Minggu, 05 April 2020

Pemaaf jalan menuju Syurga, BELAJARLAH MEMAAFKAN !


Sepertinya mudah diucapkan tetapi tidak semua orang mampu melakukannya dengan ikhlas. Memang, melupakan sekaligus memaafkan kesalahan orang lain termasuk perbuatan yang sangat berat, seolah-olah pekerjaan memindahkan sebuah gunung dan bukit, apalagi luka yang mereka ukir di dalam sanubari kita begitu dalam dan lebar.

Namun kita tetap dituntut untuk memaafkannya, lebih-lebih lagi ketika orang tersebut telah meminta maaf kepada kita .
Mengapa demikian?  Bukankah kita ketika berbuat salah juga ingin dimaafkan ?
Nah. kerana itu maafkanlah dia.

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda :

“Barangsiapa yang didatangi saudaranya yang hendak meminta maaf, hendaklah ia memaafkannya, apakah ia berada dipihak yang benar ataukah yang salah, apabila tidak melakukan hal tersebut (memaafkan), niscaya mereka tidak akan mendatangi telagaku (di akhirat) (HR Al-Hakim)

“Barangsiapa memaafkan saat dia mampu membalas maka Allah memberinya maaf pada hari kesulitan (HR Ath-Thabrani)

Memaafkan orang yang bersalah memanglah tidak mudah, tetapi lebih tidak berguna menyimpan kebencian di dalam diri kita. Memaafkan seseorang bukan sebab dia yang salah kita yang benar, tapi kerana kita berhak mendapat kedamaian di dalam hati.

Baca juga : Keutamaan Sabar

Kita jadilah orang baik, biarpun orang lain menganggap kita terlalu mudah dibodohi. Tapi percayalah. orang-orang yang membodohi orang lain itulah yang membodohi dirinya sendiri. Orang yang sedang dikuasai emosi negatif biasanya merasa dirinya saja yang betul 100%.

Orang yang hebat, dia akan memaafkan orang lain tanpa dipinta, dan meminta maaf walaupun tidak berbuat salah. Kalau kita menolak memaafkan, kita sendiri yang menderita. Biasanya orang yang bersalah tetap dengan gembira menjalani hidup, sedangkan kita menerima penderitaan batin yang berat. Maka, memaafkan adalah balasan terbaik untuk orang yang menyakiti kita.

Bahkan, orang yang mulia adalah yang mau meminta maaf ketika bersalah, tetapi lebih mulia lagi orang yang mau memaafkan kesalahan orang lain, walaupun dia belum meminta maaf.
Semoga Allah limpahkan pahala yang besar bagi orang-orang yang pemaaf, suka memaafkan kesalahan orang lain.


Rasululllah SAW bersabda,

ثَلَاثٌ أُقْسِمُ عَلَيْهِنَّ مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْداً بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ

Ada tiga golongan yang berani bersumpah untuknya, tidaklah berkurang harta karena shadaqah, dan tidaklah menambah bagi seorang pemaaf melainkan kemuliaan, dan tidaklah seseorang bertawadhu’ (rendah hati) melainkan akan diangkat derajatnya oleh Allah Subhanahu Wata’ala.” (HR.Tirmidzi)

Rasulullah juga menjelaskan bahwa balasan bagi orang yang memaafkan kesalahan orang lain adalah Surga.

Beliau bersabda dalam hadits Ibnu Abbas;

إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ يُنَادِي مُنَادٍ فَيَقُولُ : أَيْنَ الْعَافُونَ عَنِ النَّاسِ ؟ هَلُمُّوا إِلَى رَبِّكُمْ خُذُوا أُجُورَكُمْ ، وَحَقَّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ إِذَا عَفَا أَنْ يُدْخِلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ ” .

Kelak pada hari kiamat, ada pemanggil yang menyeru, “Dimanakah orang-orang yang memaafkan orang lain? Kemarilah kepada Rabb kalian dan ambillah pahala kalian!” Dan wajib bagi setiap muslim bila suka memaafkan maka Allah masukkan dia ke dalam Surganya.”


Islam mengajarkan pada umatnya bahwa memberi maaf tak menunjukkan seseorang itu lemah karena tidak mampu membalas. Sebab memaafkan orang lain terutama seseorang mampu membalas merupakan kemuliaan karena ia belajar dari sifat-sifat Allah, yaitu Al-‘Afuwwu Al-Qoodiru (Yang Maha Memaafkan dan Maha Berkuasa).

Janji Allah, siapa yang memaafkan disaat dia mampu membalas, ia akan meraih Surga Allah.

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُشْرَفَ لَهُ الْبُنْيَانُ ، وَتُرْفَعَ لَهُ الدَّرَجَاتُ فَلْيَعْفُ عَمَّنْ ظَلَمَهُ ، وَلْيُعْطِ مَنْ حَرَمَهُ ، وَلْيَصِلْ مَنْ قَطَعَهُ

“Barangsiapa yang ingin dibangunkan baginya bangnan di Surga, hendaknya ia memafkan orang yang mendzaliminya, memberi orang yang bakhil padanya dan menyambung silaturahmi kepada orang yang memutuskannya.” (HR. Thabrani).


Semoga bermanfaat !

"Hamzah"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar