنانة التي تحن إلى زوج آخر أو ولدها من زوج آخر وهذا أيضا مما يجب اجتنابه
Al-Hananah adalah perempuan yang suka merindui, mengungkit-ungkit dan mengingati bekas suami atau anaknya dari suaminya dulu. (Perempuan seperti ini tidak akan menghargai suaminya walaupun suaminya berusaha memuaskan segala kemauannya)
4. Al-Haddaqah
والحداقة التي ترمي إلى كل شيء بحدقتها فتشتهيه وتكلف الزوج شراءه
Al-Haddaqah yaitu perempuan yang menginginkan apa saja yang dilihatnya saat berbelanja (boros) sehingga membebankan dan memberatkan suaminya dalam ekonomi.
5. Al-Baraqahوالبراقة تحتمل معنيين أحدهما أن تكون طول النهار في تصقيل وجهها وتزيينه ليكون لوجهها بريق محصل بالصنع والثاني أن تغضب على الطعام فلا تأكل إلا وحدها
Al-Baraqah mempunyai dua makna. Pertama, suka berhias sepanjang waktu (melampau atau melebihi  batas wajar) supaya wajahnya nampak lebih anggun dan mempersona. Kedua, perempuan yang tidak mau makan dalam keramaian, dan dia tidak akan makan kecuali jika sendirian, dia juga akan menyimpan bagian tertentu untuk dirinya sendiri.

6. Al-Syaddaqah
والشداقة المتشدقة الكثيرة الكلام ومنه قَوْلَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ تعالى يبغض الثرثارين المتشدقين
Al-Syaddaqah adalah perempuan yang banyak berbicara, melebihi kadar keperluan lebih-lebih berbicara hal yang tidak penting. Suka mengupat siapa saja bahkan suaminya sendiri. Sebagaimana sabda Nabi saw, bahawa Allah murka kepada wanita yang banyak bicara hal yang tidak penting. Wallahua'lam.


Referensi: Ihya Ulumiddin juz 2 hal 61 cet I maktabah mesir tahun 2013