Sabtu, 21 Maret 2020

MUSIBAH DUNIA PASTI BERLALU




Ketahuilah bahwa musibah dunia pasti berlalu. Karena dunia bukan negeri balasan. Dunia adalah negeri amal. Namun terkadang Allah memberikan balasan hanya sebatas untuk peringatan dan penggugur dosa-dosa. Maka dari itulah tidak ada sejarahnya bencana terus-menerus mendera. Dia akan selalu berlalu, berlalu, berlalu.

Berbeda dengan negeri akhirat. Negeri akhirat disebut dengan darul jaza (negeri balasan). Maka di akhirat, orang yang beriman dibalas dengan surga dan akan senang terus-menerus. Orang yang tidak beriman akan dibalas dengan neraka dan akan menderita terus-menerus tidak ada habis-habisnya.

Bencana atau musibah itu terkadang menjadi nikmat dan terkadang menjadi adzab. Kapan menjadi nikmat ? Yaitu apabila dengan bencana itu kita menjadi orang yang sadar dan kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sehingga kita menjadi orang yang lebih bertakwa kepada Allah, lebih semangat menjalankan perintah-perintah Allah, lebih semangat meninggalkan larangan-larangan Allah.

Maka kalau ternyata musibah menjadikan kita lebih baik, berarti itu nikmat dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Bagi orang beriman, dia selalu mengambil pelajaran dari setiap musibah yang menimpa. Sedangkan orang yang kurang beriman, dia akan selalu berburuk sangka kepada Allah dari setiap musibah yang menimpa.

#semoga bermanfaat.

Jumat, 20 Maret 2020

ALLAH MENJAMIN KEAMANAN DALAM MASJID



MARI KITA BERLINDUNG KE MASJID DENGAN MEMPERBANYAK IBADAH, ZIKIR, DAN TOBAT KEPADA ALLAH SWT


Dari Anas bin Malik رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى إِذَا أَنْزَلَ عَاهَةً مِنَ السَّمَاءِ عَلَى أَهْلِ الأرْضِ صُرِفَتْ عَنْ عُمَّارِ الْمَسَاجِدِ.

Sesungguhnya apabila Allah ta'ala menurunkan penyakit dari langit kepada penduduk bumi maka Allah menjauhkan penyakit itu dari orang-orang yang meramaikan masjid.

Hadits riwayat Ibnu Asakir (juz 17 hlm 11) dan Ibnu Adi (juz 3 hlm 232).

Dari Anas bin Malik رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذا أرَادَ الله بِقَوْمٍ عاهةً نَظَرَ إِلَى أهْلِ المَساجِدِ فَصَرَفَ عَنْهُمْ

Apabila Allah menghendaki penyakit pada suatu kaum, maka Allah melihat ahli masjid, lalu menjauhkan penyakit itu dari mereka.

Riwayat Ibnu Adi (juz 3 hlm 233); al-Dailami (al-Ghumari, al-Mudawi juz 1 hlm 292 [220]); Abu Nu'aim dalam Akhbar Ashbihan (juz 1 hlm 159); dan al-Daraquthni dalam al-Afrad (Tafsir Ibn Katsir juz 2 hlm 341).

Sahabat Anas bin Malik رضي الله عنه berkata: "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: " إِنِّي لَأَهُمُّ بِأَهْلِ الْأَرْضِ عَذَابًا فَإِذَا نَظَرْتُ إِلَى عُمَّارِ بُيُوتِي والْمُتَحَابِّينَ فِيَّ والْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ صَرَفْتُ عَنْهُمْ "

Allah عز وجل berfirman: "Sesungguhnya Aku bermaksud menurunkan azab kepada penduduk bumi, maka apabila Aku melihat orang-orang yang meramaikan rumah-rumah-Ku, yang saling mencintai karena Aku, dan orang-orang yang memohon ampunan pada waktu sahur, maka Aku jauhkan azab itu dari mereka.

Riwayat al-Baihaqi, Syu'ab al-Iman [2946].

Sahabat Anas bin Malik رضي الله عنه berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

"إِذَا عَاهَةٌ مِنَ السَّمَاءِ أُنْزِلَتْ صُرِفَتْ عَنْ عُمَّارِ الْمَسَاجِدِ"

Apabila penyakit diturunkan dari langit, maka dijauhkan dari orang-orang yang meramaikan masjid.

Riwayat al-Baihaqi, Syu'ab al-Iman [2947]; dan Ibnu Adi (juz 3 hlm 232). Al-Baihaqi berkata: "Beberapa jalur dari Anas bin Malik dalam arti yang sama, apabila digabung, maka memberikan kekuatan (untuk diamalkan)".

Al-Imam al-Sya'bi, ulama salaf dari generasi tabi'in, رحمه الله تعالى berkata:

"كَانُوا إِذَا فَرَغُوا مِنْ شَيْءٍ أَتَوُا الْمَسَاجِدَ "

Mereka (para sahabat) apabila ketakutan tentang sesuatu, maka mendatangi masjid.

Al-Baihaqi, Syu'ab al-Iman (juz 3 hlm 84 [2951]).

Beberapa riwayat di atas mengantarkan pada kesimpulan, bahwa dalam situasi wabah dan virus yang mengancam masyarakat ini, umat Islam dianjurkan semakin rajin ke masjid. Bukan meninggalkan masjid. Kecuali bagi orang yang terkena penyakit menular. Maka tidak boleh ke masjid.


Sekian dan demikian semoga bermanfaat !

Senin, 09 Maret 2020

KEWAJIBAN MEMPELAJARI ILMU AGAMA



KEWAJIBAN MEMPELAJARI ILMU AGAMA YAITU  ILMU FARDHU 'AIN

FARDHU 'AIN adalah, (fardhu) wajib dan (ain) individu.

Bermakna ilmu fardhu ain hukumnya WAJIB dipelajari oleh setiap manusia, hukum tidak mempelajarinya adalah DOSA BESAR kata ulama.

Apakah ilmu FARDHU 'AIN?
Ilmu fardhu 'ain terbagi kepada tiga macam yaitu:

1. Ilmu Aqidah/ Ilmu Tauhid/ Ilmu Usuluddin.
2. Ilmu Fiqih / Ilmu Syariat
3. Tasawwuf / Akhlak


~Maksud AQIDAH adalah pegangan, keyakinan ataupun iktiqad seorang islam yang mengaku beriman.

Adapun pegangan umat Islam adalah pegangan Ahlus Sunnah Wal Jamaah (ASWAJA) yang berlandaskan dua ulama yaitu Imam Abu Hassan 'Ali Asy'ari dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi.

Ilmu AQIDAH menjelaskan tentang sifat-sifat Allah dan sifat-sifat Nabi dan ia membicarakan tentang pegangan, asas/kepercayaan umat Islam.


~Ilmu FIQIH terbagi kepada Empat yaitu:

1. Ibadah (shalat, haji, zakat dll)
2. Muamalat (ekonomi, jual beli, riba)
3. Jinayah (Hudud, qisas, ta'zir)
4. Munakahat (rumahtangga, perkahwinan)


~Ilmu TASAWWUF terbagi kepada Empat yaitu:

1. Kewajiban Hati (Ridha,ikhlas,dll)
2. Maksiat anggota badan (tangan, kaki, mata, mulut,dll)
3. Taubat/ Rukun taubat
4. Maksiat Hati (riya', ujub, takkabur,dll)

Maka kesemua ilmu diatas ini adalah ilmu yang PALING WAJIB dipelajari oleh setiap individu Islam.

Ketiga-tiga ilmu AQIDAH, FIKIH dan TASAWWUF adalah wajib belajar namun paling wajib adalah ilmu AQIDAH.

Berdasarkan Hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah:
"Kami bersama Nabi Muhammad sallallahu'alaihi wassalam.
Ketika kami kecil, kami mempelajari al-iman (Aqidah) dahulu sebelum kami mempelajari Al-Quran, kemudian selepas kami mempelajari Al-Quran, maka bertambah-tambah iman kami" 
(HR Ibnu Majah)

Inilah dalil bahwa dalam Ilmu Fardhu ain, ilmu Aqidah adalah paling utama dan paling wajib di dalam wajib.


Di dalam hidup ini, seandainya kita tidak bisa bahasa Inggris  maka tidak berdosa, tapi kalau tidak bisa ilmu fardhu 'ain, seperti tidak bisa shalat, tidak paham Aqidah maka kita akan berdosa.
Maka sehebat apapun gelar seseorang di dunia, jika dia tidak belajar ilmu agama maka dia masih berdosa, walaupun dia seorang pejabat, dokter, orang kaya, dan lain sebagainya.



Demikian semoga bermanfaat.